The Conjuring (2013): Box Office of Terror

James Wan menghadirkan lagi horror tradisionalnya (persilangan film horror Barat dengan gaya Asia) lewat film terbarunya, The Conjuring. Setelah sebelumnya ia memanifestasikan pemikiran “terror”-nya lewat Saw dan the so-called Insidious, ia kembali lagi dengan formula standarnya namun dengan pendekatan yang berbeda: Sebuah horror modern dengan sentuhan vintage yang menegangkan. Continue reading “The Conjuring (2013): Box Office of Terror”

Advertisements

The Wolverine (2013): A Greeting “Spine-Off”

The Wolverine, IMHO, bisa menjadi film yang berpotensi besar memisahkan penontonnya menjadi “sangat benci” dan “suka” (cukup suka, not too much). Para penonton awam akan merasa tidak ada yang salah dengan film ini, sementara mereka yang sudah menyaksikan  5 film X-Men sebelumnya akan menganggap The Wolverine sebagai spine-off kecil dengan bonus besar. Jadi, review ini akan saya netralkan dengan opini pribadi saya saja. Continue reading “The Wolverine (2013): A Greeting “Spine-Off””

2013: Best of the First Half

Semester pertama tahun 2013 sudah berlalu, hampir 3 minggu lalu. Selama rentang waktu itu beberapa film telah rilis dan memberikan ‘cap’ bahwa babak pertama 2013 ini didominasi oleh film yang angin-anginan. But, even so, masih ada film-film segar yang menurut saya pantas menjadi best movie of 2013, semester pertama.

(Subyektif? Memang inilah list subyektif) Continue reading “2013: Best of the First Half”

PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!

Guillermo del Toro membawa pulang pattern-nya membawa makhluk-makhluk cutting edge ke dalam filmnya (setelah absen di Mama, of course). Kalau dulu di franchise Hellboy serta Blade, Del Toro membuat makhluk-makhluk komikal, lalu di Pan’s Labirynth, membawa makhluk mitologi, kini ia membawa sesuatu yang lebih besar (in an excessive way, of course): monster-monster reptil raksasa melawan robot-robot raksasa (yang lebih raksasa daripada franchise Transformers). Bagi mereka yang sejak kecil dijejali dengan pertempuran mecha melawan gojira dan variannya, Pacific Rim menjadi perwujudan fantasi mereka dengan tense yang lebih maksimal. (Yakinlah, sebrutal apapun monster dalam dunia animasi, maupun tokusatsu, ancaman mereka tidak akan menghadirkan goosebump semengerikan “apocalypse!”) Continue reading “PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!”

PIG (2011): Lo-Fi, Sci-Fi, Mind-blowing B++

PigSinekdoks

Seorang pria berpakaian pantai terbangun di sebuah gurun dengan kepala yang ditutup karung, dan tangan diikat (a la The Raid). Pria ini (yang di credit disebut The Man, diperankan oleh Rudolf Martin) ini berjalan keliling gurun untuk melepaskan diri dari belenggu dengan tanpa ingatan apapun serta tanpa clue apapun, kecuali secarik kertas bertuliskan “Manny Elder”. Saat sudah sekarat, ia diketemukan oleh seorang perempuan bernama Isabelle yang merawatnya, hingga ia siap bertualang mengelilingi sisi lain Los Angeles untuk mencari identitasnya yang sebenarnya. Apakah ia Manny Elder? Atau Manny Elder adalah musuhnya? Continue reading “PIG (2011): Lo-Fi, Sci-Fi, Mind-blowing B++”

INK (2009): New Dream Experience You May Not Experience Before

Ink (film indie yang disutradarai oleh Jamie Winans), adalah sebuah fairytale modern, yang keluar dari pattern fairytale. Cerita dan visualisasinya gelap, teknik pengambilan gambarnya pun terlalu tajam, dikemas dengan budget minimalis. Jika Anda kehabisan film box office untuk ditonton, mungkin Ink bisa menjadi solusi untuk memuaskan “movielust” Anda. Bukan dengan segala macam tittle-tattle yang disuguhkan film box office, namun dengan premis dan plot serta pace cerita indie, yang memang kurang menjual, tapi cukup segar. Continue reading “INK (2009): New Dream Experience You May Not Experience Before”