Mengikuti prekuelnya The Raid: Redemption alias Serbuan Maut, The Raid 2: Berandal segera menahbiskan diri sebagai sekuel yang menakjubkan sekaligus expansion yang lebih kompleks atas pendahulunya. Dengan durasi yang satu jam lebih panjang, film ini tidak hanya menambahkan porsi drama yang pas tapi sekaligus melipatgandakan adegan aksinya yang meledak-ledak untuk membangun plot. Bagi penonton yang benci film aksi—film ini bagaikan neraka; tapi, bagi sisanya—film ini adalah surganya set piece aksi yang realistis.

Film ini dimulai dengan sebuah pembunuhan ikonis yang seolah sengaja mereset perspektif penonton akan film pertamanya—anggap saja semacam clean slate. Kemudian dilanjutkan dengan adegan Rama (Iko Uwais) bertemu Bunawar (Cok Simbara)—pemimpin skuad khusus anti-korupsi yang dimaksud abangnya di The Raid pertama. Bunawar menjelaskan pada Rama bahwa Tama—villain di film pertama—hanyalah penjahatan rendahan, ia pun meminta Rama bergabung dengan pasukan rahasianya untuk meringkus para penjahat kelas atas sekaligus para polisi korup yang bekerja sama dengan mereka.

Skema ini mengharuskan Rama untuk menyamar dengan identitas baru untuk kemudian dipenjarakan—dengan tujuan ia bisa mendekati Uco (Arifin Putra), putra Bangun (Tio Pakusadewo)–seorang bos mafia lokal. Dengan cepat, Rama berhasil menarik perhatian Uco setelah melalui beberapa kerusuhan di penjara—termasuk perkelahian di lumpur (yang ternyata lebih dahsyat daripada yang nampak di trailer). Selepasnya dari penjara, Uco memperkenalkan Rama pada Bangun yang akhirnya menawarinya pekerjaan sebagai centengnya.

Akhirnya terungkaplah bahwa separuh dari kota telah dikuasai Bangun dan separuhnya dikuasai Yakuza Jepang yang dipimpin Goto (Kenichi Endo). Keadaan memburuk ketika pimpinan gangster baru Bejo (Alex Abbad) muncul untuk merusak gencatan senjata antara Bangun dan Goto yang sudah berlangsung selama 10 tahun—untuk memenuhi ambisinya sendiri. Dengan memanfaatkan ambisi Uco serta kekecewaannya akan ayahnya sendiri, Bejo benar-benar membuat masalah besar. Ketika perang antar gangster mafia tak terelakkan, Rama terseret ke pusat pusaran konflik ini; dan ia pun terpaksa mengaburkan batas-batas antara yang baik dan buruk.

Berbeda dengan pendahulunya yang berplot lurus, sekuel ini lebih kompleks dan rumit. Bahkan beberapa kali sempat hilang fokus—di awal film, semuanya terasa sedikit talkie kemudian memasuki babak kedua segala konflik segera diekspos, namun di babak terakhir beberapa konflik dibiarkan menggantung. Di beberapa bagian, The Raid 2 memang terlihat seperti peranakan The Godfather dengan Internal Affairs (yang diadaptasi menjadi The Departed oleh Scorsese)—yang melibatkan drama mafia dan dilema seorang polisi baik dan polisi buruk—dengan sentuhan aksi yang lebih artistik dan membuat nyeri. Plotnya bahkan dibangun dengan kisah yang berlapis; namun, kisah yang berlapis ini justru dibangun oleh sentuhan aksinya yang mendikte jalan cerita—membuktikan bahwa Gareth Evans adalah seorang jenius

Adegan aksi dengan koreografi yang anggun sukses menyusun cerita dan hebatnya tak ada satu pun adegan aksinya yang hambar. Sebagai film ultraviolent, The Raid 2 sudah melampaui The Raid: Redemption sekaligus membuat standar tinggi untuk film aksi yang mungkin akan susah diikuti: lihat saja—pertarungan di toilet, lapangan lumpur di penjara, pembantaian di kereta, pertarungan di salju (WTF! ada salju di Jakarta—meskipun nampaknya ini hanya delusi salah satu karakter saja), kejar-kejaran mobil, serbuan maut, dan yang lain—semuanya sangat orisinal dan terlalu brutal untuk diabaikan.

Saya sendiri sangat mengagumi production design, sinematografi, costume design dan scoring film ini yang berhasil menghadirkan Jakarta yang bukan Jakarta secara realistis sekaligus menghidupkan atmosfer film ini dengan baik. The Raid 2 juga menampilkan banyak wajah baru—sangat beresiko namun sangat mengagumkan. Beberapa karakter terlihat komikal, namun they got their own swagger. Lihat saja Alicia alias Hammer Girl (Julie Estelle), saudaranya Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), dan The Assassin (Cecep Arif Rahman–yang melampaui kejamnya tokoh Mad Dog di film pertama) dari klan Bejo; Prakoso (Yayan Ruhian), yang eksentrik dengan family issue-nya serta Eka (Oka Antara), consigliere flamboyan Bangun yang membawa kisah The Raid 2 ke ranah twist, dari klan Bangun; serta trio pimpinan Keluarga Goto yang sayangnya jarang muncul di layar. Terlihat jelas ada peningkatan yang nyata di departemen aktingnya—memenuhi kritik di film pertamanya—ditambah dialog yang tidak se-cheesy film pertamanya; terlebih, kita bisa lihat deretan pemeran tua-muda yang merupakan all-star persinemaan Indonesia.

Hanya orang yang belum pernah melihat darah yang menganggap film ini tidak realistis—setidaknya di departemen aksinya. Saya tidak bermaksud hiperbola atau bersikap terlalu nasionalis, tapi bagi saya, The Raid 2 adalah film bela diri paling kompleks dan mengagumkan yang pernah dibuat—salah satu masterpiece perfilman Indonesia yang akan mengubah perspektif orang terhadap film Indonesia.

TRIVIA: Cecep Arif Rahman, pemeran The Assassin, adalah seorang guru Bahasa Inggris. Anak muridnya pasti lancar berbahasa Inggris setelah menyaksikan The Raid 2 (Luckily! Murid-muridnya belum “Dewasa” untuk menyaksikannya).

TRIVIA: Very Tri Yulisman (Baseball Bat Man) juga muncul dalam The Raid: Redemption; kita bisa melihatnya bertarung di adegan Drug Lab. Di The Raid 2, dia hanya diplot sebagai pelatih fisik Julie Estelle (Hammer Girl); namun, setelah melihat chemistry mereka, sutradara Gareth Evans memutuskan untuk memberinya peran Baseball Bat Man, saudara kandung Hammer Girl.

TRIVIA: Rama (diperankan oleh Iko Uwais) diberi identitas baru sebelum terjun ke dalam misi undercover. Nama barunya adalah Yuda—yang juga adalah nama karakter yang diperankan Iko Uwais di Merantau (2009)

4 Comments

The Raid 2: Berandal (2014)

Leave a Reply