Lucy (2014) x Hercules (2014) – Double Review

LucyxHercules

READ THIS REVIEW IN:

 ENG IDN


Lucy (2014)

Sutradara action asal Perancis, Luc Besson, akhirnya bereuni dengan kecintaannya pada para femme fatale setelah beberapa film sebelumnya yang kental testosteronnya. Film terbarunya, Lucy, menambah daftar panjang line-up she-devil-nya. Lucy (Scarlett Johansson) nampaknya sangat tipikal menjadi wanita pilihan Besson; tapi ia berbeda dari yang lain karena ia bisa memaksimalkan 100% kapasitas otaknya. Mau tidak mau, premis seperti itumengingatkan kita pada Limitless dari Neil Burger. Tapi, tunggu dulu; ini filmnya Luc Besson dan kita tahu pasti aturannya.

Lucy (Morgan Freeman and Scarlett Johansson)

Plotnya sederhana: akibat overdosis drugs jenis baru CPH4, Lucy menjadi maha kuat dan ia pun menuntut balas atas apa yang dialaminya. Sesederhana itu, namun Besson memolesnya dengan energi gila-gilaan yang ditumpahkan lewat action set-piece yang berusaha menjembatani kegilaan Hollywood dan genre gangster Asia; menjadikannya kombinasi action, sci-fi serta filosofi yang gila-gilaan. Tak perlu khawatir soal kapasitas otak 100%-nya, Besson cuma menjadikannya gimmick dan ia membuat hal ini udah dimengerti lewat narasi Morgan Freeman di layar. Nampaknya Besson mencomba menyederhanakan kadar “sci-fi” film ini agar penonton tidak terlalu berpikir lalu melupakan esensi dari Lucy.

Inti dari Lucy sendiri bukannya tentang “kapasitas otak” atau filosofi indah tentang alam semesta yang agak Kubrickian/Malickian. Lucy adalah sebuah roller coaster action yang memakai sci-fi serta filosofi sebagai dinamonya. Percayalah… sejak Nikita, Joan of Arc, The Fifth Element, sampai Leon—tak pernah sekalipun Besson gagal mencampur aduk formula aksinya untuk sekedar menjadi tontonan pemacu adrenalin. Ketika ia memberi tumpangan bagi Scar-Jo di jet actionnya, ia tahu pasti kapasitas Scar-Jo.



Hercules (2014)

Sebelum Hercules versi Ratner, di awal tahun ini sudah ada Hercules versi Harlin yang akhirnya menjadi ‘megaflop‘ tahun ini. Tak diragukan lagi, kolaborasi Ratner dengan Dwayne “The Rock” Johnson ini—lengkap dengan otot, aksi, pasukan dan Hercules yang lebih besar—adalah hantaman People’s Elbow yang keras untuk Herculesnya Harlin-Lutz.

Hercules.Sin.2

Hercules yang diperankan The Rock adalah tokoh yang tanpa basa-basi; setelah menyelesaikan tugas legendarisnya, Hercules segera dipanggil ke Thrace oleh Cotys (John Hurt) untuk memerangi Rhesus dan pasukan barbarnya. Adegan aksinya pun tanpa basa-basi seperti plotnya namun justru terkesan elegan. Saat film colossal action lainnya pasca-300 memilih untuk mengcopy adegan perang slo-mo/fast-mo-nya, Hercules malah memakai cara yang lebih tradisional dan lebih praktikal. Sebagian besar aksinya disyut saat matahari sedang terik-teriknya, membuat kulit sang demi-god menjadi berkilauan (karena keringat, bukan karena dia vampir); dan bukannya disyut di padang green screen yang gelap. Puncaknya, para action aficionados bisa berpuas diri menyaksikan The Rock menikmati setiap smack-and-bash actionnya yang jadi “Rock Bottom“-nya film ini.

Film kedua Hercules tahun ini memang bukan film yang ‘Wah’, tapi film ini cukup punya ‘otak’ jika dibandingkan dengan film aksi pengumbar ledakan tahun ini. Tapi yang jelas, Hercules yang ini sukses meng-KO Hercules yang sebelumnya dalam Battle of Hercules tahun ini.

Advertisements

Author: Paskalis Damar AK

A Bali-based blogger. A cinema loner and self-claimed movie fan since 2013. Public Relation in non-cinematic world. bit.ly/1iSSB2Q

3 thoughts on “Lucy (2014) x Hercules (2014) – Double Review”

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s