Jason Bourne (2016): “Legacy” trilogi Bourne yang urung move on

Review Jason BourneYou know his name, menurut tagline-nya. In fact, kita sudah kenal Jason Bourne lewat trilogi dan legacy-nya. Bukan Bourne Legacy, tapi legacy-nya bagi action-thriller modern dengan intensitasnya—perpaduan sekuens aksi yang kilat, teknik editing hip-hop montage serta shaky cam-nya. Tak hanya merestorasi tropes action-thriller, Bourne juga sukses menegaskan diri sebagai salah satu trilogi paling esensial abad ini.

Tentu saja ketika sutradara Supremacy dan Ultimatum, Paul Greengrass menyatakan reuninya dengan Matt Damon untuk kelanjutan kisah Bourne, ekspektasi membumbung tinggi. Meskipun sejatinya kisah pengungkapan jati diri Bourne telah mencapai klimaksnya dengan berakhirnya Ultimatum, tapi toh Jason Bourne masih ingin menggali masa lalu Bourne sedikit lebih jauh. Continue reading Jason Bourne (2016): “Legacy” trilogi Bourne yang urung move on

Advertisements

Ghostbusters (2016) – Review

Review: Being lambasted with slimy, cynical criticism even ways before its official release might be a notorious achievement Ghostbusters reboot must atone. It all centers in Paul Feig’s decision to cast an all-female team as the new ghostbusters. Flood of sexist mockeries and Youtube dislikes crowned it as the most hated pre-screened film.

Yet, rest assured, those cynical quips do not rightfully judge the ‘actual film’ at last; at least, majority of it isn’t right. Ghostbusters still manages to be a fun, exciting and hilarious film, although it doesn’t reflect Feig’s best performance.

Ironically, those all-female ghostbusters – Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, and Leslie Jones – are the best ammo Ghostbusters has, aside from Paul Feig’s expertise in crafting PG-13 humors (which almost always tip R-rating) under this most famous ghost hunter’s scheme. Continue reading Ghostbusters (2016) – Review

Star Trek Beyond (2016) – Review

As the thirteenth release of big-screened Star Trek franchise, disguising as third film of J.J. Abrams’ alternate timeline, Star Trek Beyond feels utterly special since it also celebrates the franchise’s 50th anniversary. It’s Abrams-less; but it has all the reasons to deserve more attentions.

Abrams’ absence from the directorial cockpit to helm another Star franchise indeed caused rifts and doubts. Moreover, the caretaker, Justin Lin – whose recent portfolio is three of the last 4 Fast & Furious films – has a penchant of brainless, explosion-laden action and over-the-top car-nage. Pre-released verdict all clinches to blame those ‘empty’ action-heads would wipe off Star Trek’s traditional philosophy and formality, which Abrams has brought back.

However, majority of those presumptuous verdict fall shorts when Justin Lin finally proves that he’s the fittest caretaker for Star Trek Beyond. His expertise in crafting summer blockbuster vibes with lots of ‘team as a family’ boast has been an F&F regular basis. His tenure with large ensemble of casts has also proven to be helpful. After all, isn’t Star Trek always about that similar thing, too? Continue reading Star Trek Beyond (2016) – Review

Ghostbusters (2016): Gender-reversed reboot yang tetap seru dan slimy

Review Ghostbusters:  Belum juga rilis, reboot Ghostbusters sudah dihujani lendir nyinyiran dahsyat dari netizen. Sumber utamanya adalah keputusan Paul Feig meng-cast 4 pemeran utama perempuan sebagai tim Ghostbusters-nya. Sindiran bernada sexist dan banjiran dislikes sukses membuat reboot ini most hated pre-screened film. Tapi, rest assured, sindiran sinis itu tak benar-benar terbukti; Ghostbusters justru menjadi film yang fun, seru dan cukup lucu, meskipun belum mencapai keseruan film-film Feig lainnya.

Ironisnya, justru para ghostbusters perempuan – Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, dan Leslie Jones – inilah yang menjadi bagian terbaik Ghostbusters, selain kepiawaian Paul Feig mengkreasi humor-humor PG-13 (yang nyaris berasa R) dalam menghadirkan kisah tim pemburu hantu paling terkenal ini. Continue reading Ghostbusters (2016): Gender-reversed reboot yang tetap seru dan slimy

Star Trek Beyond (2016): Jembatan versi Abrams dengan versi original

Star Trek Beyond ­sebagai rilisan ketigabelas saga layar lebar Star Trek alias film ketiga versi alternate timeline yang digagas J.J. Abrams terasa sangat spesial, karena film ini sekaligus juga merayakan setengah abad-nya franchise Star Trek. Banyak faktor yang menjadikannya salah satu film Star Trek yang pantas disimak.

Cabutnya J.J. Abrams dari Star Trek Beyond untuk menukangi franchise ‘Star’ lainnya memang awalnya memunculkan banyak keraguan. Apalagi menimbang penggantinya, Justin Lin, yang portfolio-nya belakangan ini dipenuhi ledakan dan aksi over-the-top plus car-nage tanpa henti lewat franchise Fast & Furious. Verdict awal pun bermunculan menuduh adegan aksi ‘kosong’ akan menghilangkan sisi filosofis dan formal franchise Star Trek yang sukses ditata ulang oleh Abrams.

Namun, sebagian dari verdict awal tersebut ternyata salah; Justin Lin adalah sutradara yang paling tepat untuk Star Trek Beyond. Keahliannya untuk menghadirkan semangat summer blockbuster dengan cerita yang berpusat pada tim berlabel “keluarga” sudah terbukti di Fast & Furious. Pola kerjanya dengan ensemble of cast yang besar juga sudah terbukti di franchise yang sama. After all, isn’t Star Trek always about that, too? Continue reading Star Trek Beyond (2016): Jembatan versi Abrams dengan versi original

Green Room (2016): Arti Punk’s not Dead yang harafiah

Lewat film thriller low-budgetnya yang ultra-violent, Blue Ruin (2014), penulis sekaligus sutradara Jeremy Saulnier sukses memproyeksikan diri sebagai bapaknya thriller dengan protagonis yang payah. Kalau Blue Ruin adalah kisah balas dendam dengan balutan black comedy yang sangat kental; Green Room adalah definisi a la Saulnier untuk slogan ‘Punk’s not Dead’ secara literal.

Green Room berepisentrum pada Ain’t Right, band punk hardcore yang dimotori Pat (almarhum Anton Yelchin). Band kecil benyali besar ini tampil di sebuah klub terpencil, pusat skena neo nazi skinhead. Nyalinya cukup besar untuk mengcover “Nazi Punks Fuck Off”-nya Dead Kennedy sebelum mengajak penonton ber-moshing; namun, tak cukup besar untuk menghadapi insiden yang mengancam nyawa mereka—hanya karena mereka melihat hal yang tak seharusnya dilihat. Continue reading Green Room (2016): Arti Punk’s not Dead yang harafiah