It Comes at Night (2017) – Review

It Comes at Night (2017) Review | Image via themoviedb

Siapa sangka kalau It Comes at Night ternyata bukan film post-apocalyptic yang template? Bahkan, film ini juga bukan sembarang horror yang niat menakut-nakuti. Film kedua Trey Edward Shults ini mungkin memang terlihat seperti film survival a la 28 Days Later atau mungkin 10 Cloverfield Lane; apalagi dengan trailer-nya yang memperlihatkan setting kabin yang terkunci rapat serta poster-nya yang misterius. Tapi, ingat, ini bukanlah film seperti yang tersebut barusan.

It Comes at Night cenderung sering mengurung karakter utamanya—keluarga kecil beranggotakan Joel Edgerton sebagai ayah, Carmen Ejogo sebagai ibu, dan Kelvin Harrison Jr. sebagai anak­—di dalam kabin. Paling jauh, keluarga ini hanya diberi kelonggaran sampai halaman belakang yang berbatasan dengan hutan. Selebihnya, film ini hanya berkutat di situ-situ saja; akibatnya, lebih banyak pertanyaan ditimbulkan daripada jawaban. Tidak ada penjelasan mengenai apokalips apa yang terjadi. Tidak ada momentum meledak-ledak yang menjelaskan betapa berbahayanya dunia di luar kabin. Bahkan, tak ada sedikit pun penampakan ‘it’ yang konon hanya keluar saat malam, kalau menurut judul film ini.

It Comes at Night (2017) - Kelvin Harrison Jr. | Image via IMDb
It Comes at Night (2017) – Kelvin Harrison Jr. | Image via IMDb

Segala pertanyaan itu dibalut dan dipresentasikan sebagai sebuah thriller psikologis yang penuh batasan. ‘Ketidak tahuan’ penonton sekaligus karakter utama di filmnya dijadikan kunci dalam menghadirkan kesunyian yang menegangkan serta paranoia. Pendekatan yang serupa pernah dilakukan Shults dalam film psycho-giddy-nya, Krisha. Dalam film itu, ia bereksperimen dengan treatment creepy yang low-key untuk menghadirkan perasaan tidak nyaman dalam sebuah arisan keluarga. Narasinya tak pernah meletup-letup, tapi ketegangan dan perasaan tidak nyaman yang ditimbulkan terus terasa bahkan setelah filmnya berakhir.

Uniknya presentasi Krisha terjadi karena segala ketegangan itu dituangkan dalam ‘wadah yang salah.’ Sementara It Comes at Night adalah wadah yang sejatinya paling tepat untuk menghadirkan presentasi tersebut. Namun, Shults memilih untuk menghadirkan sesedikit mungkin kejadian dan membatasi diri untuk menghadirkan cengkeraman yang nyata. Hanya penampilan Edgerton yang restraint yang cukup membekas, terutama karena kemisteriusan karakternya yang janggal, yang menjembatani karakter John Goodman di 10 Cloverfield Lane dan Chiwetel Ejiofor di Z for Zachariah.

It Comes at Night (2017) – Joel Edgerton | Image via IMDb
It Comes at Night (2017) – Joel Edgerton | Image via IMDb

Thriller psikologis ini telah membuktikan keahlian sang sutradara dalam menghadirkan adegan yang menegangkan tanpa modal apapun. Shults mampu menghadirkan psycho-horror hanya dari hal-hal abstrak seperti ‘trust’ dan ‘perasaan terkungkung.’ Plotnya yang tipis dibuat seolah menyembunyikan berbagai misteri tanpa ada jawaban yang bisa diharapkan. It Comes at Night justru akan mengejutkan penonton dengan ‘kekosongan plotnya’ yang seolah mendewakan minimalisme dalam bercerita.

It Comes at Night (2017)

star3It Comes at Night (2017) Poster via themoviedb

Horror, Mystery, Thriller Sutradara & Penulis: Trey Edward Shults Pemeran: Joel EdgertonChristopher AbbottCarmen Ejogo Runtime: 91 mins Rated R

IMDb

Advertisements

Author: Paskalis Damar AK

A Bali-based blogger. A cinema loner and self-claimed movie fan since 2013. Public Relation in non-cinematic world. bit.ly/1iSSB2Q

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s