Ida (2014)

Ida is an original, riveting masterpiece from Pawel Pawlikowski. Composed in monochromatic colors with sorrowful post-war tone, Ida is not just a plain road film (and a part-time mumblecore); it’s a timeless and cinematic spiritual journey.

Ida adalah sebuah mahakarya orisinal yang memukau dari PawEl Pawlikowski—yang berlatar di Polandia pada tahun 60an. Dengan warna monokromatik dan tone pasca-perang yang memilukan, Ida bukanlah road film yang biasa-biasa saja (karena ada unsur mumblecore juga di dalamnya); ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang sinematis dan timeless.

Anna (Agata Trzebuchowska) adalah seorang gadis yatim pitau berusia 18 tahun yang dibesarkan di biara dan siap untuk berkaul dalam beberapa hari ke depan. Bagi Anna, yang telah menghabiskan hidupnya dalam gereja, hidup adalah persembahan bagi Tuhan. Namun, lompatan takdir akhirnya terjadi padanya saat suster kepalanya memintanya menemui satu-satunya kerabat Anna yang masih hidup, Wanda (Agata Kulesza)—mantan hakim yang hidupnya penuh rokok dan minuman keras. Secara mengejutkan, Wanda mengungkapkan bahwa nama asli Anna adalah Ida Lebenstain dan ia adalah seorang putri dari pasangan Jewish yang terbunuh saat Perang Dunia II.

Pengungkapan tersebut menuntun Anna alias Ida dan bibinya kembali ke sebuah desa yang konon adalah tempat orangtua Ida terbunuh. Saat mereka mulai menggali informasi tentang hal itu, rahasia-rahasia masa lalu mereka mulai terkuak dan mengancam jalan mereka di masa depan. Seketika, Ida menjadi sebuah film yang berusaha mengungkap masa lalu namun justru malah mempertanyakan esensi hidup masa kini secara cynical.

Ida sangat menarik secara visual. Difilmkan dengan aspect ratio vintage yang dipenuhi shot panjang dan keheningan yang profound—dialognya sangat sedikit namun sangat bermakna. Dalam dialog singkat, lines seperti Ida berkata “God is everywhere” atau Wanda bertanya pada Ida “Have you got sinful thoughtsโ€”about carnal love?” sudah berada jauh melebihi linguistik. Pawlikowski membuat semua dialog in line dengan plotnya. Selain itu, menempatkan Ida yang saleh bersama dengan Bibi Wanda yang sama sekali bertolak belakang adlaah bukti rapinya skrip Ida; thanks to Pawlikowski dan Rebecca Lenkiewics, hubungan quirky itu ada maknanya yang tergali dalam studi karakter yang kadang terasa pahit.

Film ini juga menampilkan secara gamblang kondisi Polandia pasca PDII, di mana atmosfer yang gelap dan menyedihkan terasa di mana-mana; menariknya, setiap shot statis di film ini mampu meng-capture atmosfer itu dengan vivid. Pada akhirnya, Ida menjadi sebuah refleksi dari negara yang mulai meragukan eksistensinya—diwakili oleh dua penduduk wanitanya yang juga meragukan hidup mereka masing-masing (kudos untuk kedua pemeran utamanya yang sangat habis-habisan). Pelajaran yang bsia kita petik: menyangkal apa yang kita percaya memang sulit, tapi ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar meragukannya. Ida dengan segala hal itu, mungkin menjadi salah satu film terbaik yang dimiliki Polandia, bukan hanya sekedar homage bagi masa lalu negara ini yang suram.

5 comments on “Ida (2014)

  1. She’s goddamn pretty without veil, ahahaha ๐Ÿ˜›

    One of the best casting in 2014, you can’t buy THAT black sharp (but full of questions in the same time) – eyes…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *