Category Archives: Review Bahasa Indonesia

Annabelle: Creation (2017) – Review

Review: Cast Lulu Wilson in a prequel to critically lambasted horror film and you might get a decent horror. That statement might sound silly, but if you look closely, there’s something virtuous to deduce that a ‘bad horror’ isn’t the end. Annabelle: Creation, an origin story to John Leonetti’s Conjuring spin-off, Annabelle (2014), along with Ouija: Origin of Evil—also casting Wilson, has proven that horror franchise might still have a second chance if done properly.

Creation goes further before the titular demonic doll came into The Warrens’ possession, even further before the haunting of The Forms. The title itself has pre-explained what this horror is about: the genesis on how a ‘seemingly lovable’ child-friendly (which I myself doubt) doll turns into an evil carrier. Question is: would knowing how things will turn out make this film scary-less or, say, obsolete?

annabelle-creation-04

READ MORE IN ENGLISH!

Advertisements

Valerian and the City of a Thousand Planets (2017) – Review

Review: After nearly two decades, Luc Besson finally materializes Valerian and the City of a Thousand Planets, a space adventure adapted from his childhood favorite comic ‘Valérian and Laureline’—which he’s been craving to make ever since The Fifth Element (1997).

With visual endeavors the size of Cameron’s Avatar and vibrant universe to rival Star Wars (if not Wachowskis’ Jupiter Ascending) also with largest budget in French cinema history, it is exactly the size of Besson’s ambition on full creative control mode. The result is an elegant (borderline to over-the-top) space odyssey if not a style-over-substance one by any measure. What Valerian doesn’t have is a compelling script to cover the whole duration.

valerian-01

CONTINUE READING IN ‘ENGLISH’

War for the Planet of the Apes (2017) – Review

Review: Let’s start with a little excerpt of what has gone so far in Planet of the Apes reboot universe. As you might have known (in fact, you’ll learn/re-learn about this in 3 opening minutes), simian flu has wiped most of the humanity, leaving few of them stranded on the planet that used to be theirs. Unbeknownst to them, the planet isn’t bound to them anymore. After the fall of men, the ‘Rise’ of apes is the next phase and the new ‘Dawn’ of civilization embarks.

War for the Planet of the Apes begins several years after the event in Dawn, where human wages war against apes. Human military led by The Colonel (Woody Harrelson) conducts man-hunt on ape leader, Caesar (Andy Serkis). The plan gone awry, but humanity has succeeded in killing Caesar’s family and the dream of reconciliation. This event scars the peaceful ape to the extent that he’s driven into waging his war against men, hence the title.war-for-the-planet-of-the-apes-02 (1) CONTINUE READING IN ‘ENGLISH’

What the Hell …oween! #4: The Sacrament (2013)

Tepat di malam Halloween, terbitlah pula post terakhir dari serial What the Hell …oween! A Collaborative Post persembahan sinekdoks dan hzboy a.k.a. Hestia ini. Masih dengan tema orang-orang yang jauh dari society, kali ini film yang diangkat adalah tentang sekte sesat. Familiar?

Film tentang sekte selalu memberi perasaan haunted yang menyebalkan. Bukan karena praktik sekte tersebut atau tentang brainwashing yang biasanya dilakukan, tapi karena ada perasaan tidak nyaman selalu muncul. Seri terakhir ini akan membahas sebuah film tentang sekte rahasia, The Sacrament — yang merupakan film Ti West paling “sopan” dan mainstream.

So, let’s check Hestia’s take for this! Continue reading What the Hell …oween! #4: The Sacrament (2013)

What the Hell …oween #3: We Are What We Are (2013)

Terlambat 3 hari dari deadline-nya, akhirnya post #3 dari serial What the Hell …oween! A Collaborative Post dari Sinekdoks dan Hzboy a.k.a. Hestia Istiviani ini akhirnya naik juga. Setelah mengulas dua film yang baru saja tayang di bioskop (Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children dan Blair Witch X The Blair Witch Project), di minggu ketiga ini, kami throw back ke beberapa tahun sebelumnya; kami mengulas We Are What We Are (2013), sebuah remake dari film Mexico berjudul sama.

Filmnya sendiri sebenarnya cukup menimbulkan buzz bagi para horror aficionado pada tahun 2013, namun skalanya yang kecil membuatnya mudah tertumpuk film-film lain di daftar must-watch, hingga kini ia tergali lagi. Filmnya sendiri cukup misterius, lihat saja posternya or judulnya. So, let’s see Hestia’s take. Continue reading What the Hell …oween #3: We Are What We Are (2013)

A Monster Calls (2016): Ode untuk yang telah tiada

Review: Sebelum A Monster Calls membuatmu merasa sentimental atau malah mengalami gegar emosi, mohon tahan dulu air mata bawangnya sebentar saja. Ketahuilah dahulu bahwa ini bukan sekedar disease-porn atau grief-porn yang cengeng. Namun, ini adalah sebuah kisah yang indah tentang penerimaan dan kebesaran hati untuk merelakan sesuatu. A Monster Calls digambarkan dengan visual yang menakjubkan dan narasi yang mendalam tentang seorang anak dalam mengatasi duka dan depresinya.

Datang dari visi sutradara Spanyol, Juan Antonio Bayona—pengarah The Orphanage yang indah dan The Impossible yang devastating—A Monster Calls adalah kombinasi kisah monster fantasi dan drama coming-of-age yang menyesakkan. Kisah ini berpusat pada seorang anak, actually “too old to be a kid, yet too young to be a man,” bernama Conr O’Malley (Lewis MacDougal). Dalam usianya yang masih sangat muda, ia memiliki hidup yang sangat tidak beruntung; ibunya (Felicity Jones) sakit keras; ayahnya (Toby Kebbell) sudah memiliki keluarga baru jauh di Amerika; teman-teman di sekolah membully-nya; dan bila keadaan memburuk, ia terpaksa harus tinggal bersama neneknya (Sigourney Weaver) yang sama sekali tak cocok dengannya. Tak ada jalan keluar bagi Conor dari kehidupan menyebalkan ini, sampai suatu monster raksasa mendatanginya di suatu malam. Continue reading A Monster Calls (2016): Ode untuk yang telah tiada