Spring Breakers (2012):Disney Girls Gone Bad!

Meskipun terlihat vulgar dan seronok dengan beach party dan bravura-nya, Spring Breakers bukanlah film “murahan” maupun komedi sensual yang memberi label buruk pada film-film coming of age. Dengan menampilkan dua mantan Disney princesses beserta teman-teman sexy-nya, ditambah aktor yang sedang naik daun, serta dibesut oleh sutradara film-film semi-arthouse macam Gummo dan Mister Lonely; Spring Breakers bukanlah sekedar film coming-of-age biasa– it’s a breaker for usual spring-break movies! Continue reading “Spring Breakers (2012):Disney Girls Gone Bad!”

Advertisements

The Hunt / Jagten (2012): The Lie is Spreading

Hidup adalah perburuan. Entah kita yang memburu, atau justru kita yang diburu. Mungkin itulah yang coba disampaikan Jagten, film berbahasa Denmark karya Thomas Vinterberg ini. Continue reading “The Hunt / Jagten (2012): The Lie is Spreading”

Elysium (2013): Definitely Blomkamp’s!

Di tahun 2009, Neill Blomkamp, sutradara asal Afrika Selatan menggambarkan diskriminasi rasial yang terjadi di negaranya dengan gimmick sci-fi alien dalam District 9; film yang akhirnya menjadi milestone bagi diirnya dan bagi perfilman sci-fi modern. Di 2013, Blomkamp kembali dengan budget yang lebih besar untuk menggambarkan masalah sosial lain dengan gimmick yang sama. Kini, ia menggambarkan kesenjangan sosial sekaligus permasalahan imigran gelap dalam Elysium. Continue reading “Elysium (2013): Definitely Blomkamp’s!”

Pieta / 피에타 (2012)

Kisah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya digambarkan dengan sangat indah sekaligus brutal dalam Pieta, film keluaran tahun 2012 karya sutradara eksentrik Korea, Kim Ki-duk. Sebuah penggambaran seni dalam balutan kisah keluarga sekaligus suspense khas Korea dengan sentuhan pembalasan dendam. Continue reading “Pieta / 피에타 (2012)”

Before Midnight (2013): A Concluding Conversation After 18 Years

Pada tahun 1995, seorang pemuda Amerika bertemu dengan seorang gadis Prancis di sebuah kereta menuju ke Austria. Jesse (Ethan Hawke), sang pemuda berhasil mengajak Celine (Julie Delpy), sang gadis untuk turun dan berbincang-bincang menghabiskan waktu; keduanya yang masih sangat naif dan penuh keoptimisan, saling jatuh cinta dan berjanji akan bertemu lagi di suatu saat seperti terangkum dengan jujur dan apa adanya di Before Sunrise.

Sembilan tahun kemudian, pada tahun 2004, Jesse yang saat itu tengah dirundung masalah pernikahan yang sangat kronis kembali bertemu dengan Celine dengan permasalahan hubungannya yang sama menyedihkannya di Paris. Keduanya, yang saat itu sudah lebih dewasa, lebih realistis, dan lebih memahami kehidupan, kembali menghabiskan waktu berdua, kali ini lebih serius dalam Before Sunset.

Kini, tahun 2013, Jesse sudah bersama Celine berkeluarga dan memiliki anak kembar. Mereka tinggal di Paris dalam mimpi-mimpi yang sudah mereka dambakan. Namun, dalam liburan mereka di Greece, terungkaplah sedikit demi sedikit cela dalam hubungan mereka ini. Kejenuhan dan kebosanan, dan tetap cinta mereka dibicarakan dengan sangat dewasa dan lebih menarik di Before Midnight. Continue reading “Before Midnight (2013): A Concluding Conversation After 18 Years”

The (Late) Liebster – Sunshine Awards 2013

Jadi, inilah post pertama saya sejak liburan saya di awal bulan Agustus. Hebatnya, yang harus saya post-kan untuk pertama kali justru adalah sebuah award (dua buah tepatnya) yang brought into my attention oleh KaramelKinema, seorang blogger mutakhir yang jago berbahasa Inggris. Pada awalnya saya bingung dengan kedua award ini (Liebster dan Sunshine), namun setelah sedikit membaca-membaca dan bertanya pada KaramelKinema, akhirnya saya mengerti dan terpikirkanlah untuk menulis hal yang satu ini sebagai homecoming party untuk diri saya sendiri. Let’s shoot! Continue reading “The (Late) Liebster – Sunshine Awards 2013”