THOR: The Dark World (2013)

Indonesia (bersama 21 negara lain) cukup beruntung bisa menyaksikan Thor: The Dark World satu minggu sebelum rilisnya di AS, jadi dengan sangat bijak, review ini ditulis dengan bahasa Indonesia untuk menghargai teman-teman di AS. Tapi, tetap saja: SPOILER ALERT!

Thor: The Dark World telah membuktikan seberapa gelap kisah si dewa petir pirang ini bisa diceritakan. Meski tidak sedepresif prekuelnya dan tidak segelap The Dark Knight-nya Batman (yang judulnya sama-sama gelapnya), sekuel Thor ini tetap mengusung tone yang muram dengan motif yang dalam. Well, di film ini terlihat jelas bahwa dampak kejadian di Avengers telah mengekskalasi kisah-kisah di Marvel Universe. Setelah Ironman yang mengalami serangan panik di instalasinya yang ketiga, Thor justru mengalami pendewasaan. Well, pendewasaan sepertinya jadi kata yang cocok untuk mendeskripsikan film ini–sebuah penghormatan untuk setiap karakternya. Well, there’s more. Click here!

Advertisements

We’re the Millers (2013)

We’re the Millers mungkin memang seharusnya rilis musim panas lalu bersama summer movies lainnya; namun, keterlambatan tayang di kota saya ternyata tidak mengurangi sedikit pun sensasi film road trip comedy dengan rating R ini. Cukup mengejutkan bila ternyata film ini melebihi ekspektasi (honestly, meskipun Horrible Bosses, anteseden-nya sangat menghibur, saya tidak terlalu berharap pada We’re the Millers, initially). Mengkombinasikan road trip dengan RV, penyelundupan narkoba, serta keluarga palsu (yang hopeless) adalah dosa yang “sangat diampuni.” Well, there’s more. Click here!

SINEKDOKS’ TOP 7: MATRYOSHKA MOVIES

Boneka Matryoskha, boneka dalam boneka khas Russia adalah inspirasi saya menulis post ini. Sederhana saja, film-film yang bertema sesuatu dalam sesuatulah yang saya sebut sebagai Film Matryoshka. Contoh paling jelas tentu saja Inception, dengan struktur mimpi dalam mimpi yang super hype itu. Berhubung sekarang banyak film yang mengadopsi struktur seperti ini (dan banyak juga yang seperti ini sebelum Inception),  saya jadi tertarik untuk membahasnya.

Berikut ini film-film matryoshka yang paling saya suka: Well, there’s more. Click here!

Side Effects (2013)

Sedang hobby menonton film-film underrated keluaran 2013 ini, saya akhirnya menonton Side Effects. “Sebuah thriller psikologis modern yang sarat paranoia” mungkin bisa jadi tepat untuk menggambarkan kado perpisahan Steven Soderbergh yang konon akan pensiun dari layar lebar. Mungkin, lagi, Side Effects bukanlah film terbaik tahun 2013 ini, namun paket bintang kelas A Hollywood bisa jadi membuatnya terkenang seperti remake Ocean’s Eleven yang apik beserta sekuel-sekuelnya. Well, there’s more. Click here!

Trance (2013)

Danny Boyle selalu terkenal dengan cult dan Oscar-nya; sebut saja Trainspoitting yang benar-benar cult, 28 Days Later yang menjadi cult di ranah film zombie, serta Slumdog Millionaire dan 127 Hours-nya yang kebanjiran nominasi Oscar. Di tahun 2013, ia kembali dengan sebuah film underrated–perpaduan pop art yang kental dengan berbagai ciri khasnya; sebuah film heist gone bad dengan trio bintangnya James McAvoy, Vincent Cassell, dan Rosario Dawson–Trance. Well, there’s more. Click here!