Kick-Ass 2 (2013)

Kick-Ass 2, IMO, adalah film sit-back-and-relax, jadi memang tidak harus banyak berpikir jika ingin benar-benar terhibur. Lagipula masih banyak hal yang bisa kita tertawakan di film ini, seperti penggunaan media sosial yang masih efektif, latar belakang para tokoh figuran dengan kostum mereka yang geeky, serta anekdot tentang Twilight dan Union J, yang bisa dijadikan bahan tertawaan. Jadi, cara paling mujarab menyaksikan Kick-Ass 2 adalah: anggap saja ini chapter dari frame besar kisah Kick-Ass, duduk santai, lalu berharaplah ini hanya permulaan dari kisah Kick-Ass yang lebih dahsyat di sekuelnya kelak (jika ada).

Superhero tanpa kekuatan super? Berkostum hijau? Originally dork? Kick Ass! Sang jagoan kembali lagi setelah vakum selama 3 tahun, masih bersama sidekick-nya, jagoan perempuan berwig ungu Hit Girl (yang lebih cocok disebut Mean Girl, actually). Sekarang mereka kembali dengan casts bernama panjang yang sama, namun dengan permasalahan yang lebih “muda” dan “modern”: the coming-of-age dan status kesuperheroan mereka (hey, bahkan di adaptasi modern, Batman dan Superman juga mengalaminya). Namun, permasalahan paling mendasar yang harus dihadapi Kick-Ass adalah treatment sutradara barunya Jeff Wadlow terhadap kenyataan bahwa Kick Ass telah menjadi franchise baru sekarang ini. Well, more superhero-wanna-be inside. Click here!

Advertisements

This Is the End (2013)

This Is the End (2013/US) – Late Review
DIR: Evan Goldberg, Seth Rogen
CASTS: Jay Baruchel, Seth Rogen, James Franco, Craig Robinson, Jonah Hill, Danny McBride, Emma Watson

“All cameos–all entertaining–and all’s end.”

<a href="”> Read More…

Jika mencari sebuah film konyol untuk ditertawakan selama weekend yang penuh cameo selebritis Hollywood, diperankan oleh aktor-aktor komedi yang memerankan dirinya sendiri, penuh guyonan kasar dan slapstick, serta berkisah tentang kiamat… This is The End-lah film yang dicari. Well, there’s more. Click here!

Frozen (2013)

Ini bukan pertama kalinya Disney mengadaptasi lepas sebuah dongeng–paling dekat, pada tahun 2010 lalu, Disney sudah mengadaptasi kisah Rapunzel dari Grimm Brothers dalam Tangled. Kini, di penghujung tahun 2013, kisah The Snow Queen dari H.C. Andersen diadaptasi lepas dengan judul yang sekali lagi memakai past participle, Frozen. Well, there’s more. Click here!

Get A Horse! (2013)

Animasi pendek yang menemani Frozen ini adalah milestone kreativitas baru Disney. Setelah memberi nafas sekaligus jawaban untuk masa depan film animasi 2D di Paperman yang dirilis bersamaan Wreck-It Ralph tahun lalu, Disney memberikan suatu nuansa baru yaitu dengan menggabungkan animasi 2D hitam-putih klasik dari kisah Mickey Mouse berjudul The Plowboy (1929) dengan sentuhan animasi 3D penuh warna. Well, there’s more. Click here!

The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Singkat saja, ketika instalasi pertama The Hunger Games memperoleh kesuksesan komersial yang luar biasa, saya berpikir bahwa kesuksesan itu semata hanya karena kemampuan THG memberikan sesuatu yang tidak bisa Twilight Saga hadirkan, yaitu fokus. Ada perjuangan di sana–dan bukannya romance yang mendominasi plotnya. The 74th Hunger Games (untuk pertama kalinya) menghadirkan dua pemenang dari Distrik 12 dan menyulut api bagi sang presiden tiran, Snow. Kini, setelah pendapatannya yang hampir 9 kali lipat biaya produksinya dan Oscar Jennifer Lawrence, instalasi kedua THG-nya Suzanne Collins kembali ke layar. Well, there’s more. Click here!

Prisoners (2013)

Setelah mempermainkan penontonnya dengan sebuah misteri pencarian dalam Incendies yang twist-nya melegenda, Vileneuve kembali dengan Prisoners, sebuah crime-thriller tentang penculikan yang penuh dengan misteri dan sangat menguras emosi. Yang jelas dibutuhkan stamina yang prima untuk mengikuti 150 menit penuh perasaan tidak nyaman–dalam perpaduan penyutradaraan prima Villeneuve, sinematografi yang kelam Roger Deakins, dan skrip yang terlalu rapi dari Aaron Guzikowski. <a href="”> Read More…

Setelah mempermainkan penontonnya dengan sebuah misteri pencarian dalam Incendies yang twist-nya melegenda, Vileneuve kembali dengan Prisoners, sebuah crime-thriller tentang penculikan yang penuh dengan misteri dan sangat menguras emosi. Yang jelas dibutuhkan stamina yang prima untuk mengikuti 150 menit penuh perasaan tidak nyaman–dalam perpaduan penyutradaraan prima Villeneuve, sinematografi yang kelam Roger Deakins, dan skrip yang terlalu rapi dari Aaron Guzikowski. Well, there’s more. Click here!