Elysium (2013): Definitely Blomkamp’s!

Di tahun 2009, Neill Blomkamp, sutradara asal Afrika Selatan menggambarkan diskriminasi rasial yang terjadi di negaranya dengan gimmick sci-fi alien dalam District 9; film yang akhirnya menjadi milestone bagi diirnya dan bagi perfilman sci-fi modern. Di 2013, Blomkamp kembali dengan budget yang lebih besar untuk menggambarkan masalah sosial lain dengan gimmick yang sama. Kini, ia menggambarkan kesenjangan sosial sekaligus permasalahan imigran gelap dalam Elysium. Continue reading “Elysium (2013): Definitely Blomkamp’s!”

Advertisements

The Wolverine (2013): A Greeting “Spine-Off”

The Wolverine, IMHO, bisa menjadi film yang berpotensi besar memisahkan penontonnya menjadi “sangat benci” dan “suka” (cukup suka, not too much). Para penonton awam akan merasa tidak ada yang salah dengan film ini, sementara mereka yang sudah menyaksikan ย 5 film X-Men sebelumnya akan menganggap The Wolverine sebagai spine-off kecil dengan bonus besar. Jadi, review ini akan saya netralkan dengan opini pribadi saya saja. Continue reading “The Wolverine (2013): A Greeting “Spine-Off””

PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!

Guillermo del Toro membawa pulang pattern-nya membawa makhluk-makhluk cutting edge ke dalam filmnya (setelah absen di Mama, of course). Kalau dulu di franchise Hellboy serta Blade, Del Toro membuat makhluk-makhluk komikal, lalu di Pan’s Labirynth, membawa makhluk mitologi, kini ia membawa sesuatu yang lebih besar (in an excessive way, of course): monster-monster reptil raksasa melawan robot-robot raksasa (yang lebih raksasa daripada franchise Transformers). Bagi mereka yang sejak kecil dijejali dengan pertempuran mecha melawan gojira dan variannya, Pacific Rim menjadi perwujudan fantasi mereka dengan tense yang lebih maksimal. (Yakinlah, sebrutal apapun monster dalam dunia animasi, maupun tokusatsu, ancaman mereka tidak akan menghadirkan goosebump semengerikan “apocalypse!”) Continue reading “PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!”

INK (2009): New Dream Experience You May Not Experience Before

Ink (film indie yang disutradarai oleh Jamie Winans), adalah sebuah fairytale modern, yang keluar dari pattern fairytale. Cerita dan visualisasinya gelap, teknik pengambilan gambarnya pun terlalu tajam, dikemas dengan budget minimalis. Jika Anda kehabisan film box office untuk ditonton, mungkin Ink bisa menjadi solusi untuk memuaskan “movielust” Anda. Bukan dengan segala macam tittle-tattle yang disuguhkan film box office, namun dengan premis dan plot serta pace cerita indie, yang memang kurang menjual, tapi cukup segar. Continue reading “INK (2009): New Dream Experience You May Not Experience Before”

Point of Steel for ‘MAN OF STEEL’ (2013)

Akhirnya saya mendapatkan cara paling ‘delighting’ dalam me-review the so-called Supes, dalam film pertamanya yang tidak memakai judul ‘Superman’, yaitu Man of Steel. Cara itu adalah dengan menuliskan 10 poin. Kenapa 10? Simply familiar aja.

Well, let’s shoot! Continue reading “Point of Steel for ‘MAN OF STEEL’ (2013)”