The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Singkat saja, ketika instalasi pertama The Hunger Games memperoleh kesuksesan komersial yang luar biasa, saya berpikir bahwa kesuksesan itu semata hanya karena kemampuan THG memberikan sesuatu yang tidak bisa Twilight Saga hadirkan, yaitu fokus. Ada perjuangan di sana–dan bukannya romance yang mendominasi plotnya. The 74th Hunger Games (untuk pertama kalinya) menghadirkan dua pemenang dari Distrik 12 dan menyulut api bagi sang presiden tiran, Snow. Kini, setelah pendapatannya yang hampir 9 kali lipat biaya produksinya dan Oscar Jennifer Lawrence, instalasi kedua THG-nya Suzanne Collins kembali ke layar. Well, there’s more. Click here!

Advertisements

THOR: The Dark World (2013)

Indonesia (bersama 21 negara lain) cukup beruntung bisa menyaksikan Thor: The Dark World satu minggu sebelum rilisnya di AS, jadi dengan sangat bijak, review ini ditulis dengan bahasa Indonesia untuk menghargai teman-teman di AS. Tapi, tetap saja: SPOILER ALERT!

Thor: The Dark World telah membuktikan seberapa gelap kisah si dewa petir pirang ini bisa diceritakan. Meski tidak sedepresif prekuelnya dan tidak segelap The Dark Knight-nya Batman (yang judulnya sama-sama gelapnya), sekuel Thor ini tetap mengusung tone yang muram dengan motif yang dalam. Well, di film ini terlihat jelas bahwa dampak kejadian di Avengers telah mengekskalasi kisah-kisah di Marvel Universe. Setelah Ironman yang mengalami serangan panik di instalasinya yang ketiga, Thor justru mengalami pendewasaan. Well, pendewasaan sepertinya jadi kata yang cocok untuk mendeskripsikan film ini–sebuah penghormatan untuk setiap karakternya. Well, there’s more. Click here!

The Mortal Instruments: City of Bones (2013)

The Mortal Instruments: City of Bones adalah film adaptasi best-selling novel untuk young-adult kedua yang saya saksikan Agustus 2013 ini, setelah Percy Jackson: Sea of Monsters. Jika Sea of Monsters terjebak dalam eksplorasi kisahnya sendiri, City of Bones justru terjebak dalam orisinalitas kisahnya sendiri. I wouldn’t say it’s a bad movie; it’s just a disappointing one. Well, there’s more. Click here!

Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)

Jeda 3 tahun sejak rilisnya The Lightning Thief menuju Sea of Monsters mungkin sudah mereduksi sebagian besar memori akan franchise adaptasi buku Rick Riordan ini. Pamor Percy Jackson pun jauh tertinggal dari pendahulunya, Harry Potter, dan penerusnya, The Hunger Games. Terlebih, Logan Lerman, si Percy Jackson, pun lebih dikenal lewat The Perks of Being A Wallflower. Lantas, bagaimanakah nasib franchise ini dalam Sea of Monsters? Continue reading “Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)”

The Wolverine (2013): A Greeting “Spine-Off”

The Wolverine, IMHO, bisa menjadi film yang berpotensi besar memisahkan penontonnya menjadi “sangat benci” dan “suka” (cukup suka, not too much). Para penonton awam akan merasa tidak ada yang salah dengan film ini, sementara mereka yang sudah menyaksikan  5 film X-Men sebelumnya akan menganggap The Wolverine sebagai spine-off kecil dengan bonus besar. Jadi, review ini akan saya netralkan dengan opini pribadi saya saja. Continue reading “The Wolverine (2013): A Greeting “Spine-Off””

Point of Steel for ‘MAN OF STEEL’ (2013)

Akhirnya saya mendapatkan cara paling ‘delighting’ dalam me-review the so-called Supes, dalam film pertamanya yang tidak memakai judul ‘Superman’, yaitu Man of Steel. Cara itu adalah dengan menuliskan 10 poin. Kenapa 10? Simply familiar aja.

Well, let’s shoot! Continue reading “Point of Steel for ‘MAN OF STEEL’ (2013)”