Elle (2016): It. Was. Just. Haunting.

Review: ‘Haunting’ mungkin kata paling positif untuk mendeskripsikan Elle; sementara ‘disturbing’ paling negatif. Setidaknya, dua kesan itulah yang ingin dihadirkan Paul Verhoeven dalam comebacknya; ia menolak membiarkan penontonnya merasa tenang ketika hanyut dalam hidup seorang wanita tangguh berwujud Isabelle Huppert.

Elle dibuka dengan sebuah scene grotesk, kita dipaksa menyaksikan tatapan kosong seekor kucing yang menyaksikan majikannya diperkosa dengan brutal oleh sosok misterius bertopeng ski. Scene itu sendiri tanpa tedeng aling-aling dan mencapai tahap visceral. Namun, yang lebih mengenaskan adalah perilaku sang korban pasca kejadian itu. Tak terlihat ada kejijikan; taka da penyesalan; namun ia juga tak terlihat menikmatinya. Semuanya dibiarkan ambigu. Continue reading “Elle (2016): It. Was. Just. Haunting.”

Advertisements

La Tête Haute / Standing Tall (2015): Rantai hukum untuk si l’enfant terrible

Review: La Tête Haute a.k.a. Standing Tall – yang mendapat 8 nominasi César Awards dan memenangkan 2 d antaranya – adalah sebuah perjalanan panjang dan melelahkan di balik proses hukum untuk kasus juvenile delinquency atau kenakalan remaja. Perjalanan panjang tersebut direfleksikan dalam kehidupan sang l’enfant terrible sekaligus orang-orang terdekatnya di tengah proses hukum yang berliku. Proses demi proses digambarkan dengan candid sampai berujung di final scene-nya yang ambigu.

‘Vokal’ dan ‘merisaukan’ mungkin dua kata paling tepat untuk menggambarkan Standing Tall. Dari scene pertama saja, film ini sudah tampil vokal kala menampilkan karakter-karakter utamanya dalam sebuah adegan yang frustrating saat Séverine (Sara Forestier) meninggalkan putra tertuanya, Malony (nantinya diperankan Rod Paradot), dalam asuhan jaksa Florence Blaque (Catherine Deneuve). Kesembronoan dan lepas tanggung jawabnya sang ibu itulah pusat drama sebab-akibat ini. Continue reading “La Tête Haute / Standing Tall (2015): Rantai hukum untuk si l’enfant terrible”

Elle (2016) – BALINALE Review

Review: Haunting is the best word to describe Elle; while disturbing is the worst. At least, that’s what director Paul Verhoeven brings in his comeback; he refuses to let audience be in peace while delving into a life of an unbreakable woman, in form of Isabelle Huppert.

Elle grotesquely opens with a very disturbing scene, as we witness a cat silently witnessing its owner gets brutally raped by a stranger in ski mask. The scene itself is unapologetic and, to some extent, visceral. Yet, what disturbs worst from the scene is what the woman does in aftermath. There’s no feeling of disgust, not remorse, not an agony, not even a pleasure. It’s left ambiguous. Continue reading “Elle (2016) – BALINALE Review”

La Tête Haute / Standing Tall (2015) – BALINALE Review

Review: La Tête Haute a.k.a. Standing Tall is an overlong and sometimes frustrating journey of juvenile delinquency care in French reflected in lives of l’enfant terrible and people around him. It’s a long and winding road of candid law system – process to process until it finally settles in an ambiguous but reflective final scene. It’s a poignant drama which received 8 nominations at the 41st César Awards and won two.

‘Blatant’ and ‘unsettling’ might be the best vocabulary to fast-describe Standing Tall, aside from ‘hot-headed’. Standing Tall blatantly introduces the core character in a very distressing scene, where frustrated Séverine (Sara Forestier) irresponsibly leaves her confused, eldest toddler son, Malony (later portrayed by Rod Paradot), to the care of judge Florence Blaque (Catherine Deneuve). That irresponsibility is the epicenter of cause-and-effect drama as a recurring theme. Continue reading “La Tête Haute / Standing Tall (2015) – BALINALE Review”

Tale of Tales (2016): Bukan sekedar dongeng sebelum tidurmu

Review Tale of TalesSutradara film thug Italia, Gomorrah, Matteo Garrone menghadirkan negeri dongeng impiannya yang diadaptasi lepas dari ahli dongeng Giambattista Basile (1566-1632) dalam debut film berbahasa Inggrisnya, Tale of Tales.

Dunia dongeng yang dianut Garrone bukanlah dunia yang sama dengan dunianya para Disney princess; dunia ini lebih dewasa dan lebih buruk rupa. Segala keindahan dan kemegahan feodal tetap dihadirkan, namun sisi gothic dan grotesk-nya yang kadang disturbing lah yang mendominasi. Tak ayal, mulai dari lalat peliharaan, ogre penjaga gunung, pangeran albino kembar, perawan tua binal sampai hidangan jantung mentah pun menjadi sajian utama Tale of Tales. Continue reading “Tale of Tales (2016): Bukan sekedar dongeng sebelum tidurmu”

Sing Street (2016): Antara Dublin, ballad 80-an, cinta pertama dan John Carney

Review Sing Street: Tak berlebihan jika menyebut John Carney sebagai sutradara musikal paling prominent saat ini. Ia telah meresap ke dalam musik pop dan memaknainya dengan motion picture, seperti terbukti lewat banjir pujian pada Once (2006)—yang membawa pulang Oscar lewat single-nya ‘Falling Slowly’—serta Begin Again (2013)—yang meraih nominasi Oscar untuk ‘Lost Star.’

Karya terbarunya, Sing Street sendiri terasa seperti karya Carney paling personal—sebuah surat cintanya pada Dublin circa 80an, yang menderita ekonominya namun menggelora semangatnya. Ballad 80-an dan kisah cinta pertama bertautan dalam kisah yang nampak sederhana, tapi kaya akan subtext dan referensi. Continue reading “Sing Street (2016): Antara Dublin, ballad 80-an, cinta pertama dan John Carney”