The World’s End (2013)

The World’s End–film penutup trilogi Cornetto milik sutradara Edgar Wright dan aktor Simon Pegg ini memang–honestly–berbeda dengan kedua film pendahulunya. Tapi itu memang bukan masalah; lagipula, tim sutradara lama dan cast lama dengan formula lama bukanlah cara yang menarik untuk menutup suatu trilogi. Well, there’s more. Click here!

Advertisements

THOR: The Dark World (2013)

Indonesia (bersama 21 negara lain) cukup beruntung bisa menyaksikan Thor: The Dark World satu minggu sebelum rilisnya di AS, jadi dengan sangat bijak, review ini ditulis dengan bahasa Indonesia untuk menghargai teman-teman di AS. Tapi, tetap saja: SPOILER ALERT!

Thor: The Dark World telah membuktikan seberapa gelap kisah si dewa petir pirang ini bisa diceritakan. Meski tidak sedepresif prekuelnya dan tidak segelap The Dark Knight-nya Batman (yang judulnya sama-sama gelapnya), sekuel Thor ini tetap mengusung tone yang muram dengan motif yang dalam. Well, di film ini terlihat jelas bahwa dampak kejadian di Avengers telah mengekskalasi kisah-kisah di Marvel Universe. Setelah Ironman yang mengalami serangan panik di instalasinya yang ketiga, Thor justru mengalami pendewasaan. Well, pendewasaan sepertinya jadi kata yang cocok untuk mendeskripsikan film ini–sebuah penghormatan untuk setiap karakternya. Well, there’s more. Click here!

The Conjuring (2013): Box Office of Terror

James Wan menghadirkan lagi horror tradisionalnya (persilangan film horror Barat dengan gaya Asia) lewat film terbarunya, The Conjuring. Setelah sebelumnya ia memanifestasikan pemikiran “terror”-nya lewat Saw dan the so-called Insidious, ia kembali lagi dengan formula standarnya namun dengan pendekatan yang berbeda: Sebuah horror modern dengan sentuhan vintage yang menegangkan. Continue reading “The Conjuring (2013): Box Office of Terror”

PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!

Guillermo del Toro membawa pulang pattern-nya membawa makhluk-makhluk cutting edge ke dalam filmnya (setelah absen di Mama, of course). Kalau dulu di franchise Hellboy serta Blade, Del Toro membuat makhluk-makhluk komikal, lalu di Pan’s Labirynth, membawa makhluk mitologi, kini ia membawa sesuatu yang lebih besar (in an excessive way, of course): monster-monster reptil raksasa melawan robot-robot raksasa (yang lebih raksasa daripada franchise Transformers). Bagi mereka yang sejak kecil dijejali dengan pertempuran mecha melawan gojira dan variannya, Pacific Rim menjadi perwujudan fantasi mereka dengan tense yang lebih maksimal. (Yakinlah, sebrutal apapun monster dalam dunia animasi, maupun tokusatsu, ancaman mereka tidak akan menghadirkan goosebump semengerikan “apocalypse!”) Continue reading “PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!”

The Blue Umbrella (2013): Simfoni Hujan a la Pixar

Saat rintik hujan mulai turun, seluruh kota menjadi hidup dalam simfoni yang syahdu. Di antara lautan payung hitam di sepanjang jalan, dua buah payung yang berbeda; yang satu berwarna biru dan yang satu berwarna merah saling tertarik. Tanpa dialog, hanya ditemani alunan melodi sederhana, kita diajak mengikuti perjalanan “cinta” kedua payung tersebut yang tidak mudah, namun menggugah. Dipisahkan oleh alam, namun disatukan lagi oleh takdir. Semua dirangkum dalam film animasi pendek yang berjudul “The Blue Umbrella.” Continue reading “The Blue Umbrella (2013): Simfoni Hujan a la Pixar”