Dalam suatu pengakuan dosa, Pastor James Lavelle (Brendan Gleeson), seorang pastor paroki di sebuah pedesaan di Irlandia, diancam oleh seseorang. Pria pengancam itu mengancam akan membunuh Pastor James sebagai ganti atas nyawa seorang pastor pedofilia yang dibencinya. Pastor James hanya diberi waktu seminggu untuk menata umatnya dan menghadapi “kekuatan jahat” yang menyelimutinya.
Saat waktunya makin menipis, Pastor James berkeliling parokinya, berdialog dengan umatnya, serta berusaha meringankan pencobaan mereka. Berpindah-pindah dari individu ke individu lain, poros kisah Calvary mulai terkuak; bergeser dari sebuah whodunit klasik menjadi sebuah examination yang elegan tentang “iman yang sejati” di antara masyarakat sekuler. Dalam menggambarkannya, film ini mencampur dark humor kental, yang terefleksikan dalam dialognya, dan pertanyaan-pertanyaan besar tentang iman; sebuah kombinasi yang menjadikannya sebuah black comedy cerdas yang terasa ironis namun apa adanya.
Tak diragukan lagi, Calvary menampilkan performa terbaik Brendan Gleeson alias Gleeson Sr. Menurut pandangan saya, karakter Pastor James-nya tentu sudah tahu siapa calon pembunuhnya (Bagaimana seorang pastor tak hafal suara umat parokinya yang hanya sedikit?). Fakta pahit itu menjadikan jalan salibnya terasa sangat berat dan keraguannya akan keberanian yang ia miliki untuk mencapai bukit kalvarinya sendiri lebih seperti pencobaan daripada sebuah wahyu. Namun, Gleeson Sr. mampu menampilkan kegelisahan seorang Bapa di gereja dan bapak dalam rumah tangga sekaligus. Chemistry Gleeson yang menggetarkan dengan Kelly Reilly yang memerankan Fiona–putrinya—terasa sangat kompleks sekaligus stylish.
Showmanship khas Gleeson Sr. berkonstruksi kuat di atas studi karakter dari orang-orang di sekitar Pastor James. Saat ia menghadapi tukang daging lembek (Chris O’Dowd), dokter ateis yang filosofis (Aidan Gillen), pastor yang lemah (David Wilmot), akuntan yang depresi (Dylan Moran), dan umat lain dengan agenda mereka masing-masing, karakter Gleeson Sr. kuat di antara keraguan. Yang paling lucu, ia beradu peran dengan putranya sendiri, Domhnall Gleeson yang memerankan seorang kanibal; sama sekali tak terasa chemistry bapak-anaknya.
Sutradara John Michael McDonagh patut mendapat pujian atas skripnya yang teliti dan rapi. Namun, di antara The Guard karyanya dan Seven Psychopaths karya abangnya, Michael, Calvary mungkin yang paling kuat. Dirujuk sebagai film tengahan bagi trilogi “The Glorified Suicide“, Calvary adalah sebuah peningkatan—baik secara skrip, penyampaian cerita, maupun sinematografis. Komedinya tak pernah melembek, meskipun babak kedua film ini sedikit lemah. Sebagai sebuah kesatuan, Calvary adalah sebuah studi iman yang terstruktur.

Leave a Reply