Tale of Tales (2016): Bukan sekedar dongeng sebelum tidurmu

Review Tale of TalesSutradara film thug Italia, Gomorrah, Matteo Garrone menghadirkan negeri dongeng impiannya yang diadaptasi lepas dari ahli dongeng Giambattista Basile (1566-1632) dalam debut film berbahasa Inggrisnya, Tale of Tales.

Dunia dongeng yang dianut Garrone bukanlah dunia yang sama dengan dunianya para Disney princess; dunia ini lebih dewasa dan lebih buruk rupa. Segala keindahan dan kemegahan feodal tetap dihadirkan, namun sisi gothic dan grotesk-nya yang kadang disturbing lah yang mendominasi. Tak ayal, mulai dari lalat peliharaan, ogre penjaga gunung, pangeran albino kembar, perawan tua binal sampai hidangan jantung mentah pun menjadi sajian utama Tale of Tales. Continue reading Tale of Tales (2016): Bukan sekedar dongeng sebelum tidurmu

Lights Out (2016): Teguran meta-horror untuk PLN

Review Lights Out: Berawal dari film pendek 2-3 menitan yang sempat viral pada circa 2013, sutradara David Sandberg mengembangkannya menjadi sebuah full feature berdurasi 81 menit yang somehow sukses menghadirkan fobia gelap sekaligus teguran halus untuk PLN.

Diawali dengan adegan yang semacam mereka ulang film pendeknya, Lights Out tanpa basa-basi langsung ‘memperkenalkan’ sosok misteriusnya, yaitu sesosok entitas yang cuma menerror dalam kegelapan saja. Bayangkan saja ia muncul saat lampu dimatikan dan hilang ketika lampu dinyalakan; begitu terus sampai tiba-tiba ia muncul di hadapanmu. Continue reading Lights Out (2016): Teguran meta-horror untuk PLN

The Nice Guys (2016): Kembalinya Shane Black ke LA dan hardboiled action

Review The Nice Guys: Senang rasanya melihat sutradara-penulis naskah, Shane Black, kembali ke jalur yang membesarkan namanya. Ia mungkin lebih dikenal sebagai sutradara Iron Man 3; tapi, jauh sebelum itu, ia sudah duluan bersinar di dekade 80an dan 90an sebagai penulis naskah film-film hardboiled action paling renyah, macam Lethal Weapon, The Last Boy Scout atau Last Action Hero.

Baru di tahun 2005, Black menyutradari debutnya lewat neo-noir ber-setting LA-nya, Kiss Kiss Bang Bang. Film terbarunya, The Nice Guys, sendiri seperti sebuah resume yang merangkum bagian-bagian terbaik dari filmografinya. Selain, menandai kembalinya Black ke belantara glamornya LA—yang kini bersetting 70an; di film ini, ia juga kembali menduetkan partner kerja yang tak sepadan (cc: Lethal Weapon). Hanya saja, yang satu ini lebih ringan, lebih rapi dan lebih hilarious. Continue reading The Nice Guys (2016): Kembalinya Shane Black ke LA dan hardboiled action

The Shallows (2016): Film hiu yang lumayan manusiawi

Review The ShallowsFilm-film hiu pasca Jaws memang sering terjebak dalam genre tropes yang menjadikannya seolah film monster. Namun, justru film-film yang dengan sadar meng-embrace tropes tersebut serta menghadirkan semangat B-movie yang chilling-lah yang selalu memuaskan—sebut saja Deep Blue Sea atau Open WaterThe Shallows muncul dengan semangat yang sama, meskipun dengan plot yang ditipiskan.

Sutradara Orphan dan film-film aksi Liam Neeson (Unknown, Non-Stop, Run All Night), Jaume Collet-Serra punya agenda tersendiri untuk hiu di The Shallows ini. Lebih tepatnya, ia punya umpan tersendiri untuk sang hiu, yaitu Blake Lively—berbikini, sun-kissed, dan sendirian. Ia adalah umpan empuk dalam kisah survival woman versus shark ini. Continue reading The Shallows (2016): Film hiu yang lumayan manusiawi

The Handmaiden (2016): Tamparan kinky untuk memuaskan fetish-mu pada Park Chan-wook

Review The HandmaidenPark Chan-wook kembali menyutradarai film berbahasa Korea, pasca debut Hollywood-nya lewat Stoker, dengan sebuah kisah erotis yang tak hanya brilian namun juga kontroversial: The Handmaiden (a.k.a Ahgassi).

Mengadopsi (instead of sekedar “mengadaptasi”) novel ero-thriller Sarah Waters, Fingersmith, film ini berkisah tentang seorang gadis pencopet yang menyamar menjadi pembantu seorang ahgassi (lady). Semua trademark Chan-wook yang dinanti-nanti tumpah ruah di sini – mulai dari fetish-nya terhadap darah, keseksian visualnya, hingga tumpukan twist-nya – menjadikannya karya Chan-wook terkompleks dan tersegar,  so far. Continue reading The Handmaiden (2016): Tamparan kinky untuk memuaskan fetish-mu pada Park Chan-wook

Suicide Squad (2016): Semoga bukan suicide mission untuk DCEU

Review Suicide Squad: Anggap saja DC dan Warner Bros salah mengartikan warisan Nolan lewat trilogy The Dark Knight yaitu atmosfernya yang gelap dan muram (meskipun pendekatannya lebih grounded ke realitas); DC Extended Universe mungkin masih punya secerca harapan lewat Suicide Squad. Tapi, sayang, bukan itu ceritanya.

Sangat ingin rasanya menyukai Suicide Squad sepenuhnya. Dalam dunia penuh film superhero saat ini, ide yang dihadirkan DC sangat segar dan berbeda dari produk studio manapun: Mengumpulkan para penjahat DC untuk mengerjakan tugas yang seharusnya dilakukan jagoan macam Batman atau Superman. Terlebih, sutradara David Ayer menghadirkan kembali atmosfer gelap – kambing hitamnya BvS – dengan twist yang kuat.

Dunia penuh humor urakan yang nyaris mendobrak rating PG-13 dibalut visual yang kontras serta anarkisme yang totalitas seharusnya bisa menjadi jawaban Ayer untuk humor Marvel yang lebih lite. Dunia yang dihadirkan Ayer bagaikan hibrida nihilism a la Deadpool, keunikan Guardians of the Galaxy serta olok-olokan untuk Avengers (atau bahkan Justice League?). Kedengarannya memang sangar, menantang, dan “jahat”… tapi cuma di awalnya. Cuma di permukaan. Continue reading Suicide Squad (2016): Semoga bukan suicide mission untuk DCEU

Movie reviews, ratings, and discussions by Paskalis Damar

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,124 other followers