READ THIS REVIEW IN:
Sebenarnya, The Purge (2013) karya James DeMonaco yang dibintangi Ethan Hawke bisa saja menjadi hit besar andai premisnya yang pretentious dieksekusi dengan menarik; bukannya dieksekusi selayaknya film home invasion berskala mikro, namun riot berskala makro. Beruntungnya, film low-budget ini meraup hasil keren di box office, akibatnya, studio Blumhouse yan terkenal suka membuat sekuel film low-budget (ingat sudah ada 5 Paranormal Activities dan 2 Insidious sejauh ini), langsung tancap gas untuk memulai “purge” yang lain.
The Purge: Anarchy adalah jawaban atas permintaan fans Purge yang pertama. Bersetting tahun 2023 di AS, setahun pasca kejadian di film pertama dan 6 tahun pasca dicanangkannya program “purge” tahunan; sang New Founding Father of America segera mengumumkan dimulainya Purge tahun ini—malam di mana semua kejahatan dilegalkan dan semua layanan emergency ditutup. Tahun lalu, keluarga Ethan Hawke terperangkap di rumah mereka sendiri saat momen Purge; tahun ini, Sergeant (Frank Grillo)—yang ingin balas dendam—justru terjebak di jalanan bersama penyitas lain: sepasang suami istri muda (Zach Gilford dan Kiele Sanchez) serta ibu-anak (Carmen Ejogo dan Zoë Soul). Kesempatan yang Sergeant miliki hanyalah: menyelamatkan para penyitas yang innocence itu atau tetap balas dendam; yang jelas, masih ada 12 jam lagi sebelum Purge berakhir.
Trik mengumpankan para penyitas tak bersenjata pada gerombolan anarkis di jalanan L.A. jelas menjadi sebuah setup yang besar. Melalui merekalah, Anda dipaksa mengamati orang saling bunuh dalam kerusuhan ‘apocalyptic.’ Action-thrillernya berjalan seperti irama hip hop yang sangat kencang—menampilkan perang antar gang, home invasion, serta ‘gladiator’ dari berbagai status sosial. Anarchy memberi sudut pandang yang 100% baru tentang program purge yang ternyata sangat brutal ini.
Meskipun Anda belum menonton, atau bahkan belum tahu kalau ada The Purge yang pertama, film ini masih bisa diikuti dengan mudah. Sekuel tidak langsung ini memakai pendekatan yang sama sekali berbeda dengan film pertamanya. Melihat dari cara DeMonaco memperlakukan karakternya di film ini, saya yakin film ini pasti berakhir sangat divisive. Meskipun ada cacat, Anarchy tetap mampu memuaskan fansnya dengan menampilkan Purge yang sesungguhnya.
Saya pikir, The Purge yang pertama tidak memiliki label ‘franchise‘ karena temanya sudah cukup unik untuk menjadi sebuah standalone film. Namun, Anarchy bukanlah fiasco sama sekali karena film ini mampu menggandakan ketegangan dan suspensi film pertama dengan lebih banyak anarki. Hasilnya memang mengagumkan, tapi mengingat reputasi Blumhouse… tidak lama lagi akan ada The Purge lain dengan kualitas yang bisa jadi hit-or-miss.

Leave a Reply