Sebelum menyaksikan The Wolf of Wall Street, saya hanya tahu bahwa film ini akan menjadi kolaborasi kelima Martin Scorsese dan Leonardo Di Caprio, dengan lebih dari 520 kali penggunaan kata F#CK dan review internasional yang biasa saja. Selain itu, biopik ini juga sudah mengantungi 5 nominasi Oscar di tahun ini. Well, setelah menyaksikannya, saya hanya berpikir bahwa TWOWS adalah salah satu film terbaik tahun 2013, dan bahkan, terbaik di antara film-film Scorsese yang sudah-sudah.
Judulnya diambil dari julukan Jordan Belfort (diperankan oleh Leonardo di Caprio), film ini adalah sebuah kisah tentang manusia kaya raya dengan segala jatuh bangunnya yang kontroversial. Jordan, yang dulunya pria biasa, mencoba peruntungannya sebagai pialang saham di Wall Street dengan bimbingan atasannya Mark Hanna (Matthew McConaughey). Tak pernah ia bayangkan, firma tempatnya bekerja bangkrut dalam peristiwa Black Monday. Jordan kemudian berpindah ke firma yang lebih kecil dan akhirnya menemukan ladang uangnya sendiri dalam Stratton Oakmond bentukannya dengan bantuan rekan lamanya dan sahabat, Donnie Azzoff (Jonah Hill). Mampu menghasilkan milyaran dollar dengan ilegal, Jordan menjadi sukses secara finansial. Ia dapatkan apa yang ia mau, termasuk istri baru yang seksi Naomi (Margot Robbie). Well, peribahasa ‘sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga’ pun terjadi padanya; lewat andil Agen FBI Patrick Denham (Kyle Chandler), kejatuhan Jordan sudah terprediksi. Pada akhirnya, keserakahannya menjadi senjata makan tuan.
TWOWS sangatlah liar, bejat, namun indah–ini adalah penggambaran pesta penuh uang dan degradasi moral. Dengan penuh percaya diri, Scorsese menampilkan penggambaran seks dan narkoba dengan sangat gamblang–uang, kokain, alkohol, pelacuran, orgy, dan pesta ada dimanapun. Namun, segala repetisi tadi tidaklah membuat film ini membosankan meskipun durasinya mencapai 165 menit (durasi aslinya malah 179 menit). Pace-nya yang cerdas dan set-piecenya yang indah membuat film ini sangat mudah diikuti (meskipun banyak obrolan seputar saham yang susah dimengerti oleh awam seperti saya). Durasinya yang panjang mampu merealisasikan screenplay Terence Winters dengan sangat hedonis seperti filmnya. Sering adanya narasi berupa monolog dari Di Caprio yang menembus dinding ke-4 membuat film ini benar-benar berinteraksi dengan penontonnya.
Kerennya film ini tak lepas juga dari kerja keras editor Thelma Schoonmaker dan sinematografer Rodrigo Prieto. Kerja keduanya mampu menampilkan kisah kaya raya TWOWS dengan meyakinkan. Perpaduan take panjang dengan berbagai macam teknik gambar sungguh memanjakan penontonnya, apalagi ditambah dengan hasil kerja art department dan production department yang unik mampu menampilkan gambar yang kaya dan fancy.
Well-done, Marty!Pujian khusus saya berikan pada para pemerannya yang fabulous. Berisi para veteran nominator Oscar serta satu pemenang Oscar, ensemble ini sudah ‘mahal’. Yang paling menarik tentu saja Di Caprio yang saya rasa sudah saatnya menang Oscar dengan perannya sebagai Jordan Belfort di sini. Dengan arahan Scorsese, Leo sudah berhasil menjadi seorang bedebah–anti-hero yang justru dicintai. Karakter Jordan benar-benar sudah menyatu dengan Leo. Di sisinya, ada Jonah Hill yang memerankan Donnie Azzoff yang menyebalkan–peran yang mengarahkannya pada nominasi Oscar keduanya. Peran Hill benar-benar mengangkat performa Leo di film ini dan meningkatkan peluang Leo memenangkan Oscar pertamanya. Salut. Tokoh lain seperti Naomi-nya Margot Robbie sangat menggoda, si pemenang Oscar Jean Dujardin juga bermain baik meskipun porsinya tidak banyak, ada juga rekan sutradara Scorsese macam John Favreu et al yang menghibur. Yang cukup menghibur meskipun hanya muncul sebentar adalah McConaughey dengan dengungannya yang susah dilupakan.
TWOWS sangat menyenangkan dan menghibur–sebuah film pertanda kembalinya sang maestro Scorsese ke jalan Oscarnya. Yang pasti, TWOWS tidak bisa hanya diceritakan, tapi harus disaksikan. Kerja bagus, Marty!

Leave a Reply