Share to your friends if you like it!

Oculus nampaknya berhasil menempatkan diri dengan pas di slot film horror tahun ini. Sebagai film horror, film ini justru menitikberatkan horrornya lewat persepsi dan bukannya visual. Oculus bersenang-senang dalam memainkan persepsi dan memutarbalikkan kenyataan—langsung dari pikiran sutradara Mike Flanagan.

Horror dalam Oculus bersetting di sebuah rumah baru, seperti film horror modern pada umumnya. Namun, rumah itu bukanlah sumber terornya. Sumber dari segala keganjilan di Oculus adalah sebuah cermin kuno, yang ternyata menjadi gerbang masuk kekuatan jahat dari dimensi lain. Cara kerja dan asal cermin ini tidak dijelaskan secara langsung, tapi justru karena itulah, cermin ini efektif untuk menarik perhatian.

Tokoh kita, Kaylie (Karen Gillan) mengetahui tentang sifat jahat cermin ini. Bersama adiknya yang baru keluar dari rumah sakit jiwa, Tim (Brenton Thwaites), ia berusaha mengusir kekuatan jahat itu dan menghancurkannya selamanya sebagai pembalasan dendam. Paham akan potensi jahat cermin ini, Kaylie memakai berbagai peralatan modern untuk mendokumentasikan usaha mereka sekaligus memastikan bahwa cermin ini tidak berusaha memanipulasi keadaan. Segera setelah mereka mulai, film ini mulai mencampur aduk masa kini dan flashback kejadian di masa lalu—saat ayah (Rory Cochrane) dan ibu (Kate Sackhoff) jatuh dalam pengaruh cermin ini dan menghancurkan keluarga mereka sendiri.

Selama film ini, sutradara Flanagan terus memainkan persepsi penontonnya, sama seperti cermin dalam film ini. Ia mulai dengan meyakinkan penonton bahwa cermin ini hanyalah cermin biasa, dan justru Kaylie-lah yang bermasalah dengan berbagai pikiran anehnya. Tim selalu tahu cara melawan pendapat Kaylie; hal ini makin memperkuat argumen itu. Namun, siapa akan percaya pada Tim? Dia hanya seseorang yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. Flanagan merespon keadaan ini dengan cepat, mulai membuka tabir tentang kecurangan cermin itu. Namun, program pemutarbalikkan kenyataan belum selesai sampai di situ.

Oculus sangat efektif dalam membuat penonton bingung membedakan mana yang nyata, mana yang kenangan, mana yang ilusi, atau semuanya itu tidak ada yang benar. Meskipun ini bukan film psikologis, tapi Oculus masuk terlalu jauh dalam ranah ini untun mengimbangi horrornya. Konsekuensinya, Oculus kehilangan kadar terrornya namun malah mendapat jatah puzzle yang lebih banyak. Dengan ini, kita tak bisa mengharapkan banyak momen mengagetkan dan jump scare seperti di film James Wan, tapi, kita tetap akan menemukan momen orisinal yang sama menakutkan dan mengagetkan dalam bentuk lain.

Film ini sangat mengandalkan struktur narasinya bukannya pemeran-pemeran yang terkenal. Namun, yang paling menarik dari Oculus adalah keputusan untuk tidak membuatnya film found-footage atau mockumentary. Oculus punya semua materi dan latar belakang yang cocok untuk film sejenis ini, namun tak dilakukannya dan justru memilih tetap memakai narasi konvensional. Menghindari bentuk found-footage dan memakai narasi sudut pandang pertama mungkin membuat horror di film ini tertebak serta terrornya kurang mengejutkan; namun, itu membuat Oculus menjadi terror orisinal yang terus membingungkan.

Buktinya? Mungkin bisa lihat di bawah ini.

Share to your friends if you like it!

Categories: Movie Review

2 Comments

Oculus (2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *