The Grand Budapest Hotel adalah bangunan yang mewah nan indah, yang menjadi episentrum dari film kedelapan Wes Anderson ini. Sejak Rushmore sampai Moonrise Kingdom, film-film Anderson selalu akrab dengan literatur yang fancy, humor kontemplatif, dan narasi yang unik dan tidak karuan. Tak diragukan lagi, The Grand Budapest Hotel juga punya semua ciri tadi dalam membangun sebuah kisah yang lebih historis, sastra, sekaligus Eropa.
Kisahnya diceritakan secara Matryoshka (ada cerita di dalam cerita lain) dengan bersetting di sebuah negara fiksi, Zubrowka. Seorang gadis muda mengunjungi makam penulis favoritnya. Dari sebuah memoir penulis tersebut (Tom Wilkinson), kita dibawa ke tahun 1968, saat penulis ini masih muda (kini diperankan Jude Law) mengunjungi The Grand Budapest Hotel dan bertemu pemilik anehnya, Zero Moustafa (F. Murray Abraham). Dalam sebuah makan malam, Tn. Zero menceritakan tentang sejarah yang dimulai tahun 1932—sebuah rahasia tentang hotel ini.
Selanjutnya, kita dibawa mengikuti kisah tentang ikatan batin unik antara Zero muda (Tom Revolori) dan mentornya Monsieur Gustave (Ralph Fiennes yang nampak bersenang-senang), concierge hotel itu. Kecintaan Gustave pada salah satu pengunjung usia lanjut, Madame D. (Tilda Swinton) telah menuntunnya dan anak didiknya dalam sebuah petualangan. Takdir yang unik pun melibatkan mereka dalam rangkaian pembunuhan, pencurian, kabur dari penjara, kejar-kejaran, dan tentu saja humor yang memperkaya dunia The Grand Budapest Hotel.
Meskipun ada banyak karakter dan cameo, pada intinya, The Grand Budapest Hotel berpusat pada persahabatan Gustave dan Zero. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat bagaimana Zero mengabdi pada Gustave dengan senang hati—dalam hal-hal sepele sampai dalam urusan kabur dari penjara. Namun, yang paling menyenangkan (sekaligus menyentuh) justru adalah balasan Gustave terhadap kebaikan Zero; kadang sekonyol berbagi parfum, kadang justru sangat mulia dan tak tergambarkan. Gustave dan Zero adalah gambaran konsep rectoverso yang nyata—dua menjadi satu dan saing melengkapi. Hubungan aneh mereka berlanjut ketika Zero jatuh cinta dengan pembuat kue Agatha (Saoirse Ronan), yang juga menarik perhatian Gustave, menjadikannya kikuk namun orisinal.
Ikatan unik itu menggambarkan dunia The Grand Budapest Hotel yang dibangun Anderson dan krunya—dunia yang lengkap, hidup, berwarna, dan fancy—sama seperti di film-film Anderson yang sudah-sudah. Adegan-adegan di film ini punya beberapa jenis frame yang luas dan tonenya bervariasi. Sepertinya, dibuat seperti itu untuk mengakali banyaknya sudut pandang cerita dan untuk membedakan narasi. Secara penampilan, adegan dalam frame kecil sama saja dengan adegan di frame besar. Anderson tetap mengakomodasi setiap gerakan dan dialog yang menghidupkan filmnya ini dengan keindahan.
Tidak ada yang ingin film ini nampak realistis; dan sepertinya, Anderson juga berpikir demikian. Dari awal, ia telah mengundang penontonnya untuk bersenang-senang dalam framenya, dalam disain penuh warnanya, dalam pesta kostumnya, dan dalam sejarahnya. Sekali check in di hotel ini, kita takkan mau apapun kecuali tetap tinggal.

Leave a Reply