The Double (2014)

Of the enigmatic tale about doppelganger, The Double is a real proof that cinema has a future in Ayoade. It gains ground in returning the triumph of classic, avant-garde, satirical black comedy without being engulfed by its influences

READ THIS REVIEW IN:

  

 

 

Sutradara muda berbakat dan kolumnis Total Film yang mempersembahkan indie hit “Submarine“, Richard Ayoade kembali dengan proyek sophomore-nya yang lebih rumit, “The Double“. Kalau karyanya yang dulu menggambarkan kisah drama coming of age yang mencolok; sedangkan, karya keduanya ini menelanjangi semua yang ada di Submarine dan justru berfokus pada kisah orang dewasa yang terancam oleh doppelganger-nya.

Film yang mengadaptasi novella Dostoevsky berjudul sama ini berfokus pada hidup seorang karyawan pemroses data, Simon (Jesse Eisenberg), yang bekerja di perusahaan The Colonel. Ia menghabiskan harinya untuk bekerja, terasing dari semua orang, sekaligus mengagumi tetangganya, Hannah (Mia Wasikowska). Saat ia dapat kesempatan untuk lebih mengenal Hannah, doppelganger misteriusnya yang angkuh, James (juga diperankan Jesse Eisenberg) datang dan merampas semua yang Simon miliki… termasuk kesempatan untuk mendekati Hannah.

Meskipun proyek ini terasa kurang orisinal, Ayoade masih mampu membuktikan diri sebagai salah satu talenta muda berbakat dalam perfilman. Peran ganda Eisenberg mengingatkan saya akan Dead Ringers-nya David Cronenberg, konstruksi dunia noirscape-nya yang modern sekaligus jadul nampak seperti Terry Gilliam’s Brazil, dan tone abu-abu dalam narasinya mengingatkan saya akan tulisan-tulisan Franz Kafka; namun, justru semua itulah cara terbaik untuk mengadaptasi karya Dostoevsky. Tak ada cara lain lagi—harus terasa quirky sekaligus ambigu.

Detail lain dalam The Double sangat menarik. Yang jelas, casting Jesse Eisenberg dalam memerankan protagonis kita yang mengaku “invisible” sekaligus doppelganger-nya jelas sangat superior—ia mampu menampilkan persona kikuk sekaligus supel “kedua” karakter itu dengan keren. Plus, jangan lupakan soundtrack berisi setlist lagu Asia klasiknya (Sukiyaki dan Blue Chateau-nya sangat asyik dan mudah terngiang) untuk mengisi jeda antar scenes berhasil menghadirkan sisi classy sekaligus klasik film ini.

The Double bisa diartikan dengan cara apapun. Bisa jadi tentang identitas—Simon dan James hanyalah refleksi dari sesorang yang krisis identitas karena tekanan kerja. Namun, bisa juga film ini ditangkap mentah-mentah—bahwa memang ada 2 orang yang saling bertentangan. Bungkus Ayoade untuk kisah ini sangat rapi apalagi dengan pancaran emosi serta dialog cerdasnya. Semuanya dibungkus rapat agar terasa ambigu dan membingungkan—memecah belah interpreatsi orang.

Kisah enigmatic tentang doppelganger ini memang membuktikan bahwa sinema punya masa depan; salah satunya ada di tangan Ayoade. Mungkin tak semenarik Submarine, tapi The Double berandil besar dalam mengembalikan kejayaan black comedy klasik yang avant garde dan satirical tanpa termakan influencenya.

1 comment on “The Double (2014)

  1. Pingback: The Double (2014) | Tinseltown Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *