READ THIS REVIEW IN:
Frank arahan Lenny Abrahamson bukanlah biografi yang 100% based on actual events; kisahnya diadaptasi secara lepas dari memoir milik scriptwriter—Jon Ronson—tentang komedian asal Manchester, Chris Sievey, yang suka memakai kepala palsu dan bernama panggung Frank Sidebottom. Filmnya sendiri justru punya semangat road movie dan semua absurditas yang takkan muncul di biografi apapun (sama seperti Bronson arahan Nichola Winding-Refn). Yang jelas, Frank adalah film penuh energi yang tak hanya lucu tapi juga absurd.
Kisahnya dimulai ketika Jon Burroughs (Domhnall Gleeson)—kibordis/penulis lagu angin-anginan—diajak bergabung dengan sebuah band pop avant-garde, The Soronprfbs, yang dipimpin oleh Frank (meta-performance menakjubkan dari Michael Fassbender)—pria yang tak pernah melepaskan kepala papier-mâché-nya. Jon mulai mencoba mingle dan blend-in dengan anggota band lainnya yang sama absurdnya, seperti Don (Scoot McNairy), Clara (Maggie Gyllenhaal), serta Baraque dan Nana, yang masing-masing hadir dengan keunikannya sendiri.
The Soronprfbs pun pergi ke Vetko dalam proses rekaman selama 11 bulan yang bukannya menghasilkan banyak lagu namun malah banyak kekacauan. Tak ketinggalan, Jon mengupdate berita tentang mereka setiap hari via berbagai jejaring sosial. Memang sebagian besar kisah ini diambil dari POV Jon, tapi yang jelas, bintang utama film ini adalah Frank—dengan berbagai keunikannya, termasuk jargon “Chincilla.” Dalam perjalanan band ini menuju stardom—dimulai dari SXSW music fest—hal yang besar telah menanti mereka; namun, hanya Jon yang tidak menyangkanya.
Sederhananya, Frank adalah sebuah studi karakter yang sangat jelas. Karakter Jon memang sering “mencoba” mengambil alih peran dalam plot, namun, judul film ini saja sudah jelas—karakter kita adalah Frank, bukan yang lain. Fassbender mampu menampilkan karakter Frank lengkap dengan ke-absurd-annya dengan maksimal—meskipun tanpa facial expression. Fass tak hanya menampilkan kualitas sebagai artis “voice-over“, namun ia membuktikan diri sebagai seniman bahasa tubuh. Bayangkan, tanpa membuka kepala palsunya, Frank menjelaskan ekspresinya secara verbal (“a big, non-threatening grin”—sial); tak diragukan lagi, inilah panggung Fass tanpa harus narsis sekalipun.
Untuk mengimbangi sisi absurd-nya, Frank juga menampilkan beberapa momen kontemplatif di akhir second act dan hampir keseluruhan third act. Memang pada akhirnya seluruh kekacauan di film ini terasa anti-klimaks; tapi itu hal yang baik. Frank harus berakhir seperti itu; kalau tidak, Frank hanya akan menjadi film zer-to-hero yang banal.
Kesimpulannya, Frank adalah black comedy yang sangat segar yang dipenuhi absurditas dan kreativitas untuk menceritakan kisah di balik sebuah band avant-garde. Dengan penampilan yang meyakinkan dari Gleeson jr. dan Fass, Frank adalah masterpiece.

Leave a Reply