Chef (2014)

Just like the on-screen lava cake, the outer crust is left under-cooked to let the chocolate molten; the plot is left “under-cooked” to let the food porn highlighted, Chef is.

READ THIS REVIEW IN:

  

Penulis/sutradara/aktor Jon Favreau memulai diet anti-Iron-Man-nya dengan kisah kuliner yang sangat menggoda dengan rasa indie yang kental di Chef. Kisahnya tentang celeb-chef asal LA, Carl Casper (Favreau sendiri), yang dipecat dari pekerjaannya di restoran karena berselisih dengan food blogger paling terkenal di Amerika (Oliver Platt). Segera setelahnya, Favreau membawa kita dalam sebuah road-food movie dengan semangat allez cuisine yang lembut namun tempting.

Dalam masa sulit mengupayakan integritasnya sebagai juru masak dan mengambil hati putranya (Emjay Anthony), Casper menerima nasihat mantan istrinya (Sofia Vergara) untuk bekerja independen—mengejar mimpinya menjalankan bisnis food truck di Miami. Bersama rekan sous chef-nya (John Leguizamo) dan putranya, food truck Casper berkeliling East Coast dari Miami ke New Orleans kembali ke LA. Celeb-chef ini pun kembali pada fetish-nya terhadap makanan; ia kembali berkarya seni lewat masakannya.

Menonton Chef terasa seperti menunggu seorang chef asli menyiapkan makanan asli. Anda harus sabar menunggu sang chef (dalam film ini, Favreau (sebagai sutradara)) untuk menyiapkan bahannya sekaligus memanaskan kompornya (dimulai dari masalah Casper dengan bosnya, dengan putranya yang masih kecil, serta kegaptekannya di dunia penuh tweet yang malah membawanya berseteru dengan sang food blogger). Lalu, saatnya memberi bumbu hadir dengan sangat menggoda saat Casper mulai dengan food trucknya. Saat penyajiannya justru terlalu kilat; setelah perjalanan jauh menuju LA—saat film ini memasuki bagian paling menggiurkan—film ini berakhir begitu saja. Seperti makanan lezat yang tiba-tiba sudah habis kita lahap.

Hal itu membuktikan bahwa Chef adalah road movie yang sangat lambat di awal untuk memastikan penonton melihat betapa concern-nya film ini menggarap tema kulinernya. Terlalu fokus pada makanan sampai kadang lupa pada intisari plotnya. Namun, yang membuat saya kagum adalah intensitas saat “cooking time” yang terasa sangat intens, seintens adegan erotis di film-film lain—membuat Chef layak menyandang predikat real food porn. Paruh akhir film ini sangat menyenangkan dengan pacing berirama Cubano yang kadang direm dengan montase sosial media—menandakan pengaruh pop culture yang khas.

Andai Favreau sedikit melambatkan visualnya yang foodie dan sedikit lebih fokus pada plotnya, Chef mungkin tak terasa seperti road movie banal yang cuma meminjam godaan visual sandwich dalam food truck-nya. Sama seperti lava cake yang ada di film ini, kerak luarnya memang sedikit kurang matang, namun cokelat di dalamnya meleleh sempurna—plotnya memang ‘mentah’, tapi visualnya sangat foodie.

2 comments on “Chef (2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *