READ THIS REVIEW IN:
Potongan adegan dari The Conjuring mengawali kisah gruesome dari Annabelle (ingat para suster yang mendapat gangguan supranatural dari boneka yang “kerasukan”? Adegan itu ditambah voice cameo dari Ed Warren alias Patrick Wilson). Annabelle dimulai dengan flash back beberapa bulan sebelum kejadian tadi; ada sepasang pasutri, Mia (Annabelle Wallis) dan John (Ward Horton), yang tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka. John memberi hadiah pada istrinya yang tengah hamil sebuah boneka porselen yang nantinya menjadi sang boneka ‘antagonis’. Namun, tiba-tiba malapetaka—yang melibatkan sekte satanis—mengancam keluarga ini dan semuanya takkan pernah sama lagi.
Melihat dari premisnya, Annabelle seharusnya bisa menjadi perluasan universe-nya The Conjuring yang bermakna, meskipun spin-off ini sebenarnya adalah prekuel (dua sosok yang terindikasi sebagai The Warrens disinggung di film ini). Dengan James Wan sebagai produser dan DoP favoritnya, John R. Leonetti, sebagai sutradara, ditambah viral strategi memakai embel-embel ‘Conjuring‘, perbandingan antara Annabelle dan The Conjuring jelas tak terelakkan lagi.
Menyutradarai spin-off film horror sukses tentu bukanlah pekerjaan mudah. Leonetti (yang punya takdir semacam Chris Nolan-Wally Pfister dengan James Wan) tahu pasti formulanya; ia tahu semua komposisi yang membuat film-film horror karya Wan menjadi cult—intinya, dia tahu teknik visual yang selalu berhasil membuat penonton merasa terisolasi, dia tahu di mana adegan jump scare seharusnya ditempatkan, dan ia tahu bagaimana cara membuat adegan “biasa” terasa menakutkan. Namun, ujung-ujungnya Annabelle malah gagal menyamai The Conjuring, bahkan terasa not half as fun and scary as pendahulunya. Leonetti kehilangan kualitas Wan dalam mempresentasikan horrornya—dia kehilangan ‘hati’ dari film horror.
Secara teknis, Annabelle jelas adalah carbon copy dari The Conjuring dengan adegan jump scare yang lebih gampang diprediksi. Beberapa momen memang punya orisinalitas; pergerakan dinamis kamera pun selalu berhasil membuat saya amazed, meskipun momentumnya sering tertebak. Namun, permasalahan utama Annabelle adalah plotnya yang terkesan horror over substance (apalagi endinginya). Skrip Gary Dauberman gagal meyakinkan penonton bahwa ancaman utama film ini adalah si titular Annabelle—sebuah boneka. Seluruh plotnya terjebak dalam pusaran prioritas ingin menampilkan horror keluarga, boneka kesurupan, sekte satanis, atau kotbah gospel. Annabelle gagal menjadi Annabelle.
Annabelle terasa seperti spin-off lucu yang terlalu digembar-gemborkan. Perbandingan dengan The Conjuring jelas tak mungkin lagi, karena film ini tidak lebih seram dari film boneka James Wan, Dead Silence.

Leave a Reply