Ex Machina (2015) – Review

Read Time:4 Minute, 13 Second

If you’ve created a conscious machine, that’s not the history of man — that’s the history of Gods,” said Caleb.

Ex Machina is an original thought-provoking debut from Alex Garland. It’s a larger-than-life sci-fi drama turns into an old, claustrophobic identity thriller without warnings.

Alex Garland—working behind the screen of the acclaimed 28 Days Later, Sunshine, and Dredd—created an iron-cold artificial intelligence drama in Ex Machina, his beyond-belief directorial debut. 

There are plenty of films about artificial intelligence but none is like Ex Machina. It’s an original, claustrophobic AI drama about playing god and, obviously, playing “human.” Focusing more on characters and interrelations with only three on-screen characters, that’s what makes this film a rare one. I just can’t wait to call it GREAT!

Caleb (Gleeson), a brilliant young programmer, won a chance to exclusively meet his deliberately enigmatic CEO, Nathan (Isaac) in his secluded house near mountain. There, Caleb learned about Nathan’s seclusive experiment: a larger-than-life humanoid robot with impressive artificial intelligence—an achievement Caleb addressed as a “history of Gods.”

Nathan then revealed his true intention. He gave a secret task for Caleb to conduct a set of Turing test on the robot—whom he gave sexuality and quality of being a female—Ava (Alicia Vikander). His goal was: to prove that Ava had reached the ultimate consciousness—like a pure human being.

The test went too far and too personal that Caleb finally got blurred. He could no longer understand who’s testing and who’s tested. And, it was just in the middle of the film.

Garland stamped it in the beginning that his debut is a thought-provoking piece of art. It’s an art; it’s beautifully shot with modest approach, but most of all, it’s beautifully written. It’s a set of questions about identity and morality wrapped in a slow-burned sci-fi drama; only this time the questions were too bold the drama went into a claustrophobic thriller.

Ex Machina is a triangle with all angles sustaining each other. We could not see every angle as one piece; we could only see each at a time—from each character’s POV. Kudos to Garland’s impeccably constructed narrative. To translate the narrative into something stomachable by the audience, Garland tend not to use striking visual effect or over-the-top sci-fi extravaganza; Garland induced every piece of his puzzle in each character—making them the focus of the story. It worked perfectly as perfect as Gleeson and Isaac synchronized to each other; all connected by Vikander’s stellar performance. She is the soul of Ex Machina in look.

While the revelation is too slow and the aim might be predictable by the quarter-end of the film, the whole idea remains solid from alpha to omega. Therefore, Ex Machina deserves my four stars minus one (for the predictability).

Ex Machina (2015)

Drama, Sci-Fi Written & Directed by: Alex Garland Starred by: Domhnall Gleeson, Oscar Isaac, Alicia Vikander Running Time: 108 mins Rated R for graphic nudity, language, sexual references and some violence

IMDb | Official Site

Alex Garland, penulis 28 Days Later, Sunshine, dan Dredd, membuat sebuah drama sci-fi tentang kecerdasan buatan (AI) yang super dingin dalam debut penyutradaraannya, Ex Machina.

Sudah banyak film tentang AI, namun tidak ada yang seperti ini. Ex Machina adalah drama AI yang orisinal dan klaustrofobik, tentang menjadi Tuhan sekaligus menjadi “manusia.” Fokus film ini pada ketiga karakter utama serta interaksi antara mereka-lah yang membuat Ex Machina langka.

Caleb (Gleeson), seorang programmer muda jenius, memenangkan lotere untuk bisa bertemu dengan CEO super misteriusnya, Nathan (Isaac), di kediamannya yang jauh dari manapun. Di sana, Caleb baru mengetahui tentang eksperimen rahasia Nathan: sebuah robot humanoid dengan kecerdasan buatan yang luar biasa—pencapaian yang Caleb sebut sebagai “sejarah para dewa.”

Kemudian, Nathan mengungkapkan tujuan aslinya. Ia memberi tugas rahasia pada Caleb untuk melakukan Turing test pada robot—yang diberikan seksualitas sebagai perempuan bernama Ava (Vikander). Tujuannya: untuk membuktikan bahwa Ava telah mencapai kesadaran yang sejati—seperti manusia.

Tes menyimpang terlalu jauh dan terlalu personal hingga Caleb kalut. Ia tak lagi mampu membedakan siapa yang diuji dan siapa yang menguji.

Garland langsung menunjukkan bahwa filmnya ini adalah karya seni yang thought-provoking. Ini adalah karya seni; yang disyut dengan pendekatan yang sederhana, namun ditulis dengan sangat indah. Ex Machina adalah daftar pertanyaan tentang identitas dan moralitas yang dikemas dalam drama sci-fi yang lambat. Hanya saja, pertanyaan-pertanyaannya terlalu tajam sehingga drama yang sudah dibungkus rapi seketika berubah menjadi thriller klaustrofobik yang penuh kejutan.

Ex Machina adalah segitiga dengan masing-masing sisi menopang sisi lain. Kita tak bisa melihat segitiga ini seutuhnya; hanya bisa melihat satu sisi dalam satu kesempatan—dari sudut pandang masing-masing karakternya. Untuk menerjemahkannya menjadi lebih sederhana untuk penonton, Garland tidak memilih efek visual yang mencolok atau tampilan sci-fi penuh ekstravaganza. Garland memasukkan setiap kepingan puzzle dalam karakternya—menjadikan mereka fokus ceritanya.

Meskipun penyampaiannya sangat lambat dan tujuannya sudah terprediksi saat mendekati akhir film; gagasan utama Ex Machina tetaplah solid dari awal sampai akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!