READ THIS REVIEW IN:
Sang ratu film adaptasi—Shailene Woodley (5 out of 5) sedang dalam performa terbaiknya. Kini ia memerankan Kat, gadis bermasalah dari keluarga disfungsional yang ‘nampak’ baik-baik saja. Saat Kat berusia 17 tahun, ibunya yang cantik namun galak, Evelyn (Eva Green), tiba-tiba menghilang; membawai badai es besar dalam hidup Kat.
White Bird mencoba mengisahkan kisah coming-of-age gadis yang trauma akan masa remajanya—dengan pendekatan yang nampak klasik namun agak campy. Film ini adalah sebuah studi karakter serius—dinarasikan dengan voiceover dari Kat—tentang hubungan seorang gadis dengan ayahnya ‘yang nampak lemah’ (Christopher Meloni), kekasih sekaligus tetangganya (Shiloh Fernandez), BFF-nya yang super spasmodic, kekasihnya yang lain—seorang detekftif, dan terapisnya. Namun, hati dari White Bird sejatinya adalah hubungan maternal-filial antara Kat dan ibunya, yang dibumbui dengan mimpi Kat yang menggambarkan proyeksi love-lostnya dengan sang ibunya serta pemberontakan seskualnya. Karakter Green bukanlah sekedar pemicu kejadian demi kejadian di film ini; dialah katalis utama film ini dengan penampilannya yang sangat quirky.
Woodley mungkin saja adalah episentrum film ini, namun Green-lah bintangnya. Meskipun agak komikal, karisma Green mampu menutupi performa aktor lain—frustrasinya, kecemburuannya terhadap putrinya, serta kebenciannya terhadap suaminya, semuanya sangat masif dan nyata. Dengan dua bintang feminim di layar, White Bird tentu saja sangat menggoda. What else can we expect?
Saya memang bukan penggemar karya sutradara Gregg Araki; namun, adaptasinya akan novel Laura Kasischke ini nampaknya mampu menampilkan tantrum khas sutradara ini (cuma Mysterious Skin yang saya tahu). Plotnya kurang terstruktur, tapi punya voice-over untuk membimbing penonton. Yang agak mengganggu, selain dreamlike signature a la Araki, adalah pace film ini. White Bird sangat lambat di awal bahkan sampai di klimaksnya—ditambah lagi twist-nya yang klise—menjadikan film ini agak membosankan. Namun, saya tetap menyukainya dengan atribut-atribut vintagenya sebagai homage kepada berbagai gerakan ‘teenage spirit‘ di akhir 80-an.
Meskipun separuh dari kisahnya diliputi misteri, inti dari White Bird tetap terefleksikan dalam hubungan antara kedua tokoh utama perempuannya—thanks to Woodley and Green.

Leave a Reply