READ THIS REVIEW IN:
Difilmkan selama 45 hari dalam 12 tahun dari 2002 sampai 2013 dengan pemeran yang sama hanya dalam 143 scenes, Boyhood adalah bukti bahwa Richard Linklater bukan sekedar seniman, tapi auteur ambisius dengan karya yang super pretentious. Boyhood adalah sebuah kisah coming-of-age yang belum pernah kita lihat sebelumnya: ini adalah penggambaran hidup seorang anak laki-laki yang nyata—semenjak ia masih berusia 5 tahun sampai ia berusia 18 tahun. Singkatnya, inilah magnum opus Linklater yang mencoba mengabadikan kehidupan secara otentik dalam sinema.
Kita kenal Richard Linklater lewat trilogi Before-nya, dengan convocation yang masih tetap hangat meskipun rentang waktunya sampai 18 tahun (bahkan Before Midnight masuk top list Sinekdoks tahun 2013). Boyhood adalah sesuatu yang sangat berbeda; film ini menceritakan berbagai tahapan hidup seorang anak selama 12 tahun. Tentu banyak hal yang terjadi, banyak konflik tersulut, orang-orang tumbuh berkembang, fashion berubah dengan cepat, air mata bercucuran dan tawa tetap menggema meskipun tak ada jalinan narasi yang menghubungkan semua itu. Semuanya mengalir begitu saja, mengubah seorang bocah kecil menjadi pria berkarakter di akhir film.
Ellar Coltrane memerankan Mason Jr., putra Olivia (Patricia Arquette) dan Mason Sr. (Ethan Hawke) sekaligus adik Samantha (Lorelei Linklater, putri sang sutradara). Masa kecil Mason dihabiskan dengan migrasi dari satu kota ke kota lain seiring kehidupan pernikahan ibunya dari satu suami ke suami lain. Meskipun hidup dalam keluarga yang disfungsional, Mason hanyalah bocah biasa dengan kehidupan yang biasa—membuat graffiti, bermain X-Box, menyukai Harry Potter, dan banyak hal lainnya. Menonton Boyhood memberi kesan seperti menonton biografi semi dokumenter, namun, semuanya sudah ada di skrip dan tidak semua hal disampaikan.
Boyhood menghadirkan perasaan meta-nostalgia bagi penontonnya. Ini adalah sebuah potret otentik tentang bagaimana kehidupan mengubah karakter seseorang; tapi bukan cuma itu, film ini juga merupakan potret kultur—khususnya kultur Amerika. Boyhood menampilkan berbagai tonggak pop culture dari setiap momennya. Atau kita bisa bilang: Boyhood adalah time-lapse dari kehidupan seorang laki-laki dengan emosi dan perasaan sebagai bookmark-nya.
Mudah untuk mengikuti perjalanan Mason ketika ia masih kecil, meskipun banyak hal yang kurang menyenangkan yang ia alami. Namun, ketika ia beranjak dewasa dan mulai memahami hidup, filmnya sedikit membosankan. Sama halnya dengan kehidupan, benar?
Sulit untuk mereview Boyhood, karena film ini bukanlah sekedar film yang bisa ditonton, namun harus dirasakan, direfleksikan, dan direnungkan. Namun begitu, dengan pendekatan naturalisnya, Linklater sukses menampilkan sebuah perjalanan besar dalam sinema, sekaligus membuat film yang benar-benar hidup. Benar, hidup.

Leave a Reply