Pendekar Tongkat Emas (2014)

Pendekar Tongkat Emas is a homage to classic martial art action flick seasoned with Indonesian drama makeover, Indonesian A-listers, and the most mesmerizing savanna from Indonesian most exotic islands. It’s visually beautiful although the story is under-written.

READ THIS REVIEW IN:

  

Alkisah, di dunia para pendekar, hiduplah seorang pendekar legendaris, Cempaka sang Pendekar Tongkat Emas (Christine Hakim)—pendekar tangguh yang dikenal dengan jurus tongkat emasnya. Di usia senjanya, ia memutuskan untuk mewariskan tongkat emasnya beserta sebuah jurus pamungkas rahasia kepada murid yang ia pilih. Namun, sebelum jurus itu diturunkan dengan sempurna, Cempaka terbunuh. Kini, para muridnya harus menemukan Pendekar Naga Putih—untuk mempelajari jurus turunan gurunya serta untuk membalaskan dendamnya.

Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah homage film pendekar klasik Indonesia tahun 80-an, seperti Si Buta dari Gua Hantu atau Pendekar Bukit Tengkorak, dengan budget milyaran rupiah. Film ini diproduksi oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, dua pionir kebangkitan perfilman Indonesia sekaligus dua penganut teknik hyper-realism dalam film; selain itu, film ini juga diperkuat oleh aktor-aktor A-list Indonesia dan dilengkapi dengan crew pilihan. Ini adalah breakthrough untuk perfilman Indonesia, di mana sebuah film dengan sub-genre martial art yang sudah lama tenggelam justru diproduksi dengan mendobrak zona nyaman perfilman Indonesia. Dari segi produksi maupun ambisinya, film ini berdampingan dengan The Raid di genre yang sama, namun sub-genre yang jauh berbeda—they’re completely on two different leagues.

Sebagai film martial art, Pendekar Tongkat Emas bukanlah film aksi yang super-dinamis dan dipenuhi adegan pertarungan jarak dekat yang intens. Film ini memang punya kualitas bela diri sekaliber film-film produksi Tiongkok, namun, kualitas yang sebenarnya ditampilkan film ini adalah kualitas art-house bela diri khas Indonesia.

Bukannya memprioritaskan adegan bela dirinya, sutradara Ifa Isfansyah (Sang Penari) justru memberi highlight pada keindahan visual yang ditampilkan film ini. Adegan pertarungannya tentu saja terkoreografi dengan baik, meskipun pengambilan gambarnya terlalu cepat dan editing tambal sulamnya terlalu ketat, namun tak masalah, karena fokusnya yang ditampilkan memang sisi artistiknya.

Pendekar Tongkat Emas punya tim production design dan tata busana yang sangat berdedikasi, ditambah lagi pemilihan lokasi yang sangat eksotis—di tengah-tengah savanna khas Sumba yang mesmerizing—dan grand scoring gubahan Erwin Gutawa. Semua paduan tadi mampu sedikit menutupi sisi action-nya yang kurang dengan artistik visual yang sangat grand untuk ukutan film bela diri.

Sayangnya, keindahan visualnya tetap tidak bisa menyembunyikan plotnya yang terlampau sederhana untuk film dengan produksi besar-besaran seperti ini. Seperti halnya kisah-kisah pendekar pada umumnya, twist dan turn memang ada, namun meskipun scriptnya sudah disupervisi Seno Gumira Ajidarma—penulis cerpen pendekar sekaligus sastrawan kondang—plotnya kurang memiliki kedalaman dan detail yang gereget. Bahkan, di bagian tengah film, plotnya terasa sangat diseret-seret hingga terasa membosankan. Meskipun begitu, plot yang sederhana itu nampaknya cukup kuat untuk menjadi landasan filosofis yang menopang finale film ini yang (seharusnya bisa lebih) grand.

Untungnya, film ini punya aktor-aktor yang berbakat untuk menutupi kekurangannya. Christine Hakim adalah kunci utamanya, diperkuat lagi dengan penampilan anak murid karakternya yang solid lewat Reza Rahadian, Eva Celia, dan Tara Basro, serta Aria Kusumah (aktor cilik yang ditemukan produsernya lewat internet). Namun, magnet sebenarnya tetaplah Nicholas Saputra, yang karismanya tak kunjung surut. Jadi, siap untuk ikut bertarung?

VERDICT: Dengan segala keindahan visual dan aktor yang cemerlang, Pendekar Tongkat Emas sukses mewujudkan homage bagi film-film bela diri klasik; tapi jangan bandingkan aksinya dengan The Raid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *