Death Note (2017) – Review

Review: Untuk apa me-remake kisah yang ‘Jepang banget’ ke dalam setting Amerika yang tak spesial? Untuk apa menceritakan kisah—yang seharusnya bisa lebih inovatif di era internet ini—tapi tanpa inovasi? Untuk apa me-remake Death Note dengan karakter-karakter remaja Amerika kalau tidak ada bedanya? Apakah agar penonton Amerika tak perlu baca subtitle untuk menontonnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiringi langkah adaptasi Death Note bikinan Adam Wingard (The Guest, You’re Next) ini. Sang sutradara mempresentasikan gubahannya atas manga Tsugumi Oba dan Takeshi Obata dengan segala keahliannya untuk menghadirkan kekerasan visual yang stylish. Secara teknis, tak perlu meragukan lagi kelayakan Wingard menghadirkan visual film ini; namun, jika dibandingkan dengan hasil akhirnya yang meh, pertanyaan yang lebih besar muncul: benarkah Wingard mengerti esensi Death Note?

Death Note (2017) - Nat Wolff & Willem Dafoe | Image via themoviedb
Death Note (2017) – Nat Wolff & Willem Dafoe | Image via themoviedb

Satu-satunya yang bagus dari Death Note ini adalah kadar ultra-violence-nya yang stylish, meskipun di beberapa bagian terasa agak Final Destination. Film ini tak segan-segan menggambarkan kematian yang over-the-top; darah ditumpahkan sebebasnya, tulang diremukkan dan daging dicincang sesukanya demi menghadirkan efek horror. Tonton saja kematian pertama di film ini dan buktikan sendiri.

Namun, sebelumnya, ketahuilah dulu cara kerja Death Note (kalau-kalau belum pernah tahu sebelumnya). Notebook supranatural yang dijaga oleh sesosok shinigami (semacam dewa kematian) ini memiliki kemampuan untuk membunuh orang. Pemilik buku ini hanya perlu menulis nama orang yang ingin dibunuhnya sembari membayangkan wajahnya, maka orang tersebut akan mati tanpa sentuhan siapapun yang menuliskan namanya.

Dalam film ini, buku tersebut jatuh ke tangan Light Turner (Nat Wolff). Setelah bertemu shinigami-nya, Ryuk (diisi suaranya oleh Willem Dafoe), Light mulai membuktikan kemampuan buku ini untuk “menghukum mati” para kriminal sebagai wujud justice. Bahkan, ia menciptakan sebuah alter-ego bernama Kira, yang dijadikannya manifestasi ‘god of justice.’ Perbuatannya tentu saja menjadi kontroversi besar dan menarik penegak hukum, mulai dari ayahnya sendiri (Shea Wigham) sampai sesosok detektif nyentrik bernama L (Lakeith Stanfield).

Yang jelas, remake ini gagal menerjemahkan karakterisasi over-the-top manga-nya ke lingkungan barunya. Mungkin, maksud Wingard atau penulisnya adalah untuk menghadirkan karakter yang lebih natural, lebih gampang disukai dan lebih berjiwa muda dibandingkan karakter manga-nya yang tidak manusiawi. Darah muda yang mendidih dihadirkan dalam cerita untuk memberikan background yang lebih ‘normal’ untuk Light. Namun, karakter ini bukannya tampil seperti formula (alleged) tersebut, tapi malah tampil comical dan terkesan konyol. Bahkan, modus operandinya pun terkesan using kalau melihat dunia yang sudah mengenal internet lebih baik dari masa konsepsi Death Note original. Penonton yang sudah kenal versi originalnya bisa jadi merasa malu sendiri; sementara, penonton awam mungkin akan mengernyitkan dahi melihat Light yang sepertinya lebih perlu enlightenment daripada buku ajaib.

Permasalahan makin memuncak ketika pacar Light, Mia (Margaret Qualley) mulai ikut terlibat dan justru malah terobsesi untuk membunuh para penjahat tanpa alasan yang jelas. Ada indikasi bahwa ia dan Light mungkin memiliki persamaan masa lalu, sehingga menjadikan mereka saling tarik. Namun, indikasi tersebut tak pernah tampil sampai ke permukaan; dan fokus pada pasangan ini dirusak dengan kemunculan L.

death-note-01
Death Note (2017) – Lakeith Stanfield & Nat Wolff | Image via themoviedb

L sendiri sebenarnya adalah karakter paling presentable dalam film ini. Selain karena ia berhasil memberi warna lain pada kisah Death Note, ia juga berhasil menjadi wujud representasi people of color dan people with special need. Sayangnya, ia gagal menyesuaikan diri dengan kisah baru ini yang alih-alih menampilkan percaturan hidup mati antara L dan Light, justru malah tampil seperti kucing-kucingan tanpa ujung. Karakter L jauh terlalu kompleks untuk berada dalam permainan kacangan Light. Akibatnya, perselisihan antara L dan Light yang seharusnya menjadi esensi utama kisah ini tak pernah tersampaikan.

Parahnya lagi, Ryuk sebagai trademark kisah ini benar-benar tidak dimanfaatkan dengan baik. Eksistensinya dalam Death Note­-nya Wingard hanya makin membuktikan bahwa filmmaker pembuat remake ini benar-benar tak memahami inti dari kisahnya sendiri. Kisah yang kental dengan nuansa Jepang ini tidak bisa serta merta dijadikan sebuah film horror-aksi ala Hollywood yang sama sekali tak mempertimbangkan mitos yang dibawanya. Adam Wingard mungkin punya keahlian sinematis, tapi itu saja tak cukup untuk menambal ketidak mampuan Death Note ini untuk menceritakan tentang Death Note.

Death Note (2017)

star1.5Death Npte (2017) Poster via themoviedb

Adventure, Crime, Drama Sutradara: Adam Wingard Penulis: Charley ParlapanidesVlas Parlapanides, Jeremy Slater dari manga karya Tsugumi Ôba & Takeshi Obata Pemeran: Nat WolffLakeith StanfieldMargaret QualleyWillem Dafoe Durasi: 101 mins

IMDb

Advertisements

Author: Paskalis Damar AK

A Bali-based blogger. A cinema loner and self-claimed movie fan since 2013. Public Relation in non-cinematic world. bit.ly/1iSSB2Q

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s