Berlin Syndrome (2017) – Review

Berlin Syndrome (2017) Review – Teresa Palmer | Image via themoviedb

Review: Teresa Palmer menghadirkan penampilan yang memukau dalam film terbaru Cate Shortland, Berlin Syndrome. Mengadaptasi novel Melanie Joosten tentang drama penculikan yang kelam, Shortland mampu menghadirkan drama-thriller yang sunyi dengan menghadirkan nuansa klaustrofobik dan dinamika dua tokoh utamanya, dengan Palmer sebagai intinya.

Berperan sebagai Clare, seorang fotografer asal Brisbane yang berniat mencari jati diri di Berin, Palmer menghadirkan semangat pencarian yang menggebu-gebu dari seorang pelancong solo. Saat di Berlin itulah Clare bertemu dengan Andi (Max Riemelt, Sense8), seorang guru Bahasa Inggris lokal yang charming namun sedikit tertutup. Berawal dari sentuhan malu-malu dan keengganan, keduanya justru berakhir di ranjang—dengan kesadaran untuk tidak menghadirkan komitmen. Paginya, Clare baru menyadari bahwa ia terkunci di apartemen Andi dan beranggapan bahwa si Pak Guru hanya lupa meninggalkan kunci untuknya. Ketika esok berikutnya ia kembali terkunci, barulah ia sadar bahwa Andi memang tidak berniat melepaskannya. Clare disekap.

Berlin Syndrome (2017) Review – Teresa Palmer | Image via themoviedb
Berlin Syndrome (2017) Review – Teresa Palmer | Image via themoviedb

Shortland menggambarkan Berlin Syndrome sebagai sebuah gambaran sensual nan dingin tentang hubungan yang posesif atau komitmen satu arah. Drama penyekapan ini dihadirkan dengan analogi tahap kehilangan, dalam hal ini, kehilangan kebebasan. Dalam penyampaiannya, Shortland harus berterima kasih pada Palmer dengan range penyampaian emosinya dalam setiap pergeseran tahap.

Berawal dari penyangkalan bahwa dirinya telah disekap oleh seseorang yang dipercayanya. Clare menganggap awalnya semua ini hanya kesalahan kecil, namun ternyata ia salah sehingga ia masuk ke tahap kedua: amarah. Kemarahannya menyulut serangkaian percobaan cerobohnya untuk kabur yang justru malah melukai dirinya sendiri dan Andi. Proses bargaining yang mengikuti sedikit bercampur dengan tanda-tanda depresi yang mulai ia alami. Hingga akhirnya, Clare mulai menerima keadannya dan justru mulai terlibat Stockholm syndrome dengan penyekapnya. Palmer memaknai setiap tahapnya dengan acting yang mendalam, memberikan gambaran korban penyekapan dengan sangat pahit. Lewat acting Palmer, kita bisa melihat kehancuran batin seseorang hanya dari tatapan matanya saja.

Meskipun menghadirkan sebagian besar inti cerita ini, karakter Palmer sebenarnya masih terasa lebih straightforward kalo dibandingkan dengan penyekapnya, Andi. Sebagai karakter pelatuk, Andi selalu tampil misterius dan selalu diliputi pertanyaan-pertanyan tentang motivasi serta latar belakangnya. Pada satu kesempatan, ia bahkan sempet menyampaikan dengan gamblang kepada Clare bahwa sebaiknya mereka tetap tidak mengenal satu sama lain. Prinsip tersebut dipegang teguh oleh karakter Andi maupun penyutradaraan Shortland yang tak pernah menghadirkan eksposisi tentangnya. Untuk mendalami karakternya, penonton dipaksa untuk jeli menangkap detail dan subteks yang ada di sekitar Andi.

Berlin Syndrome (2017) Review – Teresa Palmer & Max Riemelt | Image via themoviedb
Berlin Syndrome (2017) Review – Teresa Palmer & Max Riemelt | Image via themoviedb

Meskipun begitu, Berlin Syndrome kadang terasa manipulatif dan agak sedikit artifisial, tapi presentasinya lumayan mampu menyampaikan maksud drama-thriller-nya. Presentasinya yang sunyi dan kelam memang sedikit menantang penonton untuk mengikutinya; namun, di sisi lain, kesunyian tersebutlah yang justru berhasil menangkap atmosfer penyekapan yang sesungguhnya. Menghadirkan perassan tidak nyaman bagi penontonnya.

Dalam menampilkan thriller penyekapannya, film ini mungkin tak terlalu menawarkan sesuatu yang baru. Namun, Berlin Syndrome mampu menghadirkan analogi tahap kehilangan untuk menangkap horror penyekapan tanpa harus meromantisasinya.

Berlin Syndrome (2017)

star3Berlin Syndrome (2017) poster via themoviedb

Mystery, Drama, Thriller Sutradara: Cate Shortland Penulis Naskah: Shaun Grant berdasarkan novel Melanie Joosten Pemeran: Teresa PalmerMax Riemelt Durasi: 116 mins Rated R

IMDb

Advertisements

Author: Paskalis Damar AK

A Bali-based blogger. A cinema loner and self-claimed movie fan since 2013. Public Relation in non-cinematic world. bit.ly/1iSSB2Q

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s