Share to your friends if you like it!

Di Brazil, Jose Padilha adalah penghasil box office dengan kedua filmnya yang menggebrak Elite Squad dan Elite Squad: The Enemy Within. Bahkan, film yang kedua ini telah menjadi kultus di perfilman Brazil bersama Cidade de Deus. Tahun ini, ia mencoba peruntungannya di Hollywood dengan me-reboot film klasik Paul Verhoeven, RoboCop. Hasilnya… tidak mengecewakan–bahkan lebih baik dari sekuel RoboCop manapun, hanya saja, yang satu ini agak terlalu percaya diri.

Mengambil jalur yang berbeda dengan film aslinya, reboot ini berkisah tentang masa depan, di mana OmniCorp, sebuah perusahaan robot, meraih kesuksesan dalam promosinya di luar negeri. Namun, di dalam negeri, OmniCorp terhadang UU Dreyfuss yang dicanangkan Senator Dreyfuss (Zach Grenier). Untuk meyakinkan warga Amerika, presiden OmniCorp, Russell Sellars (Michael Keaton) mempekerjakan Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) untuk menaruh manusia di dalam robot–agar robot ini lebih manusiawi dan bisa diterima masyarakat

Pria beruntung yang dijadikan percobaan adalah Alex Murphy (Joel Kinnaman), polisi Detroit yang nyaris mati karena ledakan bom akibat ulahnya mengusik seorang kriminal besar Antoine Vallon (Patrick Garrow). Tubuhnya yang hancur berantakan dimasukkan ke dalam sebuah mesin perang berplitur hitam (sebagai strategi promosi) dan kemudian diperkenalkan secara umum sebagai RoboCop. Masalahnya: apakah si pembela kebenaran ini bisa menerima kehidupan barunya yang kaku sebagai setengah manusia-setengah robot sementara ia masih punya keluarga dan emosi?

RoboCop ini sama sekali tidak menghina pendahulunya–bahkan ia sangat menghormatinya (termasuk dengan jargon “won’t buy that for a dollar“-nya). Masalahnya… RoboCop ini terlalu bermain aman jika dibanding versi Verhoeven

Jika masuk koreografi tembak-menembaknya, pacuan adrenalin memang terasa. Padilha berhasil mengkonversinya dengan efektif di layar. Beberapa kali memang adu tembaknya dangkal (terasa seperti deja vu); namun, sering kali bisa sangat menghibur jika kau jauhkan ekspektasimu. Namun, jika masuk bagian satir-nya yang adalah kekuatan film aslinya, RoboCop ini terasa sumbang. Narasi dalam pidato Samuel L. Jackson terlalu gamblang dan tidak mengubah sesuatu apapun.

Tapi, hal yang pasti akan sangat disadari adalah plotnya yang kilat. Tanpa villain utama, film ini melemparkan fokusnya dari satu villain kecil ke villain lain dengan sangat mainstream. apalgi, disyut dengan kolaborator tetap Padilha, Lula Carvalho, RoboCop ini terlalu jauh di zona aman Padilha. Mungkin pengaruh sasaran rating PG-13-nya yang membuat film ini tumpul–memang brutal di beberapa scene, tapi terlalu halus di bagian lainnya; sementara itu, versi Verhoeven sangatlah kejam, tajam, dan blak-blakan.

Memang tidak ada penyesalan menyaksikan usaha serius ini. Pace-nya yang kilat dan aksinya yang seimbang mudah diikuti. Para pemain pendukungnya pun sangat mengagumkan. Tak perlu berharap terlalu banyak jika kau masih memikirkan filmnya yang lama.

Share to your friends if you like it!

Categories: Movie Review

2 Comments

RoboCop (2014)

  1. Padahal dengan latar belakang kepolisian dan dunia politik yg penuh korupsi, film ini bisa sehebat The Dark Knight, tapi entah kenapa justru cuma tembak2an yg mudah banget dilupakan. Sisi pejabat korup yg takut akan RoboCop tidak begitu tergali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *