POPKORNS: The Legend of Hercules (2014); I, Frankenstein (2014)

THE LEGEND OF HERCULES (2014)

Kembali ke zaman Yunani kuno, era-nya Renny Harlin gagal mengembalikan karirnya yang tak berimbang. Saya lebih ingat Cutthroat Island daripada Die Hard 2 atau Cliffhanger. Di sana jugalah, film Hercules pertama tahun ini gagal membuktikan bahwa ia bukan sekedar hiburan popcorn.

Kesalahan Hercules ini yang pertama dan (mungkin) satu-satunya adalah kisah film ini sendiri yang mengisahkan asal mulanya. Hercules selalu bertarung tanpa tahu bahwa ia keturunan Zeus–tapi, tetap saja, dia Hercules–musuh terkuat umat manusia. Sementara itu, di seberang layar, para penonton tahu benar identitas Hercules ini.

Hercules (Kellan Lutz)–putra Ratu Alcmene (McKee) yang hamil karena Zeus–dikhianati ayahnya, Raja Amphitryon (Adkins) yang berusaha menikahkan putranya Iphicles (Garrigan) dengan Hebe (Weiss)–cinta sejati Hercules. Ia dikirim ke sebuah pertempuran yang tak mungkin ia menangkan, ia menghadapi misi bunuh diri. Namun, dia tetaplah Hercules yang bisa menyelamatkan diri dan merangsek balik ke tanahnya sebagai petarung.

Meskipun film ini menggaris bawahi asal mula Hercules, hasil akhirnya justru terasa datar dan memaksakan diri menjadi klasik. Para pemeran yang dipimpin Lutz terasa mengambang; sementara karakter mereka di layar terasa dangkal. The Legend of Hercules terasa keren saat adegan perkelahian yang sangat kilat dan berasa 300. Acuhkan saja plotnya, film ini tetap tentang Hercules.

I, FRANKENSTEIN (2014)

Ditulis dalam bentuk graphic novel oleh Kevin Grevioux–penulis Underworld–I, Frankenstein (bukan bagian franchise I, Robot) memiliki kredo yang sama dengan pendahulunya.Seolah estetika Underworld ditransfer ke dalam film ini. Protagonis imortalnya ditukar dengan Frankenstein; pertempuran vampir-lycan ditukar dengan gargoyle-iblis. Namun, setting modern-nya dipertahankan.

Adam (Aaron Eckhart)–makhluk yang dibuat dari 8 mayat oleh Victor Frankenstein (Aden Young)–terlibat dalam peperangan abadi antara garogyle pimpinan Leonore (Otto) melawan para iblis pimpinan Naberius (Nighy). Kemudian, seorang ilmuwan yang sepihak dengan Naberius, Terra (Strahovsky) muncul dan berhubungan secara unik dengan Adam. Pada akhirnya, apakah Adam akan berakhir seperti novel Frankenstein-nya Mary Shelley? Klise besarlah jawabannya.

I, Frankenstein terasa seperti Van Helsing–membuktikan bahwa modernisasi kisah klasik masih belum mampu membuktikan apapun, kecuali menjadi hiburan popcorn. Pengubahan kisah ini dengan menambahkan gimmick modern hanya terasa dengan CGI yang kaku dan koreografi yang sedikit berlebihan. Untungnya, para pemerannya mampu menyelamatkan film ini–menjadikan Strahovsky bintang. Talenta Eckhart memang keren dan usaha Nighy lebih dari cuma sekedar box-office flop.

Dengan label been-there-done-that-nya, saya lebih nyaman membandingkannya dengan Underworld.

1 comment on “POPKORNS: The Legend of Hercules (2014); I, Frankenstein (2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *