Captain America: The Winter Soldier (2014)

Read Time:8 Minute, 21 Second

Instalasi terbaru franchise Captain America ini mengurung kita dengan pertanyaan “siapakah penjahatnya?”, namun tidak sedikit pun memberi kita jawaban yang memuaskan selama durasi dua seperempat jamnya. Seperti biasa, Captain America tidak akan menjadi film Marvel yang biasa-biasa saja (lihat saja The First Avenger untuk tahu seberapa uniknya franchise ini). Secara mengejutkan, film ini menjauhi selera humor Marvel dan justru menjadi lebih serius—dengan plot yang cukup kompleks yang menyimpang dari plot film berbasis komik superhero biasa.

The Winter Soldier berfokus pada Captain America (Chris Evans) dan Black Widow (Scarlett Johansson) dalam mengungkap rahasia di balik S.H.I.E.L.D. dan membuka tabir konspirasi yang melibatkan para anggota S.H.I.E.L.D. Organisasi ini tengah berkutat dengan Project Insight, sebuah sistem pertahanan yang memakai pesawat tempur canggih yang mampu menyingkirkan potensi ancaman di bumi bahkan sebelum mereka bertindak. Meskipun proyek ini mampu memecah Cap dan Nick Fury, konflik ini belum menjelaskan apa yang tergambar di judulnya.

The Winter Soldier yang sesungguhnya (Sebastian Stan. Familiar?) diperkenalkan di tengah-tengah kericuhan ini dan menjadi tandingan yang setara bagi Cap. Pada awalnya, saya pikir menaruh seorang penjahat super ke dalam kisah yang sudah terlanjur rumit adalah sebuah kesalahan—namun, saya salah. The Winter Soldier benar-benar menjadi penghambat jalan Cap dalam menginvestigasi apa yang sebenarnya terjadi di dalam S.H.I.E.L.D. Dengan bantuan Black Widow dan Sam Wilson alias Falcon (Anthony Mackie), Cap menghadapi konspirasi yang paling penuh intrik dalam universe Marvel.

Keputusan untuk memasukkan beberapa kutub permasalahan dalam sebuah film franchise kelihatannya sangat beresiko; namun, setelah film berjalan beberapa saat, saya bisa lihat dengan jelas bahwasanya plot film ini bukan hanya terstruktur, namun juga sangat conflict-driven. Selama babak pertama dan selanjutnya, plot dan pace film ini terasa sangat ketat—karena kita dipaksa menebak-nebak siapa dalang sebaliknya di balik kekacauan ini. Dengan porsi aksi serta investigasi yang tepat, babak awal film ini menegangkan dan mencekam, namun mendekati akhir film, The Winter Soldier terasa sama tumpulnya dengan film Marvel kebanyakan dengan resolusinya yang terkesan menggampangkan. Sangat disayangkan karena atmosfer yang kuat sudah terbentuk sampai klimaks.

Tak diragukan lagi, Marvel Cinematic Universe Fase 2 jelas-jelas memperluas dan memperkaya dunianya dengan detail-detail yang keren. Dan bukan kejutan lagi bahwa film-film di fase 2 ini akrab dengan twist (sebut saja The Mandarin di Iron Man 3 atau Loki di akhir Thor: The Dark World). The Winter Soldier juga mengadaptasi kecenderungan ini dengan twist yang tajam—yang rasanya tidak menarik jika saya bahas di sini—Anda harus melihat sendiri. Twist-nya sudah melebih rasa spionase prosedural yang melabeli S.H.I.E.L.D. di awalnya.

Selain memperkenalkan karakter-karakter baru, termasuk di dalamnya Falcon yang penuh simpati (diperankan Mackie) dan Alexander Pierce-nya Robert Redford yang totalitas, film ini juga menandai kembalinya beberapa karakter lama (yang mungkin terlupakan juga) dari The First Avengers—dengan sedikit sentimental— atau The Avengers. Namun, sorotan utama film ini jelas adalah trio Cap, Black Widow, dan Nick Fury (L. Jackson). Cap tidak lagi berkutat dengan adaptasinya di dunia modern, tapi ia kini berfokus pada kepemimpinannya yang alami dalam mengatasi permasalahan modern. Kita juga bisa melihat sisi lain Black Widow dan Nick Fury secara lebih personal—sebagian besar karakter yang muncul memiliki kedalaman yang spesia. Jadi, anggap saja ini Avengers 1.5.

Sutradara duo Russo telah menerima tantangan dari bos Marvel, Kevin Feige, dengan gaya mereka sendiri. Namun, film ini menandakan bahwa Marvel Studio memang sudah bersiap untuk mengambil resiko terbesar hanya dalam satu film (yang bukan Iron Man, yang Anda tahu sangat populer). Jadi, The Winter Soldier telah menjelma menjadi film paling gelap dalam MCU sejauh ini (bahkan lebih gelap dari film berjudul gelap The Dark World). Ini adalah sebuah thriller konspirasi yang cukup kompleks yang mampu memberi definisi yang berbeda bagi film superhero—film ini terstruktur dari awal hingga akhir dan siap untuk menaikkan skala The Avengers dengan cara berbeda dengan MCU Fase 1.

TRIVIA: Ada satu mid-credit scene dan satu post-credit scene di akhir film ini. Yang pertama melibatkan Aaron Taylor-Johnson dan Elizabeth Olsen. Butuh clue? Klik di sini kalau berani! Yang kedua melibatkan Sebastian Stan sebagai… Clue? Klik yang ini dan pikir sendiri. Jadi… jangan buru-buru keluar bioskop jika tidak ingin melewatkannya.

TRIVIA: Kalau masih terlewatkan juga, teman blogger saya bisa membantu di sini: Click!

TRIVIA: Jika Anda beruntung, Anda bisa melihat tulisan “The path of the righteous man” di makam salah satu karakter kita. Yah, Anda pasti tahu, kalimat itu adalah kutipan Injil favorit Jules Winnfield di Pulp Fiction. If you know what I mean.

TRIVIA: Kate alias Agent 13 alias Sharon Carter adalah kekasih Cap pada akhirnya. Gadis ini ada hubungan darah dengan Peggy Carter, kekasih masa lalu Cap.

5 responses

  1. Lebih suka film ini daripada Spidey 2, haha.

    1. hahaha Spidey lebih bleak ya
      konfliknya kurang tereksplor :p

  2. […] standalone films in Phase Two. Iron Man 3 and Thor: The Dark World were all grittier but deceiving, Captain America: The Winter Soldier brought conspiracies involving S.H.I.E.L.D. and HYDRA into spotlight, then the penultimate, […]

  3. […] Taylor-Johnson) and Wanda (Elizabeth Olsen)—had actually stolen the post-credit scene of Captain America: The Winter Soldier. Their first appearance was indeed full of controversies: about their X-Men origins even about how […]

  4. […] off by Captain America: Civil War. Cap’s latest outing isn’t merely a direct sequel to The Winter Soldier; more, it’s a universal sequel to Avengers: Age of Ultron-—call it Avengers: […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!