Seorang Coppola selalu punya visi tentang ‘fame.’ Sofia—putri Francis Ford dan sepupu Nicolas (lebih dikenal dengan nama Cage sekarang)—juga seorang Coppola; dan ia sangat tahu tentang sisi lain ‘popularitas’ itu. Filmnya sering menggambarkan sisi “kiri” dari popularitas—kebosanan, rasa muak, serta penyimpangan para selebriti (lihat saja Somewhere atau Lost in Translation). The Bling Ring, film barunya, justru punya pandangan lain soal popularitas yang diambil dari sudut pandang para remaja yang penuh obsesi dan angst akan popularitas.
Film yang didasari kisah nyata ini menceritakan tentang sekelompok remaja LA yang terobsesi dengan gaya hidup glamor selebriti. Para anggota Bling Ring bersenang-senang dengan cara merampok rumah para selebritis Hollywood. Dipimpin oleh Rebecca (Katie Chang), yang gila popularitas, kelompok ini juga beranggotakan Marc (Israel Broussard) dan Nicki (Emma Watson) yang manja, serta yang lainnya. Mereka terobsesi dan kecanduan untuk menjarah rumah Paris Hilton, Lindsay Lohan, Megan Fox dan selebriti berkelas lainnya. Dalam degradasi moral inilah generasi baru lahir.
Tak ada yang salah dengan film ini–hanya kurang moralitas dan pengembangan karakter. Yang kita lihat hanyalah suatu studi karakter yang dangkal, yang dideskripsikan lewat “label” yang seolah sudah ada di tiap karakternya. Nicki milik Watson mungkin yang paling menonjol. Ia memerankan gadis manipulatif yang termakan manipulasinya sendiri; seperti yang tergambar dalam tingkah laku manipulatifnya dalam wawancara dengan Vanity Fair hanya untuk menunjukkan persona negatifnya. Sementara, Marc yang diperankan Broussard bisa jadi counter-character bagi Eatson. Di luar kadar ‘maskulinitas’nya yang dipertanyakan, karakter Broussard terkesan diberi persona yang berbeda untuk memberi keseimbangan pada kelompok ini. Yang jelas, kebanyakan karakter di film ini sangat palsu—sepalsu obsesi glamor mereka di layar.
Pada dasarbya, The Bling Ring menunjukkan sebuah penggambaran eksplisit tentang budaya modern kita—yang dibentuk oleh pengaruh media dan internet—dalam upayanya menghadirkan masyarakat utopia. Inilah manifestasi budaya carpe diem yang memang tepat untuk menyindir masa kini. Saat trend hedonis dan pemuasan diri yang berlebihan telah melebihi batas, jiwa remajalah yang terancam—seperti di film ini. Ide cerita yang cemerlang namun surut karena dramatiasi yang repetitif. The Bling Ring gagal menampilkan sebuah klimaks yang satir (atau malah tidak berniat menampilkannya), padahal issue yang diangkat sangat konstruktif. Saat akhirnya, film ini berakhir dengan ending yang datang terlalu cepat, semuanya menjadi terasa datar.
Andai ada porsi drama yang “lebih hidup” di beberapa momen krusial, The Bling Ring bisa saja menampilkan ironi yang lebih mengena. Meskipun demikian, film ini: Tetap cantik. Tetap ambigu. Tetap ambivalen. Tetap mereferensikan pop culture. Tetap sesuai standar Sofia Coppola, hanya sedikti kurang saja.

Leave a Reply