Season keempat Game of Thrones akhirnya mencapai rating tertinggi di antara semua serial HBO, mengungguli The Sopranos dengan James Gandolfini. Tak diragukan lagi, bekerja dengan serial ini selama 4 tahun telah ternyata mampu menjadikan showrunner David Benioff dan D.B. Weiss “ayah tiri” bagi para naga—meringankan beban sang ayah kandung, George R.R. Martin yang masih berjuang menyelesaikan buku keenam dari serial A Song of Ice and Fire untuk menyamai pace serial televisi GoT. Tentunya, season ke-4 ini menyimpan banyak kejutan sebanyak season–season sebelumnya. Jalan ceritanya diambil dari paruh kedua buku ketiga ‘A Storm of Swords‘ dan beberapa bagian buku keempat ‘A Feast for Crows‘ (untuk kisah Brienne of Tarth) dan buku kelima ‘A Dance with Dragons‘ (dalam bagian dari kisah Bran Stark dan Dany Targaryen). Fans sejati serial ini, atau awam sekalipun, akan merasa puas dan takjub dengan badai di Westeros dan sekitarnya yang nampaknya takkan berhenti.
PREMISNYA?
Pasca kejadian Red Wedding (di season 3), aliansi utara telah hancur; House Stark hancur dalam pengkhianatan House Bolton dan House Frey. War of Five Kings hampir berakhir; menyisakan aliansi ningrat pimpinan House Lannister dan House Tyrell sebagai pemenang. Untuk merayakannya, Iron Throne merencanakan Royal Wedding antara Joffrey Baratheon dengan Margaery Tyrell.
Season 4 dimulai dengan reuni besar di King’s Landing menyambut Royal Wedding (yang nantinya lebih dikenal sebagai ‘Purple Wedding‘). Kingslayer, Jaime Lannister telah kembali ke ibukota dengan didampingi Brienne of Tarth; tamu agung dari Dorne, Pangeran Oberyn Martell juga hadir. Di utara, Jon Snow kembali ke The Wall untuk kembali mengabdi pada Brotherhood of Night’s Watch; sementara di Slaver’s Bay, Daenerys Targaryen menuju ke Meereen dengan naga-naganya yang makin besar. Di tempat lain, Stannis Baratheon bersiap dengan rencana yang nampaknya berbahaya; Arya Stark berkelana dengan Sandor “The Hound” Clegane; Bran Stark bersama rekannya masih mencari Three-Eyed Raven; sementara Littlefinger tak tertarik dengan prostitusi lagi.
SERIALNYA SEPERTI APA?
10 episode di Season 4 nampaknya takkan pernah memuaskan penonton. Seperti season sebelumnya, season 4 juga punya multiple storyline—hanya saja strukturnya agak berbeda. Di musim sebelumnya, selalu ada satu klimaks di penghujung season (ingat kematian Ned Stark di season 1, pertempuran Blackwater Bay di season 2, dan Red Wedding di season 3); di season 4 ini, klimaksnya disebar di seluruh storyline sepanjang season. Kabar bagusnya, kita makin fokus pada tiap storyline yang naratifnya makin panjang dan makin baik—halaman buku yang difilmkan dalam sekali jalan makin banyak. Orang-orang HBO nampaknya mulai paham dengan masalah naratif dan pace yang agak dragging di season-season sebelumnya; season 4 adalah revisi mendasar yang hasilnya lumayan.
Sudah pasti kalau GoT selalu mengejutkan kita dengan langkah politisnya, kematian karakternya, dan pengkhianatan yang “sudah biasa.” Setiap episodenya selalu membuat orang yang awam akan ASoIaF terkejut atau frustasi, bahkan sampai akhir season. Sementara fans ASoIaF malah akan terkejut karena serial TV ini makin lama makin menyimpang saja dari bukunya (di beberapa bagian). Terlalu menyederhanakan mungkin frasa yang tepat untuk menggambarkan seberapa loyal serial ini pada bukunya. Tidak munculnya karakter minor namun ‘monumental’ sudah jadi barang biasa—tak ada Donal Noye, tak ada Strong Belwas, tak ada Marillion. Tapi tak perlu kecewa, anggaplah ini sebuah usaha untuk menjaga pace GoT dan menghindari ‘redundancy‘; yang ternyata sukses menghasilkan twist yang keren. Sekarang, GoT makin adil pada semuanya—bahkan bagi orang yang merasa sudah tahu ceritanya.
Salah satu kunci utama season ini tentunya adalah additional cast-nya. Tanpa Robb Stark, terjadi pergeseran kekuatan dalam cast-nya. Kit Harrington makin percaya diri di The Wall, saat Jon Snow-nya makin mendapat banyak tanggung jawab di sana (dan satu episode penuh di sana). Seperti Harrington, Emilia Clarke bersama Dany Targaryen-nya juga makin mantap berkuasa di Slaver’s Bay. Kalau ada 3 naga di sisinya, siapa yang takkan mantap? Sementara, para gadis Stark juga makin berani—Sophie Turner dengan Sansa-nya kini punya mentor dalam diri Littlefinger (Aidan Gillen) serta makin liar (lihat saja dandanan mockingbird-nya); sedangkan, Maisie Williams dan Arya-nya kini harus banyak berinteraksi dengan Rory McCann, yang makin oke memerankan Sandor Clegane.
Yang paling bersinar dari cast tradisional GoT, tentunya, 1) Peter Dinklage yang makin cerdik dan meyakinkan sebagai Tyrion yang kini makin butuh banyak simpati; serta 2) Nikolaj Coster-Waldau dengan Jaime Lannister-nya yang baru—yang kali ini menunjukkan sisi lainnya. Ada juga karakter baru yang menjadi ‘wild card‘ di season ini; diperankan oleh Pedro Pascal, Oberyn Martell berhasil mencuri perhatian. Banyak karakter datang dan pergi di GoT, tapi belum ada yang datang dan pergi sekuat Oberyn.
Perlu diketahui bahwa A Storm of Swords adalah buku terakhir dari serial ASoIaF yang berjalan secara kronologis (buku ke-4, A Feast for Crows dan buku ke-5, A Dance with Dragons, berjalan secara bersamaan; buku 4 berfokus di King’s Landing, Iron Island dan Dorne, sementara buku ke-5 berfokus di Utara dan di seberang Narrow Sea). Sedangkan, season 4 GoT punya finale yang mengejutkan, yang membuat kita sulit menebak mau dibawa ke mana season 5 nantinya. Namun karena para naga sudah punya ayah tiri, saya rasa tak perlu khawatir kalau George R.R. Martin tak mampu menyelesaikan novelnya tepat waktu. Kita hanya perlu pasrah saja, dibuat frustasi dan gemas oleh kisahnya, toh, all men must serve. Valar dohaeris.

Leave a Reply