An indie undead film (or undying indie film?) about a couple of vampires that suck art, music, literature, and mostly culture, instead of blood. With this, Tom Hiddlestone and Tilda Swinton score a perfect showcase.
*Estimated Read Time: 4 mins

Jika ada orang yang ingin menulis surat cinta untuk kesenian dan kebudayaan yang dicintainya, namun malah membuat film vampir; tentu orang itu adalah sang ikon indie-hipster, Jim Jarmusch, seperti film terbarunya Only Lovers Left Alive.

Memang ini adalah film vampir, namun tak sesederhana itu. Vampir di film ini, yang sudah hidup ratusan tahun di dunia ini, lebih suka menghisap kesenian, literatur, serta kebudayaan di dunia ini, daripada menghisap darah orang. Mereka memang masih minum darah, tapi mereka benar-benar meminumnya secara harafiah dengan gelas cantik mereka. Para vampir ini sangat suka melakukan banyak hal yang membuat mereka makin “merasa hidup”, meskipun mereka memang “undead” alias hidup abadi.

Adam (Tom Hiddlestone) adalah seorang vampir sekaligus musisi underground yang menulis dan merekam musiknya sendiri serta mengkoleksi relik-relik musik dari berbagai generasi di rumah reyotnya di Detroit. Sementara itu, Eve (Tilda Swinton) juga merupakan vampir pecinta kesenian, namun ia lebih suka membaca literatur dari jaman ke jaman, memakai jubah panjang, serta menari seperti Sufi di rumahnya, Tangier, Maroko. Kedua vampir ini adalah kekasih; mereka telah menikah selama berabad-abad. Saat Adam yang bosan hidup membutuhkannya, Eve pergi ke Detroit (tentunya) dengan penerbangan malam. Di Detroit, mereka hidup bersama—mending the lost love—sekaligus melakukan hal yang mereka sukai: meminum darah bergolongan O negatif, atau kadang bereksperimen dengannya.

Tak banyak hal terjadi di Only Lovers Left Alive—sejujurnya, plot film ini memang sangat tipis dan sama sekali tidak rumit. Riak kecil hanya terjadi saat Ava (Mia Wasikowska), adik Eve yang lebih tradisional datang dari LA untuk menumpang di rumah Adam dan malah “meminum” Ian (Anton Yelchin), teman “zombie” (manusia, menurut Adam) Adam. Keonaran seperti itu sama sekali tak mengekskalasi konflik dalam film ini. Plotnya, termasuk motivasi para karakternya, tak pernah terlalu intriguing; tak sekompleks disain atau isi percakapan antar karakternya.

Vampir di film ini memang merasa bosan dan muak dengan dunia ini, namun filmnya sama sekali tak pernah membosankan. Dengan plot yang tipis, Jarmusch mendapat banyak kesempatan untuk memamerkan berbagai kecintaannya pada kebudayaan klasik dunia serta pengetahuannya akan pop culture yang dalam, melalui para vampirnya. Jarmusch memanjakan penontonnya dengan gambar-gambar yang intim serta tone yang menggoda; termasuk saat ia memaksakan sudut pandangnya terhadap genre vampir ini (entah sebagai sindirian atau apa, saya tak mengerti). Termasuk di saat-saat paling buruk yang dialami para vampirnya, Jarmusch sempat-sempatnya menonjolkan sisi kecintaan para vampirnya pada seni (lihat adegan penyanyi Lebanon, di bagian akhir film).

Only Lovers Left Alive terasa sangat hangat dan cerdas; terlebih saat film ini menjejali kita dengan keindahan kesenian dan literatur yang menopang kebudayaan dunia—termasuk menopang film ini juga. Namun, bintang utama film ini tetaplah chemistry vampirik antara Hiddlestone dan Swinton yang mampu menggugah sisi diri mereka “yang telah mati” menjadi lebih hidup. It’s not another hit-or-miss film; it’s a Hidd and Miss (Swinton) film.