Surpassing the emotional and witty performance of the predecessor, Dawn questions humanity through apes. The emotional script surprisingly equals the astonishing CGI.
*Estimated Read Time: 5 mins

Pada tahun 2011, Rise of the Planet of the Apes karya Rupert Wyatt (yang menjadi prekuel sekaligus soft-reboot untuk Planet of the Apes tahun 1968) menjadi kejutan blockbuster musim panas dengan skripnya yang berani dan penggunaan in-place performance capture untuk pertama kalinya dalam sinema. Di akhir film itu, Caesar (Andy Serkis), kera cerdas yang dirawat karakter James Franco, memimpin perjuangan kera di Golden State Bridge sekaligus memulai sebuah revolusi. Pada saat yang bersamaan pula, kita melihat akhir era manusia oleh virus saat credit scene.

Dawn bersetting 10 tahun setelah kejadian di Rise. Di dunia post-apocalyptic ini, sebagian besar umat manusia telah musnah karena virus, sisanya justru saling berperang. Sementara itu, Caesar telah membangun masyarakat kera di dalam hutan Muir. Saat manusia, dalam usaha mereka mencari sumber listrik, tanpa sengaja menemukan peradaban baru kera, yang telah belajar berbicara dan hidup seperti manusia ini, collision antara dua spesies bersaudara ini tak terhindarkan lagi.

Pada awalnya, Dawn memang terlihat seperti satu episode Walking with Dinosaur dengan fokus utama kera. Film ini mendalami peradaban kera ini, mencoba meyakinkan penontonnya bahwa peradaban itu penuh damai dan tanpa noda. Caesar mengajarkan pada rakyatnya jargon-jargon seperti “Apes do not want war,” “Apes together strong,” atau “Ape not kill ape” yang mau tidak mau telah menjadi karakterisitik peradaban ini. Di sisi lain, manusia yang tak sekuat dulu lagi menjadi sangat rentan dan trauma. Yang tersisa dari mereka hanya “kemanusiaan”, padahal para kera juga telah belajar semacam “kemanusiaan” versi kera untuk membedakan mereka dengan manusia yang dianggap jahat.

Sebagai sekuel dari sebuah prekuel sebuah franchise yang panjang, Dawn tidak menyambung secara langsung ke timeline yang orisinal—menyisakan slot-slot untuk sekuel yang akan datang. Lagipula, skrip Dawn yang sangat emosional tak menunjukkan “rush” untuk menyambung timeline itu; filmnya justru memadatkan ceritanya dengan konflik-konflik untuk melandasi timeline asli PotA. Hasilnya, film ini berhasil mengaburkan batas antara kemanusiaan dan kebinatangan. Akibatnya, film ini terasa agak lamban di awal dan klimaksnya datang terlalu cepat, tapi itu bukan berarti buruk.

Tidak buruk, karena pace yang seperti itu memberi kesempatan bagi penonton untuk menikmati special effect yang bukanlah sekedar gimmick ini. Pengalaman Andy Serkis dengan mo-cap serta mahakarya WETA workshop sukses menghidupkan Dawn—menjadikannya yang terbaik di antara film-film sejenisnya. Performance capture langsungnya sukses menampilkan keindahan hutan di Vancouver dengan special effectnya. Ditambah lagi, akting brilian para aktor manusianya mampu memberi alasan untuk apa mereka ada di “film kera” ini. Di Rise, tokoh James Franco sangat kuat, di Dawn, keluarga tokoh utama kita sangat dominan—Jason Clarke sebagai ayah yang kooperatif meningatkan kita pada James Franco; yang membedakan tentu adalah peran Keri Russell sebagai istri dan Kodi Smit-McPhee sebagai anak, yang sama sekali bukan sebagai pelengkap cerita.

Sama seperti Rise, Dawn membuktikan kelebihannya untuk membangkitkan franchise ini. Dawn juga membuktikan bahwa skrip yang bagus (yang porsi drama dan aksinya imbang) dan kuat selalu dapat menghasilkan film yang bagus, siapapun sutradaranya. Matt Reeves kini bisa bernafas lega karena keputusannya tepat dalam menerima warisan Rupert Wyatt, yang cabut di tengah-tengah produksi. Sejauh ini, bersama Edge of Tomorrow, Dawn adalah breakthrough di musim panas ini.


TRIVIA: 20th Century Fox dan Motherboard telah menyiapkan 3  film pendek sebagai companion pieces bagi Dawn dan jembatan yang menghubungkan Rise dengan Dawn. Simaklah di bawah ini.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=ejrtt37XzOY]

Judulnya Quarantine, bersetting setahun setelah penyebaran simian flu alias satu tahun setelah Rise.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=sxcTS7AUngs]

Film kedua berjudul All Fall Downsettingnya lima tahun setelah penyebaran virus.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=IYCl7_bDbZs]

Film ketiga berjudul Story of the Gun, bersetting 10 tahun setelah penyebaran virus alias berbarengan dengan event dalam Dawn.

Enjoy.