Teenage Mutant Ninja Turtles (2014)

Read Time:4 Minute, 30 Second

Film Teenage Mutant Ninja Turtles terbaru sudah pasti jadi “the most un-anticipated film” tahun ini. Para kritikus saja sudah skeptis jauh sebelum screening film ini—menyalahkan si produser, Michael Bay, yang lagi-lagi membawa jagoan masa kecil kita ke layar lebar (tentu saja setelah Transformers), ditambah lagi reuninya dengan Megan Fox, yang dulu ia pecat. Belum lagi, disain para Kura-Kura Ninja yang makin membuat para kritikus skeptis. Daftar filmografi sutradara Jonathan Liebesman (yang terkenal karena Wrath of Titans yang kurang greget) sama sekali tak membuat film ini makin dilirik.

Namun, saya yang tumbuh bersama TMNT sebagai pionir pop culture dekade 90-an, masih terlalu besar excitement-nya pada jagoan ini. Mungkin karena itulah reboot TMNT ini cukup menghibur bagi saya. Toh, jagoannya masih kura-kura, sekaligus ninja, remaja, dan mutan (secara harafiah). Disain baru para Kura-Kura Ninja, dengan pelindung dada khas samurai Jepang atau barang-barang khas mereka, malah terlihat lebih badass dan sangar. Terlebih lagi, kura-kura mo-cap ini lebih meyakinkan daripada kura-kura berkostum (dari live action TMNT yang sudah-sudah). Dengan lelucon mereka yang penuh energi serta gaya fanboy mereka akan pop culture, jagoan kita ini sama sekali tidak membosankan.

Hanya saja, plot TMNT ini sangat mengecewakan—tak mampu mengimbangi humornya. Andai bagian humornya dihilangkan, jelas film ini hancur. Plotnya sederhana: April O’Neil (Megan Fox), yang muak dengan Foot Clan—kelompok teroris yang dipimpin Shredder—menyaksikan sendiri aksi Leonardo, Raphael, Michelangelo, dan Donatello dalam menumpas anggota Foot Clan. Ia mencoba mencari bukti tentang kejadian itu dengan bantuan mitranya, Vern (Will Arnett), sementara para kura-kura mendapat pelajaran tentang tanggung jawab dari mentornya, Splinter. Lalu ada pengkhianatan akan masa lalu April; lalu, April bekerja sama dengan para kura-kura untuk menghadapi Shredder yang jahat. Lihat? Plotnya sangat kilat, ramping, dan klise.

Plot super kilat TMNT terasa berat sebelah—bukannya memberi kedalaman bagi para titular characters, namun malah fokus pada April. Parahnya lagi, skrip ini berani mengubah asal muasal para Kura-Kura Ninja plus Splinter. Plot yang kurang bertenaga ini tak didukung aksi yang penuh tenaga—hanya ada 1 atau 2 action sequences yang keren, seperti adegan slides di pegunungan bersalju yang sangat orchestrated; aksi yang lainnya sangat banal, terutama pertarungan melawan Shredder yang harusnya bisa lebih gila-gilaan. Hanya bagian humornya yang dapat menyelamatkan skrip kering ini.

Dalam musim blockbuster yang sangat kompetitif dan sengit tahun ini, banyak film-film ‘summer‘ yang ternyata sukses. Namun, TMNT hanya unggul atas Transformers 4-nya Michael Bay. Sungguh sebuah ironi.

7 responses

  1. Yusti Item Avatar
    Yusti Item

    i worship you!!!!!!!!!!!!!!

    thank you for the review!!!!!!!!!

  2. Yusti Item Avatar
    Yusti Item

    btw, we’re craving for the same movie, Chef…if you already get the copy of that movie, could you please contact me? i also want one…thanks a bunch!!!!!!

  3. […] Teenage Mutant Ninja Turtle | IMDB | Review |  […]

  4. Tri Fajar Avatar
    Tri Fajar

    Setelah jatuh dari menara trus berlanjut ngobrol di bawah jalan tol itu berasa MELONJAT JAUH BANGET ceritanya, trus 4 kura2 nya kurang tergali karena saat Leo minta maaf karena terlalu keras dan tegas padahal gak ada adegan dia berlaku terlalu keras pada kura2 yg lain.
    Kenapa harus Michael Bay? Coba kalo Del Torro atau Nolan, hahaha cuma berkhayal.

    1. Del Toro kalo saya setuju banget! Final showdown-ny kurang nampol dibanding adegan salju haha
      yang jelas pasti ada sequel :p

  5. […] to 2014, a hard reboot of Teenage Mutant Ninja Turtles re-introduced the Cowabunga brothers with a new light – not an anarchically explosive one, but […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!