The Hunger Games: Mockingjay Pt. 1 (2014)

Relying too much on the big thrills of its prequel, Mockingjay Pt 1 finds it so hard to make the transition from battle royale genre to political friction smooth. There’s not much things happened ’cause the underwhelming Mockingjay saves too many for its finale.

READ THIS REVIEW IN:

  

Melanjutkan cliffhanger di akhir Catching Fire, Mockingjay Part 1 sebagai bagian pertama dari akhir seri The Hunger Games dimulai. Alasan membagi franchise finale ini menjadi dua bagian (meniru Harry Potter dan Twilight, dan mungkin akan ditiru adaptasi novel YA lainnya) masih membingungkan, namun efeknya ternyata lebih parah daripada perkiraan. Pasca film pembuka yang mengejutkan dan film kedua yang penuh intrik, Mockingjay 1—meskipun masih memiliki hati franchise ini—malah berakhir ‘hampir’ sia-sia, hanya menjadi penyedia jalan bagi sekuelnya kelak.

Tidak banyak hal yang terjadi dalam Mockingjay 1: hanya beberapa trauma dan ancaman pemberontak (yang sayangnya sudah sering muncul). Setelah Katniss (Jenifer Lawrence) mengakhiri Quarter Quell di akhir Catching Fire, ia dibawa ke District 13 yang ternyata masih ada. Di sana, atas dukungan rekan-rekannya serta Presiden Alma Coin (Julliane Moore), Katniss yang kini bermasalah menerima perannya sebagai Sang Mockingjay—simbol pemberontakan yang menyalakan semangat juang para pemberontak—sementara ia masih berusaha menyelamatkan Peeta (Josh Hutcherson). ITU SAJA.

Nampaknya, Mockingjay 1 hanya berperan sebagai chapter transisional—untuk mengekskalasi finale-nya tahun depan—yang dibumbui kisah politik dan casts yang super besar. Namun, bab ini justru kesulitan untuk menemukan keseimbangan antara menjadi transisi—dari genre battle royale action khas kedua sekuelnya menjadi genre action bertemakan politik—dan menampilkan identitasnya. Plotnya terasa dragging dan agak longgar di beberapa adegan yang terasa seperti repetisi saja. Tanpa dosis action khas THG, Mockingjay sedikit kehilangan identitas.

Untungnya, film ini punya casts yang dahsyat yang mampu menampilkan penampilan solid. Beberapa karakter barunya memang belum terlalu signifikan, namun mereka memberi nafas baru bagi kisah ini. Julliane Moore mungkin belum mencapai kelasnya, namun President Coin yang ia perankan sukses memberi arah baru. Bersama karakternya, ada juga Natalie Dormer yang menanggalkan gaun Game of Thrones-nya untuk menjadi Cressida yang sangat gahar. Sementara itu, casts lama yang dipimpin J-Law dan Philip Seymour Hoffman masih mendenyutkan jantung franchise ini. Terutama mendiang PSH, dengan salah satu penampilan terakhirnya yang paling menghibur. Tanpa aksi laga, hanya penampilan solid inilah yang menghidupkan drama di Panem.

Mockingjay 1 memang kehilangan banyak angle, meskipun film ini mampu menjadi panel transisional yang terlalu murah hati. Tidak ada twist maupun intrik yang berarti setelah pengungkapan besar di awal. Sayang sekali. Sang Mockingjay menyimpan terlalu banyak hal untuk finale-nya yang harusnya sangat bagus, kalau tidak ingin menyia-nyiakan investasi jutaan dollar di film ini.

7 comments on “The Hunger Games: Mockingjay Pt. 1 (2014)

  1. Great review. Suffice to say I don’t regret skipping out on this installment (yet). I’ve read the book, and the exciting parts happen on the latter half, so I would probably wait until next year to see this one.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *