Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh (2014)

D: Rizal Mantovani C: Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril

VERDICT: Supernova convincingly delivers the drama part of the novel, but neglects the most essential part of it—the juxtaposition of the dramatic romance with the interweaving scientific matters. Seasoned with lack of chemistry and highfalutin dialogues, Supernova looks comical if not for its mesmerizing visuals and production design.

READ THIS REVIEW IN:

  

Mengadaptasi sebuah novel dengan kisah yang serumit Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh—yang konon berusaha menjembatani berbagai disiplin ilmu—bukankah hal yang sepele. Apalagi kalau novelnya best-selling dan punya fans die-hard yang pastinya sudah punya imajinasi masing-masing tentang kisahnya. Namun, Soraya Intercine percaya diri (apalagi dengan suksesnya 5 cm. danTenggelamnya Kapal van der Wijck) dengan menunjuk Rizal Mantovani (Kuldesak, Jelangkung, dan trilogi Kuntilanak) untuk memanifestasikan struktur rumit, dialog yang kompleks, dan enigma yang abstrak di Supernova dalam sebuah film berdurasi 2 jam.

Saya sendiri seorang pembaca Supernova dan saya selalu kagum dengan presentasi buku ini—dengan banyak sudut pandang dari berbagai dimensi, mencoba mewujudkan kerumitan ilmu pengetahuan dalam sebuah cinta segitiga, yang untuk menjelaskannya Dewi Lestari, penulisnya, perlu banyak catatan kaki. Pun, satu-satunya alasan saya menonton film ini adalah keingintahuan saya bagaimana komponen di buku ini diadaptasi atau bagaimana film ini mengakomodasi seluruh aspek film ini. Hasilnya?

Secara mengejutkan, film ini mengadaptasi novelnya mentah-mentah. Adegan demi adegan serta dialog demi dialognya diambil mentah dari buku; saya penasaran apakah skrip film ini hanya carbon copy dari bukunya? Dibuka dengan adegan di Washington D.C., saat Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud) saling mengungkap identitasnya masing-masing dan bersumpah untuk menulis sebuah opus 10 tahun mendatang—sama persis dengan buku.

10 tahun mengalir, tak ada Washington D.C., hanya sisa-sisanya yang hidup dalam diri Reuben dan Dimas yang sudah jadi pasangan. Deadline opus mereka tiba, mereka menulis sebuah roman sci-fi tentang cinta segitiga yang melibatkan sang Ksatria (Herjunot Ali), sang Putri (Raline Shah), dan persepsi sosial. Sementara sang Bintang Jatuh (Paula Verhoeven) terus mengamati dari kejauhan.

Yang jelas, tidak ada yang salah dengan visualnya; sutradara Rizal Mantovani ahlinya masalah ini. Tak ada yang salah dengan departemen estetiknya—Supernova dipenuhi kemegahan, pemandangan alam yang menakjubkan dan production design yang mewah. Lebih jelasnya lagi, tak ada yang salah dengan para pemerannya, kecuali Paula Verhoeven yang kaku memerankan Diva, yang seharusnya bisa jadi episentrum kisah ini. Tapi, entah kenapa film ini bukanlah film yang “ramah penonton”, tidak bagi purist, tidak pula bagi orang awam.

Yang paling kentara tentu saja dialognya—dikopi langsung dari buku lengkap dengan berbagai kompleksitas. Masalahnya, kebanyakan dialog itu terasa kaku dan tidak natural—sampai-sampai terasa komikal sekaligus mengganggu. Lebih parahnya, kurangnya chemistry antar pemerannya sangat parah, menyebabkan dialog yang muluk-muluk tadi makin sulit diterima. Yang lebih mengganggu lagi: untuk apa aktornya harus berhadapan dsangat dekat untuk berbicara? Ada signifikansinya? Bagi purist yang toleran, hal tersebut tentu bisa dimaklumi; tapi bagi orang awam, semua hal dalam Supernova menjadi makin absurd.

Lebih jelas lagi, yang ditampilkan di Supernova hanyalah separuh dari apa yang disuguhkan di bukunya. Fokus film ini adalah bagian dramanya, roman antara sang Ksatria dan Putri; namun, sisi sci-finya hampir tidak tergali. Akibatnya Supernova terlihat sangat klise, kehilangan intisari bukunya, yaitu jukstaposisi antara berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan roman. Di bukunya, Reuben dan Dimas mengungkap setiap keputusan yang dibuat karakternya dalam kerangka sains, seperti paradoks Kucing Schrodinger, teori chaos dan order, ombak soliton dan sebagainya. Namun, dengan berkurangnya peran mereka, Supernova pun kehilangan paradigma rectoversonya: dua sisi yang seharusnya saling melengkapi.

trying to wrap the entire drama in the movie with touch of surrealism, trying to convey audiences that Supernova bears sci-fi elements. Yet, it’s completely lost—it provides no solace at all. Wish that the movie ends 20 minutes earlier to save it from its own paradox. Supernova’s being too ambitious it forgets the ground and loses what makes the book special.

Terlebih lagi, third act film ini malah sangat acak, sangat random dan sulit dimengerti—mencoba membungkus seluruh dramanya dengan sentuhan surrealisme, mencoba meyakinkan penontonnya bahwa Supernova tetap ada elemen sci-fi-nya. Namun, presentasinya justru kacau—justru tak memberi penerangan sama sekali. Andai film ini berakhir 20 menit lebih awal, mungkin film ini tak akan jatuh dalam paradoksnya sendiri. Supernova terlalu ambisius sampai-sampai lupa daratan dan kehilangan jati dirinya.

VERDICT: Supernova meyakinkan lewat bagian drama novelnya namun mengesampingkan bagian esensialnya—jukstaposisi antara roman dramatis dengan percabangan ilmu pengetahuan. Dibumbui dengan chemistry yang tidak matang dan dialog yang muluk, Supernova malah terasa komikal jika tidak diselamatkan visualisasinya yang indah dan production design yang megah.

9 comments on “Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh (2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *