The Hobbit: The Battle of The Five Armies (2014)

Read Time:7 Minute, 8 Second

READ THIS REVIEW IN:

  

There and Back Again. Sudah 13 tahun semenjak Peter Jackson terjun ke Middle-earth untuk pertama kalinya lewat trilogi TLOTR. Setelah melalui 5 film dalam 2 trilogi berdasarkan buku-buku J.R.R. Tolkien, sebuah pamungkas yang luar biasa, yang tidak mengecewakan, itu wajib hukumnya. Ketika akhirnya The Battle of The Five Armies, akan mengakhiri trilogi The Hobbit untuk selamanya, apa yang bisa kita harapkan?

TBoTFA langsung menyambung cliffhanger super menyebalkan di akhir TDoS. Smaug melesat di angkasa dan menyembur Lake Town dengan apinya, memaksa Bard (Evans) untuk bertindak. Sementara itu, Thorin (Armitage) yang menderita “dragon-sickness” mulai mengabaikan nasihat Bilbo (Freeman) dan rekan dwarfnya; parahnya lagi, ia mengingkari janjinya pada Bard dan rakyat Lake Town.

Pada waktu yang bersamaan, Thranduil (Pace) tengah memimpin pasukan elfnya menuju Lonely Mountain untuk suatu misi; secara mengejutkan, Azog the Defiler juga tengah memimpin pasukan orcnya menuju tempat yang sama dengan tujuan lain. Namun, itu baru sebagian, karena Legolas (Bloom) dan Tauriel (Lilly) segera menyadari bahwa Bolg juga tengah menyiapkan orc di Gundabad, serta untuk berjaga-jaga, Thorin memanggil bala bantuan dwarf. Terjadilah pertemuan antara semua pihak dengan kepentingan masing-masing dalam pertempuran lima pasukan yang amat besar…

Di tempat lain, Gandalf (McKellen) mendapat bantuan dari para White Council untuk kabur dari Dol Guldur, tempat ia disekap oleh Necromancer.

Pada akhirnya memang TBoTFA berhasil memenuhi tugasnya untuk mengakhiri trilogi Hobbit sekaligus menjembataninya dengan trilogi LOTR. Ekspektasi memang tinggi, tapi film ini bisa memenuhi ekspektasi itu dengan cara yang sederhana (bahkan terkesan kendor) tanpa harus terlihat spektakuler. Perlu diingat, ini bukan LOTR dan ini bukan adaptasi 3 volume novel yang panjang; meskipun strukturnya sama, skala dan urgencynya sama sekali berbeda. Karena itulah, dramatisasi pertempuran pamungkas ini dalam durasi 2 setengah jam menjadi sangat masuk akal.

Yang membuat TBoTFA terlihat “rendah hati” tentu saja adalah kedalaman konfliknya. Intinya, film ini hanya menyajikan pertempuran epik sebagai isi utamanya—kisah Smaug hanya sebentar sementara kisah Necromancer hanyalah tempelan—jadi mau tak mau pertempuran inilah yang harus diekplorasi. Dengan pertempuran bertemakan ketamakan selama 2/3 durasi film, tak jarang kalau akhirnya kita merasa semuanya repetitif.

TBoTFA kekurangan inovasi meskipun dipenuhi pertempuran dengan CGI maupun koreografi yang memuaskan. Nyaris tak ada hal yang baru. Jangan harap bisa temukan adegan seunik barrel scene di TDoS atau perburuan Oliphant di The Return of the King di sini. Meskipun begitu, kalau ada film yang menampilkan pertempuran di Middleearth selama 2 jam, bisakah kau menolaknya? Kalau saya tidak.

Ditambah dengan third act-nya yang humble, yang down to earth, The Hobbit tidak berusaha tampil gahar. Setelah Thorin “merebut” status protagonis selama akhir TDoS sampai pertengahan TBoTFA, PJ memutuskan untuk mengembalikan semuanya pada Bilbo. Ditambah dengan akhir yang penuh nostalgia, bagaimana bisa kita berpamitan pada Middle-earth dengan lega? Saya tidak bisa.

VERDICT: TBoFTA menjadi sebuah bab yang menentukan untuk mengakhiri trilogi The Hobbit sekaligus saga PJ di Middle-earth. Caranya untuk mengkahirinya mungkin tidak spektakuler, namun sederhana dan “rendah hati”. Kini, tanpa ada kepastian tentang adaptasi The Silmarillion, tegakah kita melewatkan perpisahan dengan Middleearth ini?

4 responses

  1. Yusti Item Avatar
    Yusti Item

    Dolby Atmos huh?i’ll get that one later.. :p

    1. You’ll miss it after 30 mins HAHAHA

  2. The trilogy is finally over. It wasn’t all that bad, but it wasn’t perfect either. Just fine. Good review.

    1. It wasn’t perfect, that’s true. Thanks for stopping by!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!