What the Hell... oweeen #1: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016)

What the Hell… oween! #1: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)

So, here comes the first entry of Sinekdoks X Hzboy’s What the Hell… oween! A Collaborative Post yang didedikasikan untuk merayakan bulan-nya Halloween.

Kami berencana menonton 4 film yang telah ditentukan sebelumnya dan menuangkan pemikiran kami dalam 8-point analysis yang akan di-post setiap minggunya. Dalam setiap post yang tampil di Sinekdoks, tulisan yang ditampilkan adalah tulisan Hzboy a.k.a. Hestia Istiviani dengan tambahan annotation maupun komentar bebas dari Sinekdoks di bawahnya (dengan warna font yang berbeda pula).

Untuk minggu pertama ini, pilihan filmnya adalah Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, yang memadukan gaya baroque-gothic Tim Burton dengan script queer gubahan Jane Goldman serta kisah yang serasa seperti gabungan Mary Poppins dan X-Men.

So, here’s Hzboy’s take: 

01. How you manage to stumble into the movie: Jadi, Miss Peregrine’s Home of Peculiar Children ini sebenarnya adalah salah satu film incaranku. Meskipun waktu itu telat tahu kalau film ini akan dirilis pada tahun 2016. Akibatnya, aku memutuskan untuk segera membaca bukunya demi imajinasi yang masih suci dari kontaminasi filmnya (ini bukan lagunya YoungLex ya). The effort to finally watch this movie was quite hard. Mengingat load kerjaan di akhir tahun yang semakin lama semakin banyak, aku sempat tidak yakin bisa menontonnya ketika rilis. Benar saja. Bahkan seusai jam pulang kantor, aku juga tetap tidak bisa langsung segera pergi. Alhasil, aku memanfaatkan kesempatan satu hari off dari kantor untuk film ini. Berdedikasi sekali kan aku?🙂

Si Hesti yang punya jadwal meeting lebih banyak dari jadwal sholat lima waktu ini memang harus diakui effort-nya luar biasa. Beberapa hari dia berusaha pulang cepat agar bisa pergi ke bioskop tapi endingnya harus menunggu day off. For a Tim Burton’s movie, that’s quite an effort.

02. How the story is put into synopsis: Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Ransom Riggs (doi ganteng lo!) bercerita tentang kehidupan Jacob “Jake” Portman yang berubah setelah kakeknya, Abe, meninggal. Abe berpesan sesaat sebelum nafas terakhirnya dan pesan itulah yang membuat Jake merasa harus bertemu dengan Miss Peregrine. Petualangannya bermain-main dengan lompatan & lingkaran waktu ternyata membawanya pada bahaya. Belum lagi hal-hal tentang dirinya yang selama ini berusaha untuk “dilindungi” oleh kakeknya. Jadi, (si)apa sebenarnya Abe dan Miss Peregrine?

That’s interesting. (Si)apa sebenarnya Abe dan Miss Peregrine itu mungkin pertanyaan paling essential sekaligus revealing untuk menjelaskan cerita Miss Peregrine. That’s very spoiler-y, though.

03. What about the review: Sometimes it sucks when I have read the book before watch the movie. Karena aku sudah tahu duluan akan kemana perginya si alur cerita. Sudah tahu duluan di bagian manakah tokoh ini-ini akan mendapatkan “kejutan”. Yep, it ended up to prove what I have read with the visual version and compare it with the picture which I have had in my head. Termasuk dalam film ini. Secara keselurhan, film ini buat aku cukup membosankan. Meskipun film ini bukan termasuk film horor, tapi color tone yang semi-semi gelap cukup dominan. Apalagi kalau ingat bahwa sutradaranya adalah Tim Burton. Well, buat aku sih ini seperti Alice in The Wonderland versi color tone yang agak buram.

Ada beberapa bagian yang aku rasa terlalu mengulur waktu. Agak kaget juga ketika menyadari kalau Asa Butterfield ternyata cocok menjadi Jake. Padahal awalnya aku lebih membayangkan Jake diperankan oleh Freddie Highmore (sepertinya terpengaruh personanya di Bates Motel). Kemudian Eva Green yang bermain sebagai Miss Peregrine. Bisa eksentrik juga meskipun bagiku lebih oke kalau yang main ya Helena Boham Carter. Untuk masalah pemain, aku cuma kurang setuju kalau Ella Purnel yang berperan sebagai Emma Bloom. Kurang pas aja. Sedangkan kalau alur cerita masih belum dikembangkan dengan baik. Masih meninggalkan beberapa pertanyaan di benak penonton, seperti, apa yang sebenarnya terjadi dengan Victor? Kalaupun memang ingin membuat kisah Jake menjadi bold, masih kurang juga.

So, apparently, plot memang menjadi permasalahan utama Miss Peregrine. I would say the uneven storytelling and under-developed plot jadi culpritnya, which diperjelas juga dengan beberapa detail yang disampaikan Hesti. Sebenarnya, penggunaan istilah ‘mengulur waktu’ sepertinya kurang tepat (IMHO), karena filmnya sendiri terasa seperti kekurangan durasi. Yang terjadi justru: Burton terlalu asyik menggali beberapa hal yang pada akhirnya tak berujung pada konklusi akhirnya atau tak sebanding dengan third act-nya yang overwhelmed.

I disagree about picking HBC over Eva Green, though. Burton should stop type-casting people.

04. What scene scare/excite most: Film ini menurutku bukan tipikal film yang punya kesan menakutkan. Mungkin karena aku sudah baca bukunya kali ya. Bagian yang aku membuatku senang di film sih bagian ketika Jake mulai memegang tanggung jawab untuk melindungi para peculiar children itu tadi. Klise sih. Karena Asa Butterfield terlihat sangat tampan :p Dia memang paling cocok dengan potongan baju turtle neck plus sepatunya itu. Plus, aku suka sekali ketika Dirty D dan temannya itu berbincang dengan Jake (walaupun sebentar). Iya. Aku suka aksen Inggrisnya! Konyol ya?

First of all, tidak ada kesan menakutkan sama sekali, whether you have read the book or not. Asa Butterfield mungkin terlihat menawan (bukan karena tampan tapi) karena kakinya jenjang. Tapi, dia cukup baik mengemban peran sebagai pelindung –  terutama saat harus mengatur strategi untuk melawan villain yang diperankan Samuel L. Jackson. And, well, that’s W accent and not British. At. All. Just saying.

What the Hell... oween! #1: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016)
What the Hell… oween! #1: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)

05. What you like most: Sama halnya dengan bagian yang membuat aku girang, bagian yang aku suka ya ketika mengekspos ketampanan Asa Butterfield. Mata biru (atau hijau sih?) seperti matanya Chris Pine itu….bikin aku meleleh….

Come on. Not the eye, but the feet.

06. What you dislike most: Sedangkan kebalikannya, aku kurang suka dengan bagaimana film ini mengembangkan hubungan antara Jake dengan Emma. Di dalam buku memang sudah dipaparkan secara jelas. Tapi di film, sepertinya hanya sebatas bahwa Emma memang mengagumi Abe, kemudian berpindah ke Jake tanpa adanya pengembangan karakter yang cukup. Padahal kalau di buku, cukup ada penjelasan tentang hubungann antara Emma dengan Abe. Di film, tidak terlalu jelas mengapa Emma sepertinya agak sakit hati dengan Abe.

Bagian yang satu ini mungkin irritating sekali. Di review panjang Sinekdoks disebutkan bahwa subplot yang tak berkembang sempurna seperti inilah yang menjadi culprit sehingga filmnya terasa overstuffed. Gara-gara terlalu asyik di dua paruh awal, Miss Peregrine tak lagi punya waktu untuk memetakan mau dibawa ke mana subplot ini dan memilih untuk memberikan konklusi yang terkesan jumpy.

08. If you were in the movie, who would you be and how would you react: Membayangkan aku berada di film itu dan menjadi salah satu dari peculiar children-nya Miss Peregrine mungkin aku akan merasa seperti Peter Pan. Tidak pernah merasa tua dan tidak bertambah usia. Walaupun akan sangat membosankan untuk terus mengulang hari yang sama. Tapi, rasanya tidak terlalu buruk juga bermain bersama para peculiar children selayaknya aku pernah berkhayal untuk sekolah di sekolahnya Profesor Xavier.

That makes two of us. Menjadi salah satu peculiar children mungkin akan terasa sangat seru, apalagi menjadi si proyektor mimpi itu. Tapi kalau harus memilih kekuatan mutan-ku sendiri, mungkin aku ingin bisa membelah diri menjadi dua entitas. Cool?

08. The Final Verdict? Terakhir. Tim Burton pada film ini kurasa tidak terlalu memperlihatkan ke-Tim Burton-nannya. Aku masih memilih Sweeny Todd untuk alur cerita dan kekuatan para pemainnya. Atau Alice in The Wonderland kalau kita mau bicara masalah color tone-nya. Dari aku sih, cukup 3/5. Apalagi dengan ending yang berbeda dengan versi buku.

Okay, fans Sweeney Todd dan Alice in the Wonderland, aku setuju dengan penilaianmu.


So, itu Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children menurut sudut pandang Hzboy a.k.a. Hestia Istiviani yang ditemani oleh komentar nakal dari Sinekdoks. Intinya, film ini memang tidak menakutkan sama sekali (karena memang bukan horror) dan hanya pas untuk masuk ke dalam kriteria ‘away from the society.’

Untuk baca sudut pandang lainnya, baca di entry What the Hell… oween! #1 di blog Hestia Istiviani.

3 thoughts on “What the Hell… oween! #1: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)”

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s