It (2017) – Review

Review: Meskipun banyak yang bilang kalau novel Stephen King tahun 1986, It, mustahil untuk difilmkan (karena kontennya yang padat), Andy Muschietti (Mama) rupanya berhasil mengadaptasinya dengan memuaskan. Novelnya yang super tebal dengan struktur yang rumit berhasil dimampatkan ke dalam sebuah ketegangan berdurasi 2 jam yang memadukan petualangan dengan horror a la King.

It lebih terasa seperti coming-of-age adventure—yang mungkin sedikit banyak terasa seperti The Goonies atau Stand by Me (yang juga adaptasi kisah King) daripada horror. Meskipun begitu, sisi horror It punya porsi yang menjanjikan, thanks to villain legendarisnya, Pennywise si Badut (salam untuk para coulrophobe!), yang selalu menghantui kota kecil, Derry, setiap 27 tahun. Dengan setting yang disesuaikan (setting era 50-an di novel diubah jadi 80-an. Hitung saja sendiri dan cari tahu alasannya), karakter anak-anak kecil yang menyenangkan, vibes musim panas dan badut jahat yang penuh terror, It adalah film summer yang dinanti-nanti. Percayalah, you’ll float, too!

it-2017-02
It (2017) – Wyatt Oleff, Finn Wolfhand, Chosen Jacobs, Jaeden Lieberher, Sophia Lillis, Jeremy Ray Taylor | Image via IMDb

It benar-benar menikmati prosesnya dalam memperkenalkan satu per satu karakter anak-anak yang nantinya akan membentuk The Losers Club. ‘Kelab’ ini terdiri dari Bill gagap (Jaeden Lieberher, St. Vincent, Midnight Special) yang dihantui duka setelah adiknya menghilang misterius, Beverly, sang gadis berandal (Sophia Lillis), Richie yang banyak cakap (Finn Wolfhand, Stranger Things), Eddie yang penyakitan (Jack Dylan Grazer), Stanley, putra rabbi (Wyatt Oleff, Peter Quill kecil di Guardians of the Galaxy), Ben sang new kid on the block (Jeremy Ray Taylor) dan Mike, satu-satunya p.o.c. (Chosen Jacobs). Masing-masing diperkenalkan dengan background masing-masing serta ketakutan dan trauma terbesar mereka.

Terkadang, trauma dan ketakutan itu digambarkan lewat event yang gambland; namun, sebagian besar hanya digambarkan lewat subteks mengenai banyak hal, mulai dari isu rasial, agama, medis bahkan sampai seksualitas. Semua itu ditambal sulam sebagai selebrasi akan perbedaan yang menjadikan penonton mudah untuk bersimpati kepada The Losers, yang semuanya diperankan dengan baik.

Dengan kreativitasnya sebagai sutradara, Muschietti, berhasil mengimitasikan spirit Stephen King dalam mempresentasikan kisah yang ‘bone-chilling’. King tidak pernah ragu-ragu dalam membahayakan karakternya tanpa pandang bulu, tak pandang umur pun; dan Muschietti berhasil menangkap semangat itu. Dalam It, cara seperti itu menjadi sangat efektif terlebih karena korbannya bisa jadi karakter anak-anak. Memikirkan mereka jadi korban saja sudah membuat perasaan tidak nyaman, apalagi kalau sampai melihat sendiri. Di situlah, It berhasil menyampaikan horror a la Stephen King dengan meyakinkan.

Satu lagi indikator efektivitas dalam mengadopsi novel ini adalah: kemampuan menghadirkan sang ikon, Pennywise dengan tepat guna. Villain ini sendiri memiliki karakteristik yang unik karena memang ia sengaja ditulis one-dimensional kalau ditinjau dari sudut pandang manusia. Pennywise tidak pernah berpikir bahwa dirinya ‘jahat’; yang ia pikirkan hanya bagaimana ia harus mengkonsumsi ketakutan manusia untuk bertahan hidup (kalau mau mencari parable yang pas dengan karakter ini, tengok karakter Calvin dalam Life-nya Daniel Espinosa). Dalam hal ini, Bill Skarsgård sukses menjalankan tugasnya walaupun kadang karakternya terasa over-the-top dan monoton.

Meskipun begitu, meskipun ada villain se-creepy Pennywise, tetaplah sulit untuk menganggap It sebagai film yang seratus persen horror. Script-nya yang ditulis keroyokan oleh Chase Palmer, Cary Joji Fukunaga (True Detective, Beasts of No Nation, yang sebenarnya adalah sutradara awal adaptasi ini) serta Gary Dauberman (Annabelle dan prekuelnya), punya tugas untuk menjaga ceritanya tetap compact dan serapi mungkin, sehingga hanya hal-hal efektif saja yang bisa bertahan. Karenanya, dengan eksposisi yang kuat dan petualangan yang sedikit banyak Spielbergian, elemen horror dalam It harus tampil seefektif mungkin. Akibatnya horrornya terasa terlalu straightforward dan Pennywise-sentris, meskipun tetap bisa berjalan beriringan dengan elemen adventure-nya. Pace dan plotnya memang agak mengendur memasuki third act-nya, namun surprisingly film ini mampu menutupnya dengan memuaskan.

it-2017-01
It (2017) – Bill Skarsgård, Sophia Lillis, Finn Wolfhand, Jack Dylan Grazer, Jaeden Lieberher | Image via IMDb

Verdict akhir: It bagaikan cerita serba ada yang berasa episodic tapi tetap koheren; kaya akan subteks namun tak sampai jadi berbelit-belit. Inilah kisah petualangan musim panas yang menjanjikan dengan sentuhan horror yang memuaskan serta sentuhan nostalgia yang seru.

It (2017)

star3It (2017) - poster via themoviedb

Drama, Horror, Adventure Sutradara: Andy Muschietti Penulis: Chase PalmerCary Fukunaga, Gary Dauberman dari novel Stephen King Pemeran: Bill SkarsgårdJaeden LieberherFinn Wolfhard Durasi: 134 mins Rated R

IMDb

Advertisements

Author: Paskalis Damar AK

A Bali-based blogger. A cinema loner and self-claimed movie fan since 2013. Public Relation in non-cinematic world. bit.ly/1iSSB2Q

4 thoughts on “It (2017) – Review”

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s