Share to your friends if you like it!

Saat rintik hujan mulai turun, seluruh kota menjadi hidup dalam simfoni yang syahdu. Di antara lautan payung hitam di sepanjang jalan, dua buah payung yang berbeda; yang satu berwarna biru dan yang satu berwarna merah saling tertarik. Tanpa dialog, hanya ditemani alunan melodi sederhana, kita diajak mengikuti perjalanan “cinta” kedua payung tersebut yang tidak mudah, namun menggugah. Dipisahkan oleh alam, namun disatukan lagi oleh takdir. Semua dirangkum dalam film animasi pendek yang berjudul “The Blue Umbrella.”

The Blue Umbrella dirilis Pixar untuk menemani rilisnya Monster University. Film pendek ini disutradarai oleh Saschka Unseld (yang sebelumnya terlibat dalam Toy Story 3 dan Brave), dengan sinematografi yang tergolong baru bagi Pixar, gambar-gambar realistis dengan rendering yang agak berbeda. Mari abaikan kemiripan The Blue Umbrella dengan Disney’s Paperman, karena meskipun keduanya mengumbar romansa, namun ide menghidupkan benda mati a la Pixar tetaplah menjadi suatu tonggak yang pantas untuk disaksikan.

Bagi saya, semua film animasi pendek itu unik, karena mungkin selalu jadi testing ground untuk film masa depan, namun memaksimalkan ide pendek dengan imajinasi tanpa batas lewat animasi selalu memberikan sense yang berbeda. Mungkin, di masa depan, teknik sinema seperti inilah yang akan diadopsi Pixar. Can’t wait for that.

TITLE: The Blue Umbrella GENRE: Animation | Short DIRECTOR: Saschka Unseld RATING: 

Share to your friends if you like it!

Categories: Movie Review

Leave a Reply