Her (2013)

Read Time:4 Minute, 41 Second

Di masa depan (yang tidak terlalu jauh), di mana TI dan fesyen aneh mulai berkembang, Her membawa kita mengikuti kisah Theodore Twombly (Joaquin Phoenix), sebut saja, Theo. Pribadinya rumit–ia bekerja di sebuah perusahaan yang mempekerjakan orang-orang untuk menulis surat pribadi, ia masih berkutat dalam proses perceraiannya yang tak kunjung usai dengan cintanya Catherine (Rooney Mara), dan ia kini tengah mencari koneksi dengan siapapun atau apapun.

Dalam keputusasaannya, Theo menginstall sebuah OS baru dengan artificial intelligence yang bersifat seperti manusia. Ia menginginkan OS-nya seperti wanita–yang akhirnya menamai dirinya “Samantha” (disuarakan oleh Scarlett Johansson). Awalnya, Samantha bertindak sebagai asisten Theo, tapi lama kelamaan, ia mulai terlibat hubungan dengan Theo–begitu juga sebaliknya. Pada akhirnya, terjadilah kisah cinta yang aneh–dan tak terbayangkan.

Sutradara, Spike Jonze seolah membangkitkan kembali dongeng zaman dahulu–tentang manusia yang jatuh cinta pada kreasinya sendiri; hanya saja, Her lebih simpatis. Berfondasikan kisah Theo dalam upayanya bangkit dari perceraiannya, Her merujuk pada titik nadir Theo yang akhirnya jatuh cinta pada Samantha. Berkencan dengan OS sangatlah irasional, tapi Theo benar-benar mendalaminya. Setiap percakapannya dengan Samantha terasa hangat dan intim; interaksi dengan OS ini bahkan lebih hangat daripada interaksinya dengan wanita asli. Interaksinya saat blind date dengan seorang wanita (diperankan oleh Olivia Wilde) sangat artifisial dan tidak natural. Seolah, yang ia butuhkan sebenarnya hanyalah teman yang pengertian dalam diri Amy (Amy Adams)–yang interaksinya mirip dengan Samantha. Terlihat jelas, hidup Theo sangat suram.

Phoenix sangat mengagumkan dalam memerankan Theo. Diamnya karakter Theo susah dimengerti–entah ia sedang menikmati sesuatu atau malah ia membenci sesuatu. Sementara itu, voice-acting Johansson juga sangat mengagumkan. Di layar, dia tak nampak; namun, kita bisa merasakan keberadaannya–memeluk, membelai, dan mencumbui Theo–membuat tokoh Theo terlihat makin rapuh. Penampilan Amy Adams juga mencuri perhatian dengan fisiknya yang nyaris tak terkenali. Dan… cameo suara Spike Jonze sangat lucu.

DoP Hoyte van Hoytema bersama editor Jeff Buchanan dan Eric Zumbrunnen membuat segalanya terlihat futuristik… namun lebih hangat–memaksimalkan naskah Jonze yang memenangkan golden globe. Her, lebih dari sekedar drama techno-romance (atau malah techno-phobic), Her adalah masa depan yang menggambarkan masa depan dengan cantik dan mengkhawatirkan (petunjuk: lihat arsitektur gedung yang ternyata disyut di China, lihat tatanan fesyen yang seolah kembali ke masa lalu, dan dengarkan melodi-melodi yang seolah kembali ke masa lalu).

Her mendramatisir kisah hidup seorang laki-laki rapuh dengan sangat keren… namun, menyedihkan. Namun, tech-rom-com ini mampu memberi kuliah tentang bagaimana caranya berinteraksi–secara artifisial maupun nyata. Dengan scoring yang menenangkan dari Arcade Fire, Her lebih dari sekedar keren.


6 responses

  1. Tri Fajar Avatar
    Tri Fajar

    Filmnya keren, bikin pingin punya OS1, kekasih yg tak nyata yg terasa begitu nyata. Benar2 paradoks.

    1. bandingkan aja obrolan Theo sama Samantha dibanding dia sama cewe2 lain. Ironis.

  2. Tri Fajar Avatar
    Tri Fajar

    Samantha terasa lebih pengertian. Dan terlalu jujur waktu ditanya berapa jumlah kekasihnya, padahal OS1 kan punya nama berbeda2 buat tiap kliennya dan endingnya terasa aneh, bukannya next step malah terasa back to zero.

    1. hahaha itu mungkin semacam self-indulgence yaa…
      jadi ya serasa “moksha” kalau di Buddhism (logika saya sih gitu) hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!