Sutradara Québéc, Denis Villeneuve sangat akrab dengan puzzle dan twist; namun caranya mengakrabkan diri dengan surrealisme nampaknya malah jadi sangat menarik. Adaptasi The Double karya José Saramago menurut versinya ini sangat terasa sangat: Kafkaesque. Cronenbergian. and Lynchian, at once.
Enemy menandai kolaborasi kedua Villeneuve dengan Jake Gyllenhaal setelah Prisoners. Enemy membuntuti Adam Bell (Gyllenhaal), guru sejarah yang kesepian; ia baru saja menyadari bahwa ia punya kembaran misterius dalam diri seorang aktor (yang juga diperankan oleh Gyllenhaal). Dipenuhi rasa penasaran, ia menyelidiki dan menguntit aktor ini, Anthony Cage. Tak ada yang lebih menyenangkan (dan membingungkan) selain terlibat dalam sebuah permainan kejar-kejaran antara 2 orang yang identik.
Gyllenhaal tampil sangat edgy dan mengesankan di Enemy. Memerankan 2 karakter dengan kepribadian yang bertolak belakang namun identik mungkin menjadi sangat tricky. Ber-chemistry dengan 2 partner yang sama bertolak belakangnya (Melanie Laurent dan Sarah Gadon) juga sama menyesatkannya. Namun, perannya di Enemy seketika mengingatkan saya akan perannya di Donnie Darko—muram, suram, dan tak tertebak. Tone film ini sangat mencekam—misterius di sepanjang film dan terus membisu tanpa dialog.
Dengan scoring yang mencekam dan, seringnya, polos, Enemy sangat mengancam. Puzzle-nya seolah-olah mencengkeram otakmu dan menebar laba-laba di sana (literally dan non-literally). Kombinasi shot jauh dan dinamisnya pun menambah kesan angker film ini—meskipun film ini tidak menakutkan.
Secara struktur, Enemy terasa seperti Mulholland Drive-nya David Lynch—terlebih adegan-adegan yang melibatkan strip club dan laba-laba. Interpretasi akan arti film ini terbuka lebar—namun, seperti mengurai jaring laba-laba yang kusut, mencoba mendekonstruksi film ini hanya akan membuka sudut pandang pencarianmu yang lain.
Teman saya di sini punya penjelasan yang unik tentang Enemy. Klik sini!

Leave a Reply