X-Men: Days of Future Past adalah proyek paling berani sekaligus ambisius dalam sejarah franchise X-Men. Setelah beberapa serri yang sedikit melenceng dari kisah orisinil X-Men, film ketujuh ini tidak hanya menampilkan sebuah sekuel spektakuler (tapi sekaligus juga prekuel dan sidequel), tapi juga penebusan dosa yang amat besat. Memanfaatkan kekuatan dari kisahnya sendiri—dengan menyeimbangkan porsi drama dan aksinya, menyeimbangkan para pemeran tua muda, serta menggunakan pace film yang cepat dan padat—film ini berhasil mengakomodasi tujuan utamanya.
Memang, DOFP bukan untuk awam—film ini bisa jadi keren hanya untuk fans komiknya maupun fans franchise film X-Men (termasuk X-Men trilogy, X-Men origins, First Class, and The Wolverine). DOFP berperan sebagai sekuel First Class, dan prekuel sekaligus sekuel X-MEn trilogi—time travel dan alternate timeline yang diusungnya memungkinkan timeline rumit ini terjadi. Dengan plot device ini, DOFP mencoba bereuni dengan pemeran dari semua film X-Men yang pernah ada lalu menjadikannya sebuah alat clean slate (sebut saja semi-reboot) bagi franchise yang sudah sedikit cacat ini. Seperti yang dikatakan Magneto-nya Ian McKellen di film, “We’re given a second chance,” hal itu mengacu pada situasi di filmnya sekaligus kesempatan kedua bagi eksistensi franchise ini.
Film dimulai dengan serangan Sentinel—robot shapeshifter yang bertujuan membunuh para mutant—di dunia post-apocalyptic. Kondisi ini tidak menguntungkan siapapun—termasuk rombongan Professor Xavier (Patrick Stewart) maupun Magneto (Ian McKellen)—karena kini semua mutant berada di ujung kepunahan. Untuk mengatasi hal ini, mereka bersatu untuk satu rencana pernuh resiko–mengirimkan seorang mutant ke masa lalu untuk memperbaiki sejarah, terutama untuk mencegah Mystique (Jennifer Lawrence) membunuh seorang ahli senjata Bolivar Trask (Peter Dinklage) pada tahun 1973. Dengan menggunakan kemampuan Kitty Pryde (Ellen Page) untuk mengirim kesadaran seseorang pada tubuhnya di masa lalu, maka hanya Wolverine (Hugh Jackman), dengan kemampuan regenerasinya yang mampu melakukannya.
Ternyata, berurusan dengan masa lalu bukanlah hal mudah; Wolverine harus menemukan Xavier muda (James McAvoy) serta Magneto muda alias Erik Lensherr (Michael Fassbender) untuk menghadapi Mystique. Menemukan Xavier sangat mudah, namun menemukan Erik sedikit rumit. Erik tengah dipenjara atas pembunuhan JFK—untuk itu, Wolverine, Xavier dan Beast (Nicholas Hoult) harus bekerja sama dengan Quicksilver (Evan Peters), yang berhasil menghadirkan adegan paling seru di film ini—sebuah homage sekaligus definisi ulang dari adegan “Bullet time” a la The Matrix. Namun, membebaskan Erik ternyata menimbulkan konsekuensi lain. Pada akhirnya, saat pride dan ideologi menjadikan konflik utama Xavier dan Erik lebih emosional dan mengakar, para sentinel telah menemukan persembunyian para mutant di masa depan.
Setelah film-film yang mengecewakan beberapa tahun belakangan, DOFP telah membuktikan bahwa separuh dari gaya lama Singer telah kembali. DOFP, secara elegan, berpondasikan ketegangan di mana-mana sehingga sulit bagi kita untuk menebak akhir cerita ini secara detail—inilah gaya yang mengingatkan kita pada karya Singer di masa lalu. Singer telah lebih akrab dengan materi franchise yang pernah 2 kali digarapnya ini, karena itulah ia mungkin lebih percaya diri dan teliti dalam merangkum semua dosa-dosa franchise ini dan memperbaikinya sekaligus dengan emosi film yang meledak-ledak. Tak diragukan algi, DOFP telah menjadi franchise superhero team-up paling ambisius yang pernah ada.
Yang membahagiakan lagi, film ini lebih menekankan pada pembangunan karakter daripada pameran aksi CGI yang belakangan ini menjadi makin tumpul. Terlebih lagi, CGI di film ini digunakan dengan sangat bijak; alih-alih menjadi atraksi utamanya, CGI justru hanya menjadi “kendaraan” musuh utama film ini, yaitu kematian. Selain itu, ada 2 karakter yang sangat menarik bagi saya—Wolverine dan Mystique. Memerankan Wolverine tujuh kali telah membuat Jackman hafal betul karakternya. Meskipun ini bukan Wolverine terbaiknya, tapi kehadiran karakter ini tetaplah penting—meskipun bukan jadi pusat perhatian, ia justru menjadi penyeimbang bagi semua karakter di film ini. Pusat perhatiannya teralihkan ke Mystique, yang untuk pertama kalinya tidak menjadi sidekick. Kehadirannya menghadirkan lompatan kuantum dahsyat yang mengacaukan “order” dengan “chaos” beruntun. Bagi Lawrence, perannya di DOFP jelas di bawah standarnya—tapi kehadirannya adalah nyawa sekaligus ancaman dalam film ini.
X-Men tentu saja punya ciri yang membedakannya dari franchise Marvel lainnya. Akibat ciri ini, membandingkan film ini dengan Avengers tentu saja tidak adil. Avengers menggabungkan beberapa film superhero Marvel untuk sebuah set-piece tim superhero yang memperluas semesta Marvel; DOFP menggabungkan ke-6 film X-Men hanya untuk me-reset semestanya. Ciri khas X-Men yang lain adalah caranya memanipulasi kejadian dan ikon dunia nyata; ciri ini terbukti mengakarkan ambisi X-Men sebagai sebuah “kritik sosial”. Mutant digambarkan sebagai kaum minoritas yang selalu ditindas dan didiskriminasikan dari masyarakat—namun, saat semua hal menjadi kacau, tentu saja tetap harus ada yang membenarkan apapun resikonya. Meskipun komik DOFP bukanlah tentang awal yang baru, film ini tetap diperlukan untuk sebuah awal baru.
TRIVIA: Ada satu post-credit scene yang pasti menarik untuk disaksikan. Anggap saja tentang En Sabah Nur (if you know what I mean).
TRIVIA: Di film ini ada mutant bernama Quicksilver alias Peter Maximoff yang diperankan Evan Peters. Mutant ini sebenarnya adalah putra Magneto (film ini juga memberi petunjuk tentang fakta ini). Quicksilver dan adiknya, Wanda alias Scarlet Witch, akan tampil lagi di The Avengers: Age of Ultron dengan peran lain, pemeran lain, serta hak cipta yang berbeda.
TRIVIA: Penyiksa Logan di X-Men Origins: Wolverine juga kembali muncul di film ini. Hanya saja ia kini lebih muda.
TRIVIA: Di X-Men: First Class, Wolverine bercameo dengan sumpah serapahnya. Di film ini, dia mendapat balasannya.
TRIVIA: Lewat film ini juga kita tahu bahwa salah satu Presiden AS juga mutant.
TRIVIA: Di ruang kerja Hank, ada sebuah layar yang menampilkan William Shatner dari serial Star Trek yang berkata, “We’re going backwards in time.” Kalimat yang berhubungan dengan film ini. Lucunya, Patrick Stewart juga pernah berperan di serial Star Trek.
TRIVIA: Sentinel memiliki kemampuan beradaptasi dengan kemampuan mutant, seperti Darwin di First Class dan Rogue. Di film, Sentinel beradaptasi dengan kekuatan Sunspot, Iceman, dan juga Collosus. Namun, kita juga bisa lihat Sentinel memakai kemampuan membeku Emma Frost dan cakar Lady Death Strike, meskipun mereka tak muncul di film.
TRIVIA: Di film ini juga, kita akan bisa melihat Scott Summers dengan istrinya lagi (Ups, coba lagi, Logan!)
TRIVIA: Lebih banyak Easter Egg ada di SITUS INI! Hati-hati spoiler.

Leave a Reply