The Fault in Our Stars (2014)

Read Time:6 Minute, 19 Second

 READ THIS REVIEW IN:

  


Diadaptasi dari novel sicklit John Green, The Fault in Our Stars adalah fenomena di era adaptasi novel Young Adult ini. Novelnya sendiri sudah menjadi sangat spektakuler bagi pembaca di seluruh dunia; dan rencana filming-nya sudah jadi rumor umum. Namun, seperti kebanyakan adaptasi novel YA lainnya, saya tak pernah ingin membaca novelnya—untuk menghindari bias saat saya menontonnya. Ternyata, cara itu berhasil, dan kini, tanpa bias, saya bisa berkata bahwa: The Fault in Our Stars lebih dari sekedar kisah romansa remaja melankolis yang dibumbui issue kanker—tanpa mengeksploitasi kankernya untuk memompa emosi, namun malah mengagungkan sudut pandang YOLO (You Only Live Once) para karakternya yang sakit-sakitan.

Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley), gadis dengan kanker Thyroid stadium akhir, menemukan mitra senasib dalam diri Augustus Waters (Ansel Elgort), pengidap kanker lain yang ditemuinya di suatu support group. Mereka berdua menjalin hubungan lewat berbagai film dan buku; hingga akhirnya terobsesi dengan An Imperial Affliction, novel karangan Peter van Houten (Willem Dafoe). Dalam perjalanan yang nampak too-good-to-be-true, Hazel dan Gus makin saling mempercayai, terlebih, mereka menemukan kepercayaan diri untuk menjalani sisa hidup mereka yang tak adil.

Keseluruhan film ini memiliki pancaran persona on-screen Augustus Waters—dengan optimisme karakternya tentang hidup, bukan untuk bisa sembuh, tapi untuk menjalaninya dengan sangat maksimal. Ceritanya memang punya semangat carpe diem yang selalu terasa hangat. Kalau kau berharap film akan membuatmu menangis karena kehilangan seseorang akibat kanker, kau salah—film ini justru terasa menyesakkan karena kita dapat merasakan kehilangan kesempatan untuk hidup optimis seperti karakternya. Film ini memang sedih, tapi tak benar-benar berakhir menyedihkan. Skrip cerdas dari Scott Neustadter & Michael H. Weber (500 Days of Summer dan The Spectacular Now) mampu mendeskripsikan persona itu dengan sentimental lewat dialognya yang kedengaran sehari-hari namun mudah menyangkut di ingatan.

Saya merasa ada ikatan pribadi dengan film ini, bukan karena ada kisah yang serupa atau terlibat dalam issue yang mirip. Namun, ada satu momentum dalam film ini membuat saya sedikit sentimental—momentum saat Isaac (Nat Wolff) menyampaikan eulogy-nya di hadapan Gus. Adegan kontemplatif itu mengingatkan saya akan suatu mata kuliah di universitas saya dulu; di mana kami harus mendapat eulogy dari orang-orang terdekat kami selagi kami masih hidup. Di momentum itulah, saya ikut berefleksi tentang apa yang sudah dan belum saya lakukan dalam hidup ini. Sick.

Meskipun ada ikatan pribadi dengan film ini, bukan berarti film ini sempurna bagi saya. Pasca paruh awalnya yang klimaks, paruh kedua film ini menjadi sangat lamban dan draggy. Beruntungnya, soundtrack pilihannya mampu ‘bercerita’ dengan sendirinya dan mampu membuat setiap momen hidup seperti halnya di Juno atau 500 Days of Summer (rasakan saja Boom Clap dari Charli XCX ini). Chemistry hangat Woodley dan Elgort (yang sebelumnya memerankan kakak-adik di Divergent) sukses menjadi monumen—presence mereka adalah kunci film ini (sekaligus penyelamat paruh keduanya).

Penampilan memukau Woodley dalam memerankan Hazel yang rapuh namun tegar tak hanya memperkaya acting range-nya tapi sekaligus menjadi kunci The Fault in Our Stars. Semoga para pembaca buku orisinalnya juga menyukai versi adaptasi ini; karena film ini, menurut saya (yang bukan pembaca), mampu menampilkan kompleksitas romansa remaja dengan issue kanker yang disajikan dengan segar dan plating yang sempurna (berisi drama dan fun—bukannya komedi).

3 responses

  1. […] The Fault in Our Stars | IMDB | Review |  […]

  2. Ferencvaros Avatar
    Ferencvaros

    I enjoyed every second of this movie. And Shailene Woodley is just establishing herself as an adaptation queen after The Spectacular Now, Divergent, and now this. Cant wait to see other John Green’s novels on screen.

    Regards

    1. I can’t agree more with you, bro 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!