Guardians of the Galaxy (2014)

Read Time:8 Minute, 51 Second

READ THIS REVIEW IN:

  


 Setiap tahun sejak launching-nya Marvel Cinematic Universe Phase 1 bersamaan dengan tayangnya Iron Man (2008) yang pertama, Marvel Studio tak pernah berhenti menghasilkan film-film superhero super mewah yang selalu sukses di box office. Pasca berakhirnya MCU Phase 1 dengan The Avengers (2012), anak buah Kevin Feige ini tetap mengencangkan barisannya dan berlari kencang lewat Phase 2-nya (Iron Man 3, Thor: The Dark World, Captain America: The Winter Soldier). Marvel mengambil alih pangsa film superhero pasca Trilogi The Dark Knight yang gelap dan gloomy dengan set-piece yang besar-besaran dan humor yang penuh energi. Uniknya, Marvel dengan berani memilih satu franchise yang justru tak banyak dikenal oleh fans—Guardians of the Galaxy, berdasarkan komik Dan Abnett & Andy Lanning, tentu adalah perjudian terbesar Marvel… yang ternyata sukses.

Perjudian ini ternyata berujung menarik semenarik tarian Peter ‘Star-Lord’ Quill (Chris Pratt) diiringi Awesome Mix Vol. 1 dari walkman-nya sebelum ia mencuri sebuah orb yang ternyata sebuah infinity stone (ingat Tesseract dan Aether)—yang juga diingini Ronan the Accuser (Lee Pace, Thranduil di The Hobbit) dan Thanos (tokoh di post-credit scene The Avengers, kini diperankan Josh Brolin). Si Star-Lord sesungguhnya adalah manusia bumi yang diculik ravager berkulit biru, Yondu (Michael Rooker dari The Walking Dead), untuk tinggal di galaksi lain.

Saat di Xandar, Quill terlibat dalam kericuhan dengan seorang pembunuh—Gamora (Zoe Saldana), rakun yang bisa bicara—Rocket (pengisi suara: Bradley Cooper), dan pohon hidup—Groot (pengisi suara: Vin Diesel) lalu berakhir di penjara. Hanya takdir antar galaksi-lah yang tahu bagaimana keempat berandalan itu bisa bersatu bersama Drax (Dave Bautista dari WWE) untuk menjadi titular anti-heroes kita. Dengan motivasi yang berbeda-beda, para guardians ini takkan menyerahkan orb tadi kepada Ronan dan anak buahnya, Nebula (Karen Gillan yang botak, dari Oculus).

Surprisingly, Guardians of the Galaxy nyaris tak menunjukkan koneksi langsung dengan film Marvel yang sebelumnya (kecuali Thanos dan Chitauri dari The Avengers; The Collector dan Dark Elf dari Thor kedua; serta Marvel stuff dari luar angkasa lainnya). Beruntung saya tidak mengharapkan ada Iron Man dkk di sini, karena kisah ini terjadi di sebuah galaksi nun jauh dari bumi—yang mirip seperti dunia Star Wars (menurut saya, Knowhere nampak seperti Mos Eisley sementara Xandar seperti Coruscant, jangan lupa makhluk-makhluk penuh warna lainnya). Yang jelas semua itu keren—dunia Guardians of the Galaxy dibangun dengan segala keindahan yang meskipun tidak natural, tapi sangat keren.

Saya suka semua set-piece action dan humor di film ini, terlebih yang melibatkan Groot. Seperti yang sudah saya bilang tadi, Guardians of the Galaxy adalah cerminan rencana Marvel dalam mengubah imej film superhero menjadi lebih ceria dan luwes, serta konyol—untuk mengcounter keseriusan The Dark Knight. Sutradara James Gunn, yang CV-nya diisi film body-horror Slither serta film superhero palsu Super, mampu membuat sebuah film anti-hero yang lucu dan segar sekaligus badass tanpa terlihat “kurang James Gunn.”

Kalau ada kelemahan dari film ini, tentu saja saya akan menunjuk para villain-nya. Seperti Malekith the Accursed di Thor kedua, Ronan the Accuser bukanlah ancaman nyata, apalagi Nebula. Keduanya tak sempat mengancam para guardians maupun Xandar. Sebenarnya Dark Aster milik Ronan punya potensi besar, namun cuma kelihatannya saja. Beruntung James Gunn menyimpan Thanos, kalau tidak ia bisa saja berakhir sama membosankannya seperti yang lain. Namun, berkat para villain-nya yang kurang menggigit, guardians kita jadi makin bersinar.

Akhirnya, keputusan Marvel, untuk menaruh gerombolan kriminal dari antah berantah di akhir MCU Phase 2, memang terbukti cemerlang. Surprisingly, Guardians of the Galaxy mampu mengancam hegemoni 2 franchise Marvel lain (dari studio lain—The Amazing Spider-Man 2 dan X-Men: Days of Future Past) dalam summer blockbuster tahun ini. Dengan 2 franchise yang luar biasa, jelas bahwa tahun ini adalah tahun istimewa bagi Marvel.


STOP DI SINI KALAU BELUM MENONTON FILMNYA!

TRIVIA: Ada sebuah post-credit scene yang melibatkan The Collector dan Howard the Duck—tokoh dari komik Marvel yang… entahlah.

TRIVIA: Di “Museum” The Collector, ada beberapa cameo dari komik Marvel maupun franchise lain. Saya cuma melihat secara langsung Carina, Cosmo the Space Dog, Howard the Duck, dan seorang Dark Elf.

TRIVIA: Saya juga melihat Stan Lee memerankan seorang tua yang dikatai “pervert” oleh Rocket. Ada juga saudaranya James Gunn, Sean Gunn (yang juga memerankan Rocket saat syuting—saya baca di majalah) memerankan rekan Ravager Yondu.

TRIVIA: Ada pernyataan “No raccoons or tree creatures were harmed in the making of this film” dalam credit film ini.

TRIVIA: Saya juga membaca artikel dengan informasi tentang Easter Egg Guardians of the Galaxy yang cukup lengkap DI SINI!

15 responses

  1. […] Guardian of the Galaxy | IMDB | Review |  […]

  2. Yusti Item Avatar
    Yusti Item

    Absolutely agree with you!! This movie is good.. 😀

    1. Good, like only good, Sir?

      1. Yusti Item Avatar
        Yusti Item

        from 1-10, i must say 8.5 for this movie… 😀
        pardon me for the incorrect vocabulary there…this movie should be great, good is not enough…
        Definitely will watch it again.. 😀

        1. Yeah, cant wait for the sequel on 2017 😀 Hopefully I’ll be as young as I’m now

  3. Tri Fajar Avatar
    Tri Fajar

    Keren nih film dan berasa tanpa beban aja karena tidak ada ekspetasi berlebih, maklum komiknya aja kan gak seterkenal komik marvel lainnya. Boleh dibilang MENGEJUTKAN KEREN.

    1. Sleeper-hit yang udah terprediksi 😉

  4. […] Soldier brought conspiracies involving S.H.I.E.L.D. and HYDRA into spotlight, then the penultimate, Guardians of the Galaxy was the wild horse; enough to call them the grittiest phase so far in the shared universe. […]

  5. […] finally approaching, not as an A-lister Marvel Superhero, not as anybody, but I saw it coming. Guardians of the Galaxy made it, why don’t I give Ant-Man a […]

  6. cek video ini, untuk lihat daftar koleksi museumnya The Collector (ada howard the duck, chitauri, alien bermata satu, dll) : https://www.youtube.com/watch?v=LR-VurhV8eo

  7. […] But, first let’s rewind to August in 2013, where I reviewed one of the best Danish movie ever made, The Hunt by Thomas Vinterberg; then to 2014, where I reviewed one of Marvel’s best punch-drunk hit, Guardians of the Galaxy. […]

  8. […] a little alienating. Be reminded that this is not the first time Kree race made appearances in MCU; Guardians of the Galaxy‘s big-baddie, Ronan the Accuser (Lee Pace), was an elite member of Kree’s cavalry. It […]

  9. […] surprise that Guardians of the Galaxy Vol. 2 falls flat in its attempt to live up the virtuoso of Marvel’s biggest gamble; what’s surprising: it still makes an awesome fun-tertaining space bravura centering on […]

  10. […] yang lebih lite. Dunia yang dihadirkan Ayer bagaikan hibrida nihilism a la Deadpool, keunikan Guardians of the Galaxy serta olok-olokan untuk Avengers (atau bahkan Justice League?). Kedengarannya memang sangar, […]

  11. […] Marvel’s irreverent humor. It’s a hybrid world of nihilistic spasms a la Deadpool, quirkiness of Guardian of the Galaxy and a mockery to typical hero-assemble trend. It sounds badass; it feels menacing; and it looks […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!