Share to your friends if you like it!

READ THIS REVIEW IN:

  

Dalam debut film panjangnya, sutradara Gary Shore mencoba untuk mengungkap sisi lain dari sang penghisap darah kesayangan literatur, Dracula. Namun, hasilnya bukan seperti adaptasi Bram Stoker lainnya, bahkan tokoh villain ini bukannya seperti reinkarnasi Béla Lugosi, atau Christopher Lee, atau Frank Langella, atau bahkan Gary Oldman. Shore dengan para penulisnya mengungkapkan kisah ‘untold‘ alias rahasia sang Dracula—dengan gaya Maleficent. Dracula Untold menabrakkan “sisi lain” sang Count Dracula alias Vlad Tepes dengan keindahan a ala Westeros (if you know what i mean).

Dracula Untold mengisahkan Vlad a.k.a Dracula (Luke Evans) sebagai produk pasukan pembunuh Turki yang memutuskan untuk kembali ke Transylvania dan memerintah dalam damai. Malapetaka baginya datang ketika “saudara angkatnya”, Mehmed II yang kini menjadi Sultan Turki (Dominic Cooper) meminta 1000 pemuda Transylvania untuk bergabung dalam pasukan Janissary. Sayangnya, jumlah itu termasuk juga putra Vlad, Ingeras (Art Parkinson dari Keluarga Stark). Untuk menyelamatkan rakyat, terutama keluarganya, Vlad membuat perjanjian darah dengan makhluk purba kala yang jahat (Charles Dance dari Keluarga Lannister). Namun, perjanjian dengan iblis memang bukanlah pilihan; demikianlah, kisah untold dari sang Dracula diceritakan dengan sentimental dan romantis.

Kisah ini mungkin tidak masuk akal; scriptnya sama sekali tidak memberi alasan kenapa kisah ini harusnya ‘untold‘. Plotnya jauh dari kata seram namun juga jauh dari kata romantis. Dracula terlalu fokus untuk meyakinkan bahwa kisah ini memang cukup cerdas untuk diikuti, namun lupa menggali kedalaman jiwa Vlad the Impaler.

Yang jelas, Dracula Untold bisa jadi sebuah pemuas dahaga bagi fans Game of Thrones. Film ini banyak memiliki persamaan dengan serial HBO itu (bukan di ranah konflik, tentunya). Production designnya terasa seperti King’s Landing-nya GoT lengkap dengan kostum dan aksesoris serta pemandangan medieval Eropa-nya. Para pemerannya malah lebih familiar lagi (coba cari Rickon Stark, Thoros of Myr, atau bahkan Tywin Lannister), ditambah lagi scoring dari Ramin Djawadi yang pastinya membuat penonton lupa akan Dracula dan bernostalgia dengan Westeros.

Kesimpulannya, Dracula Untold bukanlah suatu film yang buruk—tapi juga bukan film yang ‘bagus’. Dracula bukanlah Maleficent, dan treatment seperti Disney takkan berhasil untuk mengangkat sisi lain Dracula. Demi reputasi jahatnya, sebaiknya kisah ini memang sebaiknya jangan diceritakan. Case closed.

Share to your friends if you like it!

Categories: Movie Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *