READ THIS REVIEW IN:
Plot John Wick bisa digambarkan sesederhana ini: seorang pembunuh bayaran, John Wick, pensiun dari pekerjaannya lalu menikah. Lima tahun kemudian, istrinya meninggal. Dalam titik nadir hidup John, sekelompok berandalan mencuri ’69 Mustang-nya dan membunuh anjingnya. John marah besar dan pertumpahan darah baru saja dimulai.
Keanu Reeves menandai come-back-nya ke ranah film action (pasca Speed—lebih dari 20 tahun lalu; dan The Matrix—lebih dari satu dekade lalu) dengan penampilan yang intens, dan, keseruan a la B-movie yang brutal. John Wick menampilkan pesta CQC (pertarungan jarak dekat)—dengan fight scenes yang banyak, gun fu bravura yang wahid, diiringi soundtrack yang menggebu-gebu. Mantan stunt-double Reeves di The Matrix, Chad Stahelski, mengarahkan film ini dengan koreografi super dinamis/kinetis/menggemparkan yang memacu adrenalin. Tak perlu pakai otak untuk memperkaya plotnya (otaknya sudah berceceran akibat di tembak John Wick); dan tak perlu pakai istilah ‘moral’; karena John Wick hanya perlu balas dendam dan dia adalah penyuka over-kill.
Kesampingkan plot yang super tipis dan agak sulit dinalar ini (yang setipis plot The Raid: Redemption) apalagi genre-cliche-nya, karena John Wick lebih menawarkan adrenalin a la roller coaster dengan pacing yang ketat dan editing yang efektif. Antagonisnya—yang diisi jajaran mafia Game of Thrones (Michael Nyqvist dan Alfie Allen)—memang tidak lebih mengancam daripada John Wick; namun, penampilan singkat tapi padat dari Willem Dafoe, John Leguizamo, Ian McShane, serta David Patrick Kelly bersama skuad “food delivery“nya sudah lebih dari cukup untuk menambal kebocoran film ini.
Dengan banyaknya inside jokes dan rahasia yang belum terungkap, saya rasa kemungkinan John Wick dijadikan franchise sangatlah besar. Selama John Wick masih punya nyali, ia pasti masih bisa menghibur para action aficionado; dan selama penonton suka film-film Rambo-esque, penonton akan tetap tegang karena John Wick.

Leave a Reply